Headline

Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.

Pemkab Sukabumi Tetapkan Status Tanggap Darurat Pergerakan Tanah

Benny Bastiandy
08/3/2026 18:48
Pemkab Sukabumi Tetapkan Status Tanggap Darurat Pergerakan Tanah
BPBD Kabupaten Sukabumi melakukan pendampingan trauma healing bagi kalangan anak-anak penyintas pergerakan tanah di Kecamatan Bantargadung.(MI/Benny Bastiandy)

PEMERINTAH Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menetapkan status tanggap darurat bencana pergerakan tanah di Kecamatan Bantargadung. Kondisi tersebut menyusul dampak bencana yang cukup masif di dua desa hingga merusak hampir ratusan bangunan rumah.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sukabumi, Eki Radiana Rizki, mengatakan status tanggap darurat bencana ditetapkan melalui SK Bupati Sukabumi Nomor 300.2.1/Kep 246-BPBD/2026. Penetapannya berlaku selama 7 hari terhitung 4-10 Maret 2026.

"Penetapan status ini bertujuan untuk mempercepat penanganan darurat dan mempermudah akses koordinasi antarinstansi di lapangan," kata Eki didampingi Manager Pusdalops BPBD Daeng Sutisna, Minggu (8/3).

Pergerakan tanah di Kecamatan Bantargadung terjadi di Desa Bantargadung dan Bojonggaling. Kondisi itu bersamaan meningkatnya intensitas curah hujan sejak Rabu (4/3).

Data sementara hasil asesmen cepat hingga Sabtu (7/3), korban terdampak pergerakan tanah di Desa Bantargadung dan Bojonggaling sebanyak 134 kepala keluarga yang dihuni 475 jiwa. Dari jumlah itu, sebanyak 120 kepala keluarga atau 407 jiwa harus mengungsi.

Di Desa Bantargadung, terdapat 33 KK atau 107 jiwa yang mengungsi secara mandiri, 1 KK atau 5 jiwa mengungsi dengan cara mengontrak rumah, dan 76 KK atau 250 jiwa mengungsi di tenda-tenda pengungsian di dekat puskesmas setempat. Sementara di Desa Bojonggaling terdapat 10 KK atau 45 jiwa yang mengungsi di rumah keluarga mereka. 
 
Sementara itu terdapat 114 unit bangunan rumah yang rusak terdampak pergerakan tanah. Rinciannya terdiri dari 70 unit rumah rusak berat, 26 unit rumah rusak sedang, dan 18 unit rumah rusak ringan.

Rumah rusak berat paling banyak berada di Desa Bantargadung sebanyak 61 unit dan di Desa Bojonggaling 9 unit. Rumah rusak sedang terdiri dari 19 unit di Desa Bantargadung dan 7 unit di Desa Bojonggaling. Sedangkan rumah rusak ringan terdiri dari 10 unit di Desa Bantargadung dan 8 unit di Desa Bojonggaling. 

"Terdapat juga sembilan rumah dalam kondisi terancam di Desa Bojonggaling. Selain itu, bencana juga menimbulkan dampak terhadap aktivitas di Pondok Pesantren Haryadul Fallah serta satu akses jalan lingkungan," terang Eki.

Posko tanggap darurat

Di sekitar lokasi telah didirikan Posko Tanggap Darurat Bencana. Keberadaannya untuk mengoordinasikan berbagai bantuan serta penanganan dan pelayanan kepada para penyintas.

"Selama masa tanggap darurat bencana, kami di lapangan fokus menangani korban terdampak, pemenuhan kebutuhan dasar, pelayanan kesehatan, perlindungan kelompok rentan, serta pemulihan sarana dan prasarana yang rusak," pungkasnya.

Masyarakat terus diimbau meningkatkan kewaspasaan terhadap potensi bencana susulan. Sebab, intensitas curah hujan masih cukup tinggi dengan interval waktu lama. (BB)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Reynaldi
Berita Lainnya

Bisnis

Wisata
Kuliner