Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

Pasca-Tragedi, Reborn Indonesia Nyalakan Harapan di Garut, Sumbang Buku dan Kacamata

Sugeng Sumariyadi
26/2/2026 15:41
Pasca-Tragedi, Reborn Indonesia Nyalakan Harapan di Garut, Sumbang Buku dan Kacamata
Reborn Indonesia menyumbangkan buku dan kacamata untuk siswa SD di Kabupaten Garut.(ISTIMEWA)

KASUS bunuh diri siswa sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur  karena tak memiliki alat tulis, membuat Reborn Indonesia bangkit. Komunitas pesepeda motor itu bergerak.

Kamis (26/2), rombongan motor memasuki halaman SDN 3 Sindangsuka, Kecamatan Cibatu, Garut. Deru mesin memecah sunyi, namun yang mereka bawa bukan kebisingan—melainkan kepedulian.

Tanpa karpet merah. Tanpa seremoni panjang. Kardus-kardus berisi ratusan buku tulis dan perlengkapan sekolah diturunkan langsung ke halaman. Anak-anak berdiri memandangi dengan mata yang sulit menyembunyikan harap.

“Hari ini kami datang bukan untuk terlihat hebat. Kami datang karena satu anak saja yang putus asa karena tak punya alat sekolah, itu terlalu banyak,” ucap Baba, Founder Reborn Indonesia.

Kalimat itu menggantung di udara, menyisakan keheningan yang dalam.
Ketika buku-buku baru dibagikan, senyum perlahan merekah. Ada yang memeluknya erat. Ada yang langsung membolak-balik halamannya. Bagi mereka, itu bukan sekadar kertas—itu rasa dihargai.

Lalu suasana berubah. Halaman sekolah yang sederhana mendadak riuh. Reborn Indonesia mengajak siswa bermain sambil belajar. Kuis cepat, tebak-tebakan cerdas, tantangan membaca, hingga permainan edukatif membuat anak-anak berebut maju. Tawa meledak saat doorprize diumumkan. Sorakan kecil bergema setiap kali nama dipanggil.

Hari itu, sekolah terasa hidup. Bukan oleh bangunan megah, tapi oleh energi dan semangat.

Di sisi lain, kegiatan kemanusiaan tak berhenti pada anak-anak. Para guru dan warga sekitar mendapatkan pemeriksaan kesehatan gratis.

Tekanan darah dicek, konsultasi dilakukan. Bahkan kacamata baca dibagikan kepada yang membutuhkan. Seorang guru tampak berkaca-kaca saat mencoba kacamata barunya—tulisan di buku absen yang semula kabur kini tampak jelas kembali.


Momen kecil penuh makna


Kepala sekolah, Suherman, menyebut aksi ini sebagai bukti bahwa kepedulian tak selalu datang dari institusi besar. Kadang, ia lahir dari komunitas yang memilih untuk tidak tinggal diam.

Reborn Indonesia mungkin tak bisa menghapus tragedi yang telah terjadi. Tapi di Garut hari itu, mereka menunjukkan bahwa duka bisa dijawab dengan aksi. Bahwa solidaritas bisa lebih nyaring daripada suara mesin. Bahwa harapan bisa tumbuh, bahkan di halaman sekolah sederhana.

Di SDN 3 Sindangsuka, buku-buku baru menjadi simbol perlawanan terhadap keputusasaan. Kacamata baca menjadi jendela yang kembali membuka masa depan. Tawa anak-anak menjadi bukti bahwa harapan masih hidup



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Sugeng
Berita Lainnya

Bisnis

Wisata
Kuliner