Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Sawah di Indramayu Tiga Hari Terendam Banjir, Petani Khawatir Tanaman Padi Mati

Nurul Hidayah    
30/1/2026 18:27
Sawah di Indramayu Tiga Hari Terendam Banjir, Petani Khawatir Tanaman Padi Mati
Areal persawahan di Kandunghaur, Kabupaten Cirebon, sudah tiga hari terendam banjir.(MI/NURUL HIDAYAH)

AREAL tanaman padi seluas 4.000 hektare di Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu masih tergenang air.

Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Kandanghaur, Waryono, Jumat (30/1) menyatakan tanaman padi yang terendam banjir tersebar di Desa Karanganyar, Girang Bulak,  Wirapanjunan, Pranti,  Wirakanan dan Karangmulya.

“Umur tanaman padi yang terendam air berkisar 10 hingga 25 hari,” tambahnya.

Bila tidak segera surut, dia yakin tanaman padi bisa mati hingga akhirnya terjadi gagal panen.

“Otomatis petani pun akan merugi dan harus melakukan tanam ulang,” tutur Waryono.

Padahal untuk tanaman padi yang berumur 10 hari hingga 25 hari sudah banyak modal yang dikeluarkan oleh petani. Rata-rata petani sudah mengeluarkan modal sekitar Rp 5 juta per hektare.

Jika tanaman padi mati, maka petani tidak hanya kehilangan modal tanam. Mereka juga harus mengeluarkan lagi  biaya untuk kembali tanam dan mundurnya musim tanam selanjutnya.

Persemaian

Waryono menjelaskan bahwa sudah tiga hari air  merendam areal persawahan di daerah mereka. Air tidak hanya berasal dari hujan yang terus mengguyur selama berhari-hari, namun juga merupakan kiriman dari Sungai Cipanas, Bendung Rentang serta Bendungan Jatiluhur.

Kini, areal persawahan sudah terendam gengan air berwarha cokelat. Areal persawahan sudah menjelma seperti sungai yang membentang dengan luas. Tanaman padi yang sudah ditanam nyaris tak terlihat karena tergenang air. Kalau pun ada yang terlihat, hanya ujung-ujung tanaman padi saja.

Petani di Desa Karangmulya, Kecamatan Kandanghaur, terlihat bergotong royong menahan limpasan air agar tanggul sungai jangan sampai jebol. Mereka memasang terpal pembatas pada tanggul agar bisa lebih menahan air dari sungai yang melimpas ke sawah.

“Inilah Kandanghaur. Seperti ini kondisinya, begitu memprihatinkan karena banjir semua,” tutur Waryono.

Sebelumnya diberitakan sebagian besar petani di Kecamatan Kandanghaur hampir menyelesaikan masa persemaian. Namun seiring dengan hujan yang semakin sering turun ditambah dengan luapan air sungai, areal persemaian padi yang sudah siap tanam terendam banjir dan kini sudah membusuk.

Petani pun harus melakukan persemaian ulang yang mengakibatkan mundurnya musim tanam. Padahal ditargetkan akhir Januari 2026 ini mereka sudah melakukan penanaman padi.

 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Sugeng
Berita Lainnya

Bisnis

Wisata
Kuliner