Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Awal Tahun, Kasus DBD di Kota Sukabumi Turun Signifikan

Benny Bastiandy
27/2/2026 18:07
Awal Tahun, Kasus DBD di Kota Sukabumi Turun Signifikan
Kelurahan Tipar, Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi dan puskesmas setempat melaksanakan fogging untuk mencegah penyebaran kasus DBD.(MI/BENNY BASTIANDY)

KASUS demam berdarah dengue (DBD) di Kota Sukabumi, Jawa Barat, cenderung turun memasuki awal tahun ini. Padahal, kondisi cuaca cukup ekstrem yang biasanya memicu berkembangbiaknya jentik nyamuk Aedes Aegypti.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Sukabumi, Denna Yuliavina, menjelaskan pada Januari dilaporkan terjadi 54 kasus DBD. Jumlahnya turun signifikan dibandingkan periode yang sama pada 2025.

"Sepanjang tahun lalu tercatat ada sekitar 1.017 kasus DBD dengan satu kasus kematian. Dirata-ratakan, pada tahun lalu setiap bulan itu terdapat 84 kasus. Tahun ini, khususnya sepanjang Januari, terdapat 54 kasus DBD dengan nol kasus kematian. Jadi, bisa disimpulkan, jumlah kasusnya cenderung menurun," ujarnya, Jumat (27/2).

Berdasarkan data statistik, 54 kasus DBD sepanjang Januari tahun ini kejadiannya tersebar di 7 kecamatan. Wilayah paling banyak temuan DBD berada di Kelurahan Cisarua Kecamatan Cikole sebanyak 7 kasus.

Kemudian di Kelurahan Karangtengah Kecamatan Gunungpuyuh sebanyak 6 kasus dan di Kelurahan/Kecamatan Baros sebanyak 6 kasus.

"Berdasarkan data, ada 11 dari 33 kelurahan di Kota Sukabumi yang nol kasus," tuturnya.

Denna menuturkan, angka bebas jentik sepanjang Januari di Kota Sukabumi mencapai 97,4%. Artinya, angka perkembangbiakan jentik nyamuk relatif sangat kecil.

"Angka bebas jentik pada Januari di atas target nasional sebesar 95%," ungkapnya.

Sejauh ini, sebut dia, pejangkitan DBD rentan menyerang kalangan anak-anak. Dinkes mengajak orangtua dan pengelola lembaga pendidikan berperan mencegah DBD, melalui penerapan 3M plus yaitu menguras dan menutup tempat air, serta mendaur ulang berbagai barang yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti.

"Cara efektif memberantas DBD dengan PSN (pemberantasan sarang nyamuk). Cukup efektif dan efisien karena murah dan mudah. Biasanya melakukan bersih-bersih secara berkala seminggu sekali dengan 3M Plus. Kalau fogging merupakan upaya terakhir dari pencegahan DBD,” jelasnya.

Selama ini, Dinkes Kota Sukabumi sudah memiliki program bernama 'Gerakan 1 Rumah 1 Juru Pemantau Jentik (Jumantik)'. Keberadaan Jumantik diharapkan bisa mencegah perkembangbiakan sarang nyamuk di permukiman warga.

"Gerakan ini juga kami terapkan di lingkungan perkantoran. Mudah-mudahan dengan berbagai upaya yang dilakukan, kita bisa mencegah pejangkitan DBD," pungkasnya.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Sugeng
Berita Lainnya

Bisnis

Wisata
Kuliner