Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Open House Observatorium Bosscha 2025, Soroti Dampak Polusi Cahaya

Depi Gunawan
23/11/2025 18:05
Open House Observatorium Bosscha 2025, Soroti Dampak Polusi Cahaya
Warga mengikuti open house Observatorium Bosscha 2025 di Lembang, Kabupaten Bandung Barat(MI/DEPI GUNAWAN)

RATUSAN warga meramaikan acara Open House Observatorium Bosscha 2025 di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, dengan tema "Menata Cahaya, Menjaga Bumi".

Acara yang berlangsung selama satu hari tersebut menyoroti meningkatnya polusi cahaya di kawasan Bandung Raya yang dinilai dapat mengganggu proses pengamatan benda langit di Observatorium Bosscha.

Kegiatan ini dihadiri sekitar 450 tamu undangan, terdiri dari warga sekitar, pedagang, unsur pemerintahan, akademisi, hingga mitra kolaborasi lembaga.

"Open house tahun ini difokuskan pada upaya edukasi mengenai bahaya dan dampak polusi cahaya terhadap astronomi dan lingkungan. Kami berharap masyarakat sekitar lebih teredukasi mengenai maraknya polusi cahaya di kawasan Lembang," kata ketua panitia, Luthfiandari, Minggu (23/11).

Selain itu, acara ini juga dirancang untuk memperkenalkan dunia astronomi kepada masyarakat, mulai dari proses penelitian hingga upaya menjaga kualitas langit malam.

"Kami ingin mengenalkan bagaimana astronom bekerja dan bagaimana observatorium menjaga langit tetap gelap. Anak-anak juga kami ajak bermain sambil belajar tentang polusi cahaya," tambahnya.


Lima rekomendasi


Bupati Bandung Barat, Jeje Richie Ismail menyatakan komitmennya menata penggunaan cahaya buatan di kawasan Lembang demi mengurangi polusi cahaya yang semakin mengganggu aktivitas penelitian astronomi di Observatorium Bosscha.

Dia menyebutkan ada lima rekomendasi yang akan disusun bersama tim teknis, antara lain memilih warna cahaya warm, membatasi waktu penggunaan lampu sorot hingga pukul 22.00 WIB, dan memastikan arah cahaya tidak mengarah ke atas.

"Setelah regulasi penataan cahaya berjalan, Bosscha harus makin sering dibuka untuk umum. Edukasi dan wisata ilmiah harus diperkuat," jelasnya.

Menurut Jeje, dampak polusi cahaya masih belum dipahami masyarakat luas, sehingga diperlukan edukasi dan aturan yang jelas agar penggunaan cahaya di malam hari tidak berdampak pada kegiatan pengamatan bintang.

"Bosscha bukan hanya kebanggaan Bandung Barat, tetapi aset nasional yang harus dilestarikan. Polusi cahaya yang memancar ke atas sangat mengganggu observasi astronomi dan berbahaya bagi lingkungan," tuturnya.

Sementara, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB, Irwan Meilano mengungkapkan, peningkatan intensitas cahaya buatan sejak tahun 1990-an menyebabkan kualitas langit malam di Lembang menurun signifikan.

"Polusi cahaya yang tidak terkendali bisa mengurangi kualitas observasi, mengganggu satwa malam, dan mengikis identitas Lembang sebagai kawasan wisata ilmiah," ungkapnya.

Dia menambahkan, penataan cahaya bukan berarti mematikan aktivitas ekonomi, melainkan memastikan penggunaan cahaya sesuai fungsi. Selain itu, pembatasan cahaya juga penting bagi kesehatan manusia dan kelestarian satwa malam.

"Jika polusi cahaya dapat dikendalikan, kualitas pengamatan akan kembali meningkat. Lingkungan hidup juga terjaga," tambah Irwan.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Sugeng
Berita Lainnya

Bisnis

Wisata
Kuliner