Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Menteri PPA Sebut Perempuan di Pengungsian Longsor Cisarua Alami Trauma Berpengaruh

Naviandri
26/1/2026 12:54
Menteri PPA Sebut Perempuan di Pengungsian Longsor Cisarua Alami Trauma Berpengaruh
Tim SAR gabungan mencari korban longsor di Bandung Barat.(MI/Naviandri )

PEREMPUAN dari kalangan ibu di pengungsian korban longsor Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengalami trauma berpengaruh. Hal ini disampaikan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi, saat melakukan komunikasi dengan warga terdampak longsor di kantor Desa Pasirlangu yang dijadikan posko utama.

"Kami berbicara dengan ibu-ibu terlihat sekali mereka mengalami trauma yang sangat berpengaruh, kalau dilihat dari cara berbicara. Kita akan berkoordinasi bagaimana layanan psikososial trauma healing ini bisa kita lakukan bersama sama untuk memberikan penguatan kembali," ungkapnya, Senin (26/1).

Arifatul menuturkan akan mengoordinasikan dan berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk memberikan rasa aman dan nyaman para pengungsi di posko. Apalagi posko pengungsian diisi oleh mayoritas ibu-ibu, anak-anak, lansia, hingga ibu hamil.

"Kami memastikan bahwa seluruh yang berada di pengungsian sementara ini tetap mendapatkan rasa aman, khususnya perempuan anak anak lansia dan juga disabilitas, perempuan yang menyusui dan mengandung atau hamil,” tuturnya.

Pantauan di lokasi, trauma healing dilakukan oleh petugas terhadap anak-anak di selasar masjid desa. Raut riang gembira terlihat terpancar dari belasan anak yang mengikuti trauma healing. Sementara itu Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian meminta agar area longsor tidak lagi dibangun rumah dan dijadikan kawasan permukiman.

“Sebaiknya ini tempat jangan ditempati lagi, direboisasi, ditanam tanaman yang akarnya keras, agar struktur tanahnya bisa menguat kembali, kalau kembali akan longsor lagi, ini jadi pelajaran bagi daerah lain,” terangnya.

Tito mengungkapkan bencana di kawasan perbukitan seperti di Kecammatan Cisarua mirip dengan di daerah lain yang belakangan terjadi seperti di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat.Di daerah perbukitan seperti ini ketika struktur tanahnya itu lembut berpasir apalagi, tanahnya saya lihat gembur, subur di satu sisi untuk tanaman, tapi di sisi lain rawan.

“Saat ini pemerintah tengah fokus pada pencarian korban yang diduga masih tertimbun tanah dan penanganan bagi pengungsi di posko. Yang pertama jangka pendek dulu, semaksimal mungkin untuk mencari korban yang hilang, dibantu keluarganya, yang direlokasi juga sudah dibantu saya lihat, dari gubernur bupati dan lain-lain. Kemudian jangka panjang mereka harus direlokasi, dapat tempat yang baik, aman, kerjaan mereka dibantu,” tambahnya.

Dari data Polda Jabar, hingga hari kedua longsor, ada 105 warga yang terkonfirmasi dilaporkan hilang. Data tersebut meliputi 82 masyarakat sipil dan 23 TNI. Jumlah kantung jenazah yang diterima oleh Tim DVI ada 25 kantung. 

Dari 25 kantung jenazah, 11 di antaranya telah teridentifikasi dengan nama-nama sebagai berikut:

  1. Suryana, laki-laki, 57 tahun, masyarakat;
  2. Jajang Tarta, laki-laki, 35 tahun, masyarakat;
  3. Dadang Apung, laki-laki, 60 tahun, masyarakat;
  4. Nining, perempuan, 40 tahun, masyarakat;
  5. Nurhayati, perempuan, 42 tahun,
  6. Lina Lismayanti 43 tahun
  7. M Kori, laki-laki, 30 tahun, (Potongan tubuh berupa tangan).
  8. AI Sumarni 35 tahun
  9. Koswara 40 tahun
  10. Koswara 26 tahun
  11. Ayu Yuniarti 31 tahun.

(AN/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya

Bisnis

Wisata
Kuliner