Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Plt Bupati Bekasi Ingin Segerakan Pembangunan Turap Baja di Sungai Citarum

Anton Kustedja
29/1/2026 21:41
Plt Bupati Bekasi Ingin Segerakan Pembangunan Turap Baja di Sungai Citarum
Tanggul Sungai Citarum di Kecamatan Muaragembong yang jebol mengakibatkan banjir ke permukiman warga.(MI/ANTON KUSTEDJA)

PEMERINTAH Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, berencana mengajukan kepada pemerintah pusat terkait pembangunan 'steel sheet pile' (SSP) atau turap baja sebagai tanggul permanen di sepanjang bantaran Sungai Citarum.

"Saya akan mengajukan ke pusat, saya ingin seperti yang di Kalimalang, namanya SSP," kata Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja di Cikarang, Kamis (29/1).

Dia mengatakan, pihaknya tengah memproses rancang bangun rinci atau detail engineering design (DED) turap baja di bantaran Sungai Citarum. Infrastruktur itu diharapkan bisa dibangun di 3 kecamatan yakni Muaragembong, Pebayuran, dan Cabangbungin.

"Saat ini tercatat ada 5 titik tanggul di wilayah Muaragembong dan 4 titik di Pebayuran serta Cabangbungin masuk kategori kritis," ujarnya.

Asep berharap pembangunan turap berbahan dasar baja sebagai tanggul di lintasan itu mampu mencegah maupun meminimalisasi dampak bencana ketika debit air Sungai Citarum meningkat.

Hingga saat ini, Pemkab Bekasi terus menjalin koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Citarum (BBWSC) untuk memperbaiki tanggul kritis sebagai upaya penanganan sementara.

"Saya sudah bicara dengan BBWSC, anggaran sudah disiapkan. Kita ingin dilakukan secepat mungkin untuk langkah preventif, pencegahan, jangan sampai nanti jebol lagi," tandasnya.


Kondisi tanggul\

 

Sementara itu, Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan pada BBWSC Jaya Sampurna menjelaskan kondisi air di hilir tampak besar meski kiriman dari hulu kecil yang dipicu curah hujan ekstrem maupun aliran sungai yang tertahan oleh air laut.

"Mungkin karena hujan besar di kawasan ini, selain itu ada banjir rob yang menahan laju air. Sehingga walaupun air di hulu kecil, tetapi di sini kelihatan besar," ujarnya.

Dia mengaku penanganan tanggul di wilayah Kecamatan Muaragembong terbilang kompleks. Selain curah hujan tinggi, banjir rob dari laut menahan aliran sungai ke muara, sehingga permukaan air tetap tinggi.

Berdasarkan data teknis, meski aliran dari Jatiluhur kecil, debit air di Kedung Gede tercatat 730 meter kubik per detik. Kondisi ini diperparah oleh karakteristik tanah aluvial setempat.

"Tanah aluvial itu berasal dari endapan sehingga penanganannya harus ekstra. Kita harus menghitung pengaruh rob dan mensimulasikan agar turap permanen bisa andal," ujarnya.

Jaya menyebut kondisi tanggul kritis di wilayah Muaragembong sudah terjadi sejak awal Januari 2026 ditandai sejumlah titik mengalami jebol dengan luas area bervariasi mulai 10-20 m serta tingkat kerawanan sedang hingga tinggi.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Sugeng
Berita Lainnya

Bisnis

Wisata
Kuliner