Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
SEORANG petani milenial sekaligus pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mampu mengolah kopi arabika hingga menyebar ke penjuru Tanah Air, bahkan ke mancanegara seperti Jepang.
Berasal dari Kampung Buni Hurip, Desa Sukapada, Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya, di usianya yang masih muda, memiliki daya pikir lebih luas dan menjadi tantangan tersendiri bagi Dani Muhamad Yasin, 31, untuk membuka usaha.
Sebelum menyelesaikan sekolah di SMK Cijangkar, Kecamatan Ciawi, pada tahun 2011, ia sudah terjun sebagai pengelola lahan kopi lahan milik Perhutani seluas 4 hektare. Tidak hanya digarap seorang diri, lahan itu juga digarap oleh warga setempat. Upayanya mengelola lahan kopi itu juga tidak lain untuk membantu kedua orangtuanya.
Sebagai petani muda yang masih belajar cara pengembangan lahan kopi Arabika, tak lain harus tetap membutuhkan ketekunan, bekerja keras supaya usahanya tidak gagal di tengah jalan. Namun, ketekunan, bekerja keras masih belum berbuah manis lantaran alat yang dimilikinya belum maksimal saat itu.
Pengolahan lahan kebun kopi yang digarap butuh perjuangan, kesabaran, ketekunan guna mencapai harapan masa depan dan memberikan aroma bagi penikmat kopi di Indonesia maupun luar negeri. Berbagai rintangan dihadapi mulai menanam pohon, memetik biji kopi, menjemur, dan mengolah secara manual.
Deni mengatakan, lahan kebun kopi arabika yang digarapnya hanya ada di luas 1 hektare milik orangtuanya. Ayahnya merupakan petani dan sudah lama tinggal di Kampung Buni Hurip, hidup sederhana, tetapi semangat menghidupi keluarganya sangat luar biasa. Dani secara tekun mengelola lahan kopi tidak lain bersama istrinya, Yanti Wimarti, 30, hanya untuk menghidupi keluarga.
"Kedua orangtua kami memang selama itu bersusah payah menghidupi keluarga dan itu dilakukan dengan mengolah lahan kopi arabika secara mandiri dilakukan di lahan seluas 1 hektare. Pengelohan lahan kebun kopi yang berjalan, hasilnya produksi juga makin meningkat lantaran dibantu petani lain hingga beberapa peralatan sejak saat itu satu persatu diperoleh," katanya, Kamis (6/11).
Sebelum menjadi petani kopi awalnya ia hanya membantu orangtua mengangkat karung berisi buah kopi, memetik buah dan menjemur hingga upaya tersebut terus berlanjut setelah pulang sekolah. Pengolahan lahan yang digarap orangtua pada waktu itu, memanfaatkan lahan milik perhutani dan ditanami bibit kopi di luas 1 hektare dengan 3.300 batang pohon di tahun 2011.
Sejak tiga tahun berjalan mengeloh lahan perkebunan kopi arabika bersama ayahnya adanya perubahan, karena bertambahnya hasil panen dan pada tahun itu, ayahnya Dedi, 50, meninggal secara tiba-tiba hingga lahan yang telah digarap menjadi tanggung jawabnya. Tidak hanya itu, pukulan bertubi-tubi seolah juga mendera Dani. jarak 2 bulan ditinggal sang ayah, ibunya Wiwin Widaningsih, 44, juga meninggal untuk selamanya. Perjalanan itu menjadi tantangan bagi dirinya, dan di tahun 2016 lahan garapan bertambah seluas 4 hektare.
"Kami mengikhlaskan kedua orangtua yang mana sebelum meninggal memang pernah berbicara, tolong lahan kopi ini dilanjutkan dan digarapnya, demi masa depan nanti. Karena usaha kopi yang digarap dapat menunjang semua kebutuhan dasar bagi keluarga tapi wasiat yang diberikan itu ternyata akhir perjalanan bagi keduanya," ujarnya.
Mengolah lahan kopi di lahan Perhutani yang dikelolanya semakin meningkat. Bertambahnya jumlah pohon yang ditanam di tahun 2016 seluas 4 hektare, termasuk ada pemberdayaan masyarakat semula 5 hektare kini menjadi 26 hektare. Pohon kopi arabika yang telah ditanam dari sekian ribu tanaman harus mengeluarkan modal sebesar Rp300 juta, berbagai macam kopi tersedia mulai pirates java, trikopi, ateng pucuk hijau, dan lainnya.
