Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Hari Ibu, Pemkot Bandung Dinilai belum Berpihak pada Perempuan

Sugeng Sumariyadi
22/12/2025 18:34
Hari Ibu, Pemkot Bandung Dinilai belum Berpihak pada Perempuan
Talkshow Hari Ibu di Bandung mengkritisi pemerintah kota yang belum memberikan perhatian besar pada perempuan dan anak(MI/SUMARIYADI)

KEBERPIHAKAN Pemerintah Kota Bandung terhadap perempuan di wilayahnya jadi pertanyaan besar. Indikasinya, dalam 5 tahun berturut-turut wilayah ini menjadi kota yang paling tidak aman untuk anak dan perempuan.

Fakta itu terungkap dalam Talkshow Hari Ibu bertema Ibu Tangguh, Negeri Tumbuh: Merayakan Perempuan yang tidak Pernah Menyerah. Kegiatan digelar Jurnalis Lifestyle dan Bisnis di Hotel ARTOTEL Suites Aquila Bandung, Senin (22/12).

"Kejadian kekerasan terhadp perempuan dan anak di Kota Bandung paling tinggi dibanding daerah di sekitarnya. Dari seluruh peristiwa kekerasan yang terjadi, 90% korbannya ialah perempuan," ungkap Sri Mulyati, aktivis perempuan dari Sapa Institute.

Dia mengaku prihatin dengan kondisi itu, di tengah peringatan Hari Ibu. Seharusnya Pemerintah Kota Bandung memberikan ruang aman dan nyaman untuk perempuan.

Tidak hanya Kota Bandung, Sri Mulyati juga mengungkapkan bahwa kasus kekerasan perempuan dan anak di Jawa Barat juga yang tertinggi secara nasional.

 

Aturan tertinggal

 

Dari sisi aturan, Pemerintah Kota Bandung juga tertinggal dari daerah tetangganya, Kabupaten Bandung. Daerah ini sudah memiliki banyak kebijakan terkait dengan perlindungan perempuan dan anak.

Ada juga aturan terkait pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap perempuan. Yang terbaru, Pemerintah Kabupaten Bandung juga melengkapi diri dengan aturan soal tindak pidana perdagangan orang, khususnya perempuan.

"Pemkot Bandung tidak memiliki. Ini jadi PR. Saya hanya ingin mengingatkan jika Bandung ingin memiliki ibu tangguh, mereka butuh ruang aman," tandasnya.

Dari sisi layanan umum, Sri juga menyebutkan Pemkot Bandung masih mengabaikan kebutuhan perempuan. Di dalam angkutan kota, misalnya, banyak kasus kekerasan menimpa perempuan. Jumlahnya bisa 3 kali lipat dibandingkan pria.

"Sebagian besar penumpang angkot memang ibu-ibu. Angkot dipilih karena lebih murah dari angkutan online. Untuk itu, kami menuntut Pemkot Bandung wajib menciptakan layanan publik yang aman untuk perempuan," tegasnya.

Talkshow juga diisi tiga narasumber lain, yakni Dewi Ayu Wulansari, seorang penggerak UMKM; Eva Fitri Yeni, Head of Marketing Communication Departement PT Eigerindo MPI dan Husnita, akademisi di Telkom University.

Ketiganya memaparkan kondisi terkini peran perempuan dalam dunia usaha, rumah tangga dan dunia pendidikan. Mereka sepakat tantangan masih terbentang bagi perempuan Indonesia, meski sudah banyak perubahan yang terjadi.

 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Sugeng
Berita Lainnya

Bisnis

Wisata
Kuliner