Headline

Pesan Presiden ialah efisiensi dimulai dari level atas.

Menwa bukan Sekadar Baris Berbaris, saat Para Senior tidak Dilupakan

Media Indonesia
17/3/2026 22:14
Menwa bukan Sekadar Baris Berbaris, saat Para Senior tidak Dilupakan
Resimen Mahasiswa Mahawarman Jawa Barat menyerahkan bingkisan kepada para senior(ISTIMEWA)


DI tengah hiruk pikuk arus mudik yang mulai memadati Kota Bandung, suasana berbeda justru terasa di Markas Menwa Mahawarman, Jalan Surapati, Selasa (17/3).

Bukan latihan baris-berbaris atau upacara formal, melainkan pertemuan hangat lintas generasi. Dari anggota muda hingga para sesepuh yang kini mulai renta.

Resimen Mahasiswa (Menwa) Mahawarman Jawa Barat memilih cara sederhana namun bermakna: menyalurkan bantuan sosial bagi para senior dan keluarga yang tengah menghadapi kesulitan ekonomi.

Bagi mereka, ini bukan sekadar agenda rutin, tapi cara menjaga ingatan bahwa organisasi ini berdiri di atas keringat dan pengorbanan generasi sebelumnya.

Komandan Menwa Mahawarman Jabar, Ali Budiman, yang tercatat sebagai alumni Institut Teknologi Bandung (ITB), menyebut banyak anggota lama kini telah memasuki usia lanjut. Sebagian hidup dalam keterbatasan.

Di antara penerima bantuan, terdapat pula warakawuri—istri anggota yang telah wafat—yang tetap menjadi bagian dari keluarga besar Mahawarman.

“Ini bentuk hormat kami. Ada alumni yang sudah berhasil, dan hari ini mereka berbagi kembali ke keluarga besar,” ujar Ali.

Awalnya, bantuan direncanakan diantar langsung ke rumah para penerima. Namun realita di lapangan berkata lain. Keterbatasan personel—karena sebagian anggota sudah lebih dulu mudik—ditambah kemacetan yang kian padat, membuat panitia memusatkan kegiatan di markas.

Alih-alih jadi kendala, keputusan ini justru menciptakan ruang temu yang jarang terjadi.

Para sesepuh yang hadir tampak berbincang akrab dengan anggota muda. Tidak ada jarak usia, yang ada hanya cerita—tentang masa latihan keras, dinamika kampus, hingga fragmen sejarah yang pernah mereka lalui bersama.


Organisasi besar


Di balik suasana kekeluargaan itu, tersimpan fakta menarik: Menwa Mahawarman bukan organisasi kecil. Setiap tahun, mereka merekrut sekitar 150 hingga 200 anggota baru.

Dalam satu dekade terakhir, jumlah anggota aktif mencapai 2.000 orang. Sementara total alumni diperkirakan menyentuh angka 4.000 hingga 5.000 orang.

Namun kekuatan Mahawarman bukan semata pada jumlah. Ada jejak sejarah panjang yang masih dijaga. Organisasi ini merupakan kelanjutan dari Tentara Pelajar Indonesia. Bagian dari denyut perjuangan bangsa di masa lalu.

Ali mengingatkan, pada 1964 Menwa resmi dibentuk sebagai respons situasi geopolitik, termasuk konfrontasi Dwikora. Bahkan, markas mereka di Jalan Surapati pernah menjadi saksi peristiwa genting saat gejolak G30S/PKI. Kala itu, Batalyon 1 dari ITB disebut mendapat persenjataan langsung dari Jenderal A.H. Nasution.

Kini, jejak sejarah itu tetap dirawat. Pataka Dhuaja, simbol warisan dari Tentara Pelajar, disimpan dengan ketat. Yang terlihat di markas hanyalah replika, sementara yang asli dijaga sebagai bukti perjalanan panjang organisasi.

Di usia ke-62 tahun, Menwa Mahawarman menunjukkan bahwa loyalitas tak berhenti saat masa aktif usai. Justru, di titik itulah solidaritas diuji.

Di tengah banyaknya organisasi yang sibuk membangun citra, Mahawarman memilih cara yang lebih sunyi. Merawat ingatan dan memastikan satu hal sederhana, tidak ada senior yang dilupakan.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Sugeng
Berita Lainnya

Bisnis

Wisata
Kuliner