Kini ia telah menggaet 100 orang petani senior maupun milenial dengan di antaranya 30 orang berusia rata-rata 35 tahun ke bawah. Namun, berbagai upaya yang dilakukannya itu masih kurang, terutama dari sisi peralatan. Semisal saat ini ia masih meminjam mesin sangrai. Selain itu, sekarang ini sudah memiliki mesin roasting kapasitas 3 kg, mesin espresso, mesin grinder, mesin saset.
Selain menjadi petani muda dan mengelola lahan, dirinya memberanikan diri membuka usaha berupa warung kopi arabika merek Coffee Bunar, dan Tenjo Bumi Kopi. Banyak peminat datang sambil mengikuti pameran serta mengenalkan kepada lapisan masyarakat dilakukan oleh pemerintah daerah seperti Jayantara, Kota Tasikmalaya, Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Bali, dan Semarang.
Dani mengatakan, hasil panen dari lahan yang digarap oleh petani bisa mencapai 260 ton dan dalam 1 tahun terdapat dua kali panen. Pengolahan pun dilakukan secara mandiri mulai dari kupas, giling, kupas basah, kering hingga mengalir bantuan dari Bank Indonesia (BI) Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.
Dalam pengolahan kopi Arabika tersebut, permintaan sudah banyak yang datang. Tapi ia dan petani lainnya kewalahan karena keterbatasan modal serta alat. Pesatnya perkembangan usaha kopi tersebut juga berkat bantuan beberapa kali mengikuti pameran yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia (BI) di Jakarta. Pameran tersebut berhasil memperkenalkan produk kopi kepada masyarakat luas. Terutama karena kelebihan konsumsi kopi Arabika yang lebih aman di lambung.
Dalam mengelola lahan kopi, sejumlah peralatan panen harus disiapkan, mulai dari mesin pemanen buah kopi, mesin pembersih buah kopi, mesin pengupas kulit, mesin pengering, mesin sortir, hingga mesin sangrai. Dari lahan seluas 30 hektare, hasil panen dapat mencapai lebih dari 260 ton setiap musim. Hasil tersebut kemudian dipasarkan ke berbagai daerah, antara lain ke sejumlah kafe di Bandung sebanyak 50 kilogram, ke Jakarta 100 kilogram, dan ke Jepang 100 kilogram per bulan.
"Untuk satu kali pengiriman kopi Arabika yang dilakukan tergantung permintaan antara 3-6 kuintal dan memang harga jualnya mengalami kenaikan antara Rp 40 ribu hingga Rp 65 ribu per kilogram. Akan tetapi, petani di Kampung Buni Hurip saat panen yang sangat dinanti-nantikan karena semua disibukkan dengan mengurus buah kopi mulai dari memetik, menjemur, dan memasarkan lantaran musim kemarau menjadi berkah bagi petani dan kalau hujan turun pengeringan kopi ada keterlambatan," katanya.
Menurut Dani, proses pengolahan biji kopi Arabika dilakukan dalam beberapa tahap untuk menjaga mutu dan kualitas agar menjadi produk unggulan yang digemari para pencinta kopi. Ia menjelaskan, terdapat dua metode utama dalam budidaya dan pengolahan kopi, yakni pengolahan basah dan kering. Tujuan utama dari pengolahan tersebut adalah menurunkan kadar air biji kopi hingga 9-12 persen, karena kadar air yang tinggi dapat memengaruhi sifat dan karakteristik biji akibat kondisi lingkungan.
Kopi Arabika hasil panen banyak dijual dalam bentuk kemasan bubuk dengan merek Coffee Bunar. Selain itu, Dani juga membuka warung kopi untuk memasarkan produknya, yang kini banyak diminati konsumen. Kegiatan penjualan ini diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat setempat, sejalan dengan tekadnya untuk memenuhi wasiat orangtua agar menjadi pengusaha sukses.
"Penanaman kopi Arabika yang selama ini dilakukannya melalui sistem pagar dengan target produksi mencapai 5 ton per hektare dan jarak antar tanaman sekitar 1 meter tiap baris memiliki jarak 2,5 meter supaya produksi petani semakin meningkat dan menambah pendapatan petani. Panen kopi Arabika merupakan keberhasilan dan jerih payah para petani Kampung Buni Hurip, Desa Sukapada, Kecamatan Pagerageung," paparnya.
Ia menambahkan, proses penjemuran biji kopi sebelum menjadi bubuk harus melalui beberapa tahap untuk menurunkan kadar air sehingga proses sangrai menjadi lebih mudah dan cepat. Kegiatan tersebut dilakukan oleh kelompok pemberdayaan masyarakat dengan menggunakan berbagai alat tradisional seperti tampah (tampir) dan gribik (widik). Penjemuran biasanya dilakukan selama 20-30 hari sambil sesekali membalik biji kopi hingga benar-benar kering.
