Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

1.000 Pedagang di Pasar Cikurubuk Tasikmalaya Gulung Tikar, Pemkot Carikan Solusi

Kristiadi
19/1/2026 18:50
1.000 Pedagang di Pasar Cikurubuk Tasikmalaya Gulung Tikar, Pemkot Carikan Solusi
Sejumlah kios di Pasar Cikurubuk, Tasikmalaya, ditutup dan ditinggalkan pemiliknya.(MI/KRISTIADI)

PEMERINTH Kota Tasikmalaya berencana melakukan diskusi mencari solusi terkait 1.000 pedagang sandal dan pakaian di Pasar Cikurubuk, Kecamatan Mangkubumi, gulung tikar. Upaya itu dilakukan sebagai bentuk perlindungan ekonomi bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra mengatakan, pihaknya mendapat laporan 1.000 pedagang di Pasar Cikurubuk gulung tikar. Untuk itu, mereka harus segera dicarikan solusi.

Laporan yang sama menyebutkn, dari  2.772 kios di pasar itu,  masih tersisa 1.772 kios yang bertahan berjualan.

"Kewenangan ada di Wali Kota Tasikmalaya. Kami sudah mencoba berdiskusi dengan melaksanakan FGD bersama Sekretaris Daerah, Asisten Daerah Perekonomian dan pembangunan (Asda 2), Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan, dan Bappelitbangda untuk menemukan solusi atas masalah ini," katanya, Senin (19/1).

Diky mengatakan, solusi harus segera dicarikan agar pedagang yang gulung tikar tidak bertambah. Hanya saja untuk mendapatkan solusi dibutuhkan kajian retribusi, sistem pembuatan informasi dan pembelajaran program digitalisasi, promosi, dan pemantapan infrastruktur secara bertahap sesuai kemampuan anggaran.

"Kami berharap diskusi dilakukan secara sistematis dan terarah membahas masalah 1.000 kios pedagang gulung tikar segera mendapat solusi. Hasil diskusi akan diserahkan kepada pimpinan untuk dipelajari. Jika cocok akan dijadikan program untuk perlindungan ekonomi serta UMKM bagi pedagang pasar," ujarnya.

Sementara itu, Kepala UPTD Pasar induk Cikurubuk, Deri Herlisana mengatakan, bersaingnya pasar modern dan penjualan melalui media sosial menyebabkan 1.000 pedagang sandal dan pakaian gulung tikar.
Kekosongan kios terjadi pada 2020 hingga 2026. Penyebabnya, pembeli sangat minim di era digitalisasi.

"Kami masih terus melakukan verifikasi di lapangan. Sudah seribuan yang terdaftar gulung tikar. Tapi jumlah tersebut kemungkinan bertambah. Kami melarang pemilik kios memasang tulisan kios dijual, karena statusnya milik pemerintah daerah," pungkasnya.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Sugeng
Berita Lainnya

Bisnis

Wisata
Kuliner