Headline

Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.

Dosen ITB Kembangkan Mikroalga untuk Penangkapan Karbon dan Mitigasi Perubahan Iklim

Naviandri
02/2/2026 19:41
Dosen ITB Kembangkan Mikroalga untuk Penangkapan Karbon dan Mitigasi Perubahan Iklim
Dosen dan peneliti Kelompok Keahlian Biokimia dan Rekayasa Biomolekul, FMIPA Institut Teknologi Bandung (ITB), Alfredo Kono(MI/NAVIANDRI)

DOSEN dan peneliti Kelompok Keahlian Biokimia dan Rekayasa Biomolekul, FMIPA Institut Teknologi Bandung (ITB), Alfredo Kono menilai mikroalga dapat menjadi solusi berbasis alam untuk mitigasi perubahan iklim.

Mikroalga memiliki kemampuan alami menangkap karbondioksida (CO2) melalui fotosintesis dan mengonversinya menjadi biomassa, sehingga berpotensi menjadi alternatif solusi cepat di tengah urgensi krisis iklim global.

"Indonesia memiliki keunggulan strategis karena karakter geografisnya sebagai negara maritim sekaligus kawasan cincin api. Kondisi tersebut menyediakan habitat mikroalga dengan mekanisme adaptasi ekstrem yang jarang dimiliki negara lain," terangnya.

Menurut Alfredo, eksplorasi mikroalga ini dilakukan di berbagai lokasi, mulai dari laut tropis hingga kawasan vulkanik di Jawa Barat (Jabar), seperti Kawah Kamojang, Talaga Bodas di Garut dan Kawah Domas Tangkuban Parahu. Dari kawasan tersebut, tim peneliti berhasil mengisolasi dan mengidentifikasi mikroalga merah Galdieria sulphuraria yang mampu hidup pada kondisi ekstrem dengan tingkat keasaman sangat tinggi.

"Salah satu keunggulan utama mikroalga adalah kecepatan pertumbuhan dan efisiensi penggunaan lahan. Mikroalga lebih cepat untuk fotosintesis optimal, sekitar satu sampai dua hari, daripada pohon yang memerlukan waktu bertahun-tahun untuk bisa bertumbuh dan memiliki daun," jelasnya.

Alfredo pun memeberkan mikroalga dapat dibudidayakan dalam sistem tertutup seperti tangki, sehingga memungkinkan implementasi di berbagai lokasi, termasuk kawasan perkotaan dan industri, tanpa memerlukan lahan luas. Salah satu yang membuat dia powerful adalah ukurannya yang kecil tapi kemampuan penangkapannya bisa jauh lebih tinggi dari tanaman yang ada di darat.


Ekonomi sirkular berbasis bioteknologi

 

Selain untuk penyerapan karbon, Alfredo menekankan pentingnya pendekatan ekonomi sirkular sehingga CO yang ditangkap dapat diubah menjadi biomassa bernilai ekonomi tinggi. Produk turunan mikroalga mencakup lipid untuk biofuel, pigmen untuk industri kosmetik, serta karbohidrat unik yang berpotensi dikembangkan di bidang farmasi dan kesehatan.

"Sebagai bentuk hilirisasi riset, tim ITB juga mengembangkan konsep phototank atau “pohon cair” yang memanfaatkan mikroalga sebagai sistem pembersih udara dalam ruangan, yang estetik menyerupai furnitur dan memperindah interior," imbuhnya.

Dia menekankan pentingnya data kuantitatif untuk memastikan kapasitas mikroalga dalam menyerap CO dapat dijadikan rujukan kebijakan berbasis sains. Pihaknya sedang menghitung seberapa banyak mikroalga ini menangkap CO2 dengan peralatan yang sudah ada.

Suatu saat ia berharap ini bisa menjadi standar. Data tersebut yang bekerja sama dengan UGM, diharapkan dapat mendukung pemerintah dalam perumusan kebijakan iklim, termasuk skema pajak karbon.

"Saya optimistis Indonesia dapat memitigasi perubahan iklim melalui teknologi dalam negeri. Kekayaan biodiversitas lokal dinilai telah menyediakan solusi yang relevan. Untuk itu, dalam pengembangan mikroalga sebagai solusi iklim, diperlukan kolaborasi sains dasar, rekayasa, industri dan kebijakan agar riset dapat bertransformasi menjadi inovasi yang berdampak luas bagi masyarakat," tandasnya.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Sugeng
Berita Lainnya

Bisnis

Wisata
Kuliner