"Penggilingan menjadi bubuk biji kopi yang sudah disangrai maksimal dan selanjutnya digiling agar menjadi bubuk, prosesnya itu dilakukan menggunakan mesin khusus hingga disimpan pada tempat yang tepat, supaya kualitasnya tetap terjaga. Proses packing kopi yang bubuk bisa dimasukan ke dalam plastik aluminium, menyimpan di ruangan suhu 20 derajat agar aromanya tetap terjaga," katanya.
Upaya pengembangan usaha kopi terus dilakukan. Pada tahun 2020, beberapa pegawai Dinas Pertanian melakukan pengecekan lahan perkebunan kopi yang telah ditanam. Pemeriksaan tersebut mencakup pengolahan lahan, pengembangan, produksi, hingga pemasaran, serta diikuti dengan pelatihan Wirausaha Baru (WUB) agar petani dapat naik kelas.
Kegiatan WUB yang diselenggarakan oleh Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat memberikan inspirasi bagi para petani. Melihat luasnya hamparan kebun kopi dan potensi besar yang dimiliki, para peserta semakin termotivasi untuk mengembangkan pengelolaan lahan dan memperbaiki strategi produksi agar hasilnya maksimal.
Usaha pengembangan kopi Arabika yang dikelola Dani kini semakin maju berkat dukungan program pemberdayaan masyarakat. Meski pelatihan dilakukan secara otodidak, kegiatan ini membuat usaha semakin berkembang. Namun, petani masih menghadapi kendala, terutama saat musim hujan karena proses penyaringan dan pengeringan hasil produksi menjadi lebih lambat.
"Kami masih berupaya melakukan usaha agar bisa berhasil meski persoalan yang selama itu dilakukannya telah menginjak 8 tahun hingga hasil produksi melimpah sangat banyak. Upaya tersebut masih terus dilakukan meski, kami ikut sosialisasi pengujian dan sertifikasi mutu barang agro di Bandung diselenggarakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan hingga berhasil mendapat sertifikat sebagai petani milenial," pungkasnya. (AD/E-4)
Penguatan UMKM harus dimulai dari komitmen pemerintah daerah sendiri melalui kebijakan belanja yang berpihak kepada pelaku usaha lokal.
Pengemudi dum truk melarikan diri setelah insiden kecelakaan.
Dari 2.772 kios di pasar itu, masih tersisa 1.772 kios yang bertahan berjualan.
Pelaku mengincar harta benda milik korban yang merupakan mantan Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Keberhasilan program pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada kebijakan di tingkat kota, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif dari kelurahan hingga RW.
Penerimaan pajak dari sektor pariwisata tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan sektor pertambangan yang hanya menyumbang Rp3,073 miliar.
Kepercayaan masyarakat terhadap gerakan filantropi harus bersinergi dan dimanfaatkan untuk bersama-sama mewujudkan kemakmuran masyarakat
Pendidikan karakter harus ditonjolkan, untuk membentuk budaya baik bagi generasi masa depan.
GUNA mendorong kemandirian para ibu rumah tangga, Yayasan Indonesia Setara (YIS) bersama Rumah Zakat menggelar Pelatihan Tata Boga Pembuatan Talam Singkong dan Muffin Pisang.
Pemerintah daerah selama ini terus mendorong kawasan objek wisata agar menjadi primadona bagi para pelancong, baik dari dalam maupun luar daerah.
Masalah terbesar Kota Bandung saat ini adalah sampah. Setiap hari ada sekitar 1.500 ton timbulan sampah baru. Ini tidak mungkin dibiarkan begitu saja.
PIP sangat membantu untuk memenuhi kebutuhan sekolah anaknya, mulai dari tas, sepatu, seragam hingga buku pelajaran.
Petugas PT Kereta Api Indonesia sudah menawarkan untuk pengembalian bea pembelian tiket atau menukar jadwal keberangkatan
Serangan hama terjadi di lahan sawah yang berada di Kampung Pasirangin, Babakan, Pasirmalaka, Pasirkunci, dan Pasirsasaungan.
Rekayasa pola operasi tersebut dilakukan karena kondisi genangan air menyebabkan kelambatan perjalanan kereta api yang sangat tinggi
Kegiatan ini diikuti oleh 2.500 peserta yang terdiri dari prajurit TNI, Polri serta masyarakat umum
Upaya tersebut dilakukan untuk menghidupkan kembali nilai sejarah sekaligus mendorong pemanfaatan budaya sebagai kekuatan pembangunan daerah.
Kehadiran ratusan alumni menjadi bukti bahwa semangat persaudaraan masih terjaga dengan kuat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved