Headline

Faktor penyebab anak mengakhiri hidup bukan tunggal.

Pemkab Kuningan Serius Tangani Kematian Ikan Dewa

Nurul Hidayah    
05/2/2026 21:24
Pemkab Kuningan Serius Tangani Kematian Ikan Dewa
Bangkai ikan dewa yang ditemukan mati mendadak di Kabupaten Kuningan.(MI/NURUL HIDAYAH)

PEMERINTAH Kabupaten Kuningan memastikan penanganan kematian ikan dewa secara massal dilakukan serius.

“Fenomena ini harus ditangani secara serius, strategis, komprehensif, dan terukur. Kita bertindak berdasarkan data yang akurat, bukan asumsi,” tutur Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar, Kamis (5/2).

Dia mengaku telah meminta kepada perangkat daerah terkait untuk segera menyusun dan mengeksekusi langkah lanjutan untuk menghindari kematian ikan yang semakin  banyak. Diantaranya dengan menyediakan kolam karantina, evaluasi serta normalisasi sirkulasi air masuk dan keluar, serta kajian teknis kemungkinan pengurasan kolam dan pemulihan ekosistem Balong Keramat.

Sejumlah aspirasi dari masyarakat akan dikaji lebih lanjut oleh perangkat daerah teknis sesuai kewenangan dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan.

Sementara itu Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Kuningan A Taufik Rohman, menyampaikan, kematian ikan mulai terpantau sejak 29 Januari 2026 dan terus meningkat hingga hari ketujuh.

“Hasil pengamatan di lapangan mencatat jumlah ikan mati mencapai 305 ekor,” tuturnya.

Dijelaskan Taufik,  gejala klinis yang ditemukan antara lain ikan tampak lemas dan pasif, terdapat luka kemerahan pada tubuh, insang pucat hingga memutih, serta sisik mudah terlepas.

“Pemeriksaan lapangan juga menemukan adanya infestasi cacing jangkar pada kulit, insang, dan rongga mulut ikan,” katanya.

Penanganan

Selanjutnya sebagai penanganan awal, tim teknis Diskanak bersama pihak terkait telah melakukan pengangkatan dan pemusnahan ikan mati secara aman dan isolasi ikan yang menunjukkan gejala sakit. Selain itu juga melakukan stabilisasi kualitas air melalui pergantian air bertahap dan penyesuaian pH, pemberian garam krosok dan tumbuhan daun kipahit, serta pompanisasi untuk membantu sirkulasi air.

Adapun rekomendasi lanjutan meliputi pengurasan dan pengeringan kolam untuk memperbaiki kualitas air tercemar, perbaikan sumber air masuk (inlet) dan air keluar (outlet) guna menjaga stabilitas debit air sekaligus sirkulasi alami kolam. Mereka juga melakukan pengelolaan kualitas air secara berkelanjutan melalui pengecekan rutin parameter air, serta pembangunan kolam karantina di sekitar Balong Girang Cigugur.

Sementara itu, Ketua LPM Kelurahan Cigugur, Aang, menyampaikan dugaan kematian ikan berkaitan dengan terganggunya ekosistem kolam akibat pendangkalan, tertutupnya sirkulasi air, serta tertimbunnya sumur alami yang selama ini menjadi sumber oksigen dan area berkembang biak ikan.

“Masyarakat berharap Balong Keramat dikembalikan ke fungsi alaminya dan pemulihan dilakukan dengan melibatkan warga,” tandasnya.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Sugeng
Berita Lainnya

Bisnis

Wisata
Kuliner