Headline

Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.

Perajin Kue Jawadah Keranjang Khas Imlek di Tasikmalaya Banjir Pesanan

Kristiadi
09/2/2026 18:11
Perajin Kue Jawadah Keranjang Khas Imlek di Tasikmalaya Banjir Pesanan
Pekerja mengangkat kue keranjang setelah di kukus selama 12 hingga 15 jam di dalam oven tungku, selanjutnya disimpan. Perajin kue keranjang khas Imlek dikenal kue jawadah korang yang dilakukanya itu sebagai usaha turun temurun dan warisan nenek moyang menj(MI/Kristiadi)

PERAJIN kue khas Imlek yang dikenal dengan nama kue Jawadah Korang di Jalan Selakaso, Cihideung, Kota Tasikmalaya, mulai banjir pesanan dari berbagai daerah, termasuk dari non-Tionghoa. Kue Jawadah telah dirintis sejak tahun 1950 dan dilakukan secara turun temurun. 

Perajin kue keranjang, Mansen, 61, mengatakan jelang Tahun Baru Imlek setiap tahun keluarganya tetap memproduksi kue yang juga dikenal dengan nama dodol Cina itu untuk dijual kepada masyarakat, terutama penikmat dodol di wilayah Kota Tasikmalaya dan berbagai daerah lainnya. 

Kue keranjang yang diproduksinya masih memelihara resep warisan nenek moyang dengan memakai tepung beras ketan putih hingga gula pasir. 

"Pada Imlek tahun ini memproduksi kue tidak berbeda dari tahun sebelumnya dengan bahan baku sebanyak 1.000 kilogram atau 1 ton tepung beras ketan putih dan gula pasir yang diolah oleh lima orang pekerja. Pembuatan kue jawadah ini sama seperti memproduksi dodol, tapi selama perayaan Tahun Baru Imlek setiap tahun selalu tetap dipertahankan, meski perayaan imlek pada tahun adanya peningkatan," katanya, Senin (9/2). 

Mansen mengatakan, pesanan Kue Jawadah sejak tahun sebelumnya tetap menguntungkan. Penjualan meningkat sejak beberapa hari dibuka. Banyaknya pesanan membuat pekerja harus berupaya mengolah adonan. 

Usaha yang dilakukan memproduksi kue Jawadah dengan mempertahankan tradisi musim perayaan Imlek dan bersaing dengan perajin baru kue keranjang. 

"Produksi kue Jawadah tahun ini pembeli berubah dan mengalami kenaikan karena harga bahan baku berupa tepung beras ketan naik seharga Rp25 ribu/kg dan gula pasir Rp17.500/kg. Namun, jelang tahun baru masih tetap dipertahankannya meski meski harga bahan baku mahal," ujarnya.

Kue Jawadah dijual Rp40 ribu/kg semua ukuran dan tidak dijual satuan. Mansen pun menyebut usahanya selalu memelihara eksistensi warisan nenek moyang dan menjadi tambahan penghasilan rutin bagi keluarga. 

"Setiap Tahun Baru Raya Imlek 2026 selalu memproduksi kue keranjang yang dilakukan di rumah serta disebut Nian Gao atau dalam dialek Hokkian adalah Ti Kwe, terbuat dari dari bahan alami mulai tepung beras ketan dan gula pasir. Bagi masyarakat Tionghoa, kue keranjang salah satu hidangan wajib ada saat Tahun Baru Imlek dan kue Jawadah Korang membawa keberuntungan memiliki makna bahan tepung ketan putih, tekstur lengket, bahan baku persaudaraan begitu erat, rasa manis suka cita, kebahagiaan, terasa kenyal bentuk kegigihan hidup dan daya tahan cukup lama kesetiaan," paparnya.

Sementara itu, pekerja kue Jadawah, Aceng Wahyudi, 50, mengungkapkan pengolahan kue keranjang tahun baru imlek mengalami peningkatan hingga usaha rumahan banjir pesanan lantaran banyak pembeli datang ke warung Mensen atau keluarga Hom Sen. Produksi kue keranjang khas imlek setiap tahun selalu ada dan cara pengolahannya menyiapkan tepung beras ketan putih dan gula pasir. 

"Cara membuat kue keranjang atau dodol cukup menyiapkan bahan baku berupa gula pasir, tepung beras ketan putih, prosesnya diolah tambah air gula pasir secara merata. Selanjutnya, adonan dimasukan ke dalam keranjang yang dilapisi plastik bening dan bahan baku 1 kg membagi satu, dua, tiga, empat ukuran, di kukus selama 12 hingga 15 jam, setelah matang diangkat disimpan supaya dingin, plastik dipotong hingga siap dijual," pungkasnya. (AD/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya

Bisnis

Wisata
Kuliner