Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Memimpin di Tengah Dinamika, Farhan Pilih Perkuat Layanan Dasar di Kota Bandung

Naviandri
04/3/2026 17:03
Memimpin di Tengah Dinamika, Farhan Pilih Perkuat Layanan Dasar di Kota Bandung
Wali Kota Bandung Muhamad Farhan.(MI/NAVIANDRI)

SATU tahun lalu, 20 Februari 2025, Muhammad Farhan dilantik sebagai Wali Kota Bandung, masa jabatan 2025-2030. Waktu yang tidak panjang untuk menuntaskan seluruh persoalan kota yang kompleks, tetapi cukup untuk belajar, mendengar dan menentukan arah.

Bandung adalah kota dengan energi besar, kreativitas tinggi, sekaligus ekspektasi publik yang tidak pernah kecil.

"Dalam setahun terakhir, saya melihat bagaimana warga Bandung menyampaikan harapan, kritik, bahkan kekecewaan mereka, baik secara langsung maupun melalui ruang digital. Semua itu saya terima sebagai bagian dari demokrasi kota yang hidup," ungkap Farhan.

Sejak awal, ia berkomitmen menjaga agar ruang bagi warga menyampaikan pendapat, termasuk kritik, tetap terbuka. Tugas pemerintah adalah memastikan suara-suara itu tidak berhenti di keluhan, tetapi dijawab dengan perbaikan nyata.

"Dari berbagai isu yang mewarnai perjalanan satu tahun ini, saya belajar bahwa memimpin Bandung tidak cukup dengan gagasan besar atau program yang terdengar menarik. Yang paling dirasakan warga justru hal-hal yang hadir setiap hari, sampah yang terkelola, jalan yang tertata, parkir yang lebih manusiawi, ruang publik yang kembali ramah, serta pelayanan publik yang responsif," tambahnya.

Kritik yang disampaikan warga, ungkap dia, hampir selalu berangkat dari pengalaman nyata dalam keseharian mereka. Karena itu, dia memilih untuk tidak memandang kritik sebagai ancaman, melainkan sebagai pengingat bahwa kehadiran pemerintah harus benar-benar terasa dalam kehidupan warga.

Menurut Farhan, pengalaman sehari-hari itulah yang juga membentuk cara warga memandang kebijakan kota, termasuk ketika Bandung kerap disebut sebagai kota event. Julukan ini tidak sepenuhnya keliru.

Event menggerakkan ekonomi, memberi ruang ekspresi budaya dan menarik wisatawan.

Farhan memahami kritik yang menyertainya, kemacetan, sampah pasca-acara, hingga pertanyaan tentang manfaat jangka panjang bagi warga. Karena itu, ke depan, setiap event di Kota Bandung harus memenuhi standar yang lebih jelas.

"Tidak cukup hanya ramai, tetapi harus berdampak. Dampak ekonomi harus terukur, keterlibatan UMKM harus nyata dan tanggung jawab lingkungan harus menjadi bagian dari perencanaan. Dengan pendekatan ini, event tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan kualitas hidup warga," jelasnya.


Pengelolaan sampah


Di sisi lain, Farhan juga mencermati isu seperti sampah, tata kota dan ruang publik yng mungkin tidak selalu menjadi berita utama, tetapi inilah wajah pemerintahan yang paling dekat dengan keseharian masyarakat.

Dalam satu tahun ini, ia mulai menata ulang pendekatan pengelolaan sampah, memperbaiki infrastruktur dasar dan merevitalisasi ruang publik agar kembali menjadi milik bersama.

"Saya tidak akan mengatakan bahwa semua persoalan telah selesai. Belum. Namun arah kebijakannya jelas. Bandung harus nyaman dihuni sebelum indah dipromosikan. Kota ini tidak boleh hanya ramah bagi pengunjung, tetapi juga adil bagi warganya sendiri," tandasnya.

Farhan menyebut, tahun pertama kepemimpinan ini juga menjadi pengingat bahwa membangun kota tidak pernah lepas dari ujian. Di tengah kerja-kerja pembangunan dan pelayanan publik, kepercayaan masyarakat diuji oleh berbagai dinamika yang menyentuh aspek etika dan integritas pemerintahan.

Dalam situasi seperti ini, pemerintah tidak boleh bersikap defensif, tetapi juga tidak boleh gegabah.

"Prinsip yang dipegang sederhana, menghormati proses hukum, menjaga akuntabilitas institusi dan memastikan pelayanan kepada warga tetap berjalan tanpa gangguan. Integritas pemerintahan tidak ditentukan oleh absennya masalah, melainkan oleh cara kita bersikap ketika masalah itu muncul," tandasnya.


Bersedia dikoreksi


Farhan menegaskan, kepercayaan publik tidak bisa dibangun dengan retorika. Ia tumbuh dari keterbukaan dan konsistensi. Karena itu, pihaknya berupaya memperkuat transparansi, termasuk dalam pengelolaan anggaran daerah dan pengambilan keputusan publik.

Pemerintah kota tidak boleh alergi terhadap pertanyaan. Di era digital, kepercayaan dibangun lewat data, penjelasan yang jujur dan kesediaan untuk dikoreksi.

"Saya memilih kata “merawat” untuk menggambarkan arah kepemimpinan Kota Bandung. Kota bukan sekadar kumpulan proyek, melainkan ruang hidup bersama. Merawat berarti memperhatikan yang kecil, mendengar yang lemah dan memperbaiki yang rusak, sedikit demi sedikit tetapi konsisten," sambungnya.

Satu tahun pertama, bagi Farhan adalah fase belajar dan menata fondasi. Tahun-tahun berikutnya harus menjadi fase mempercepat, dengan komitmen pada layanan publik yang manusiawi, lingkungan yang lestari, ekonomi yang inklusif dan tata kelola yang bersih.

Bandung tidak akan pernah selesai oleh wali kota dan jajaran pemerintah saja. Kota ini hidup dan bergerak karena warganya.

Karena itu, dirinya mengajak seluruh warga Bandung untuk terus terlibat, mengawasi dan menjaga kota ini bersama-sama. Satu tahun ini bukan tentang klaim keberhasilan, melainkan tentang tanggung jawab untuk terus belajar.

"Bandung yang kita cintai bukan hanya warisan, tetapi titipan bagi generasi berikutnya. Tugas kita hari ini adalah merawatnya bersama agar Bandung benar-benar tumbuh sebagai kota UTAMA, unggul dalam kualitas hidup, terbuka dalam tata kelola, amanah dalam kepemimpinan, terus bergerak maju, dan tetap berpijak pada nilai-nilai keagamaan yang hidup di tengah warganya," tegas Farhan.

 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Sugeng
Berita Lainnya

Bisnis

Wisata
Kuliner