Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Wali Kota Bandung Fokus Bangun Sistem Pengelolaan Sampah Jangka Panjang

Naviandri
18/1/2026 19:00
Wali Kota Bandung Fokus Bangun Sistem Pengelolaan Sampah Jangka Panjang
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengeluhkan masalah penanganan sampah(MI/NAVIANDRI)

WALI Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan persoalan sampah saat ini menjadi tantangan terbesar yang dihadapi Kota Bandung dan mendapat pengawasan ketat dari pemerintah kota.

Di depan tamu Pagelaran Seni Wanda Sunda Sabtu (17/1), dia mengungkapkan dalam beberapa hari terakhir dirinya harus terus berada di lapangan untuk memastikan pengelolaan berbagai persoalan kota, khususnya sampah, dapat ditangani secara serius dan terukur.

Masalah terbesar Kota Bandung saat ini adalah sampah. Setiap hari ada sekitar 1.500 ton timbulan sampah baru. Ini tidak mungkin dibiarkan begitu saja.

"Penanganan sampah tidak bisa dilakukan secara sembarangan dan instan. Diperlukan fondasi yang kuat serta perencanaan matang agar solusi yang diterapkan benar-benar berkelanjutan dan tidak hanya bersifat sementara. Sudah saatnya kita membangun dasar-dasar penanganan sampah dalam kerangka jangka panjang lima sampai sepuluh tahun ke depan,” jelasnya.

Dia memastikan, Pemerintah Kota Bandung berkomitmen menangani sampah tidak hanya sebatas kebijakan, tetapi juga aksi nyata di lapangan.

Farhan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut berperan aktif dalam mengatasi persoalan sampah demi menjaga kebersihan, kesehatan dan keberlanjutan Kota Bandung.


Kebudayaan


Di sisi lain, dia menyambut baik diadakannya Pergelaran Seni Wanda Sunda. Di tengah hiruk-pikuk persoalan kota, Farhan mengaku bersyukur karena tugas menjaga  kebudayaan dapat diteruskan dan diperkuat oleh para senior, seniman, akademisi, serta pegiat budaya yang hadir.

"Peran akademisi sangat penting dalam perkembangan kebudayaan. Dari dunia akademik, masyarakat dapat memahami akar sejarah, makna dan arah masa depan sebuah karya seni dan ekspresi budaya," tandasnya.

Farhan juga merefleksikan perjalanan panjang Kota Bandung yang terus mengalami transformasi. Mulai dari kota kosmopolitan di awal abad ke-20, masa gejolak dan revolusi di pertengahan abad, hingga kemapanan di era 80–90-an, sebelum kembali berguncang di abad ke-21.

Hal yang menarik, setiap perubahan itu tidak pernah lepas dari akar budaya yang kuat. Bandung selalu punya nilai-nilai kebudayaan yang mengikat bahkan bagi mereka yang bukan lahir di sini.

Farhan mengaku merupakan salah satu contoh pendatang yang kemudian terikat kuat dengan Bandung. Meski lahir di Bogor dan berasal dari latar belakang daerah berbeda, ia merasa akar budaya Bandung telah menyambut dan membentuk dirinya sejak menetap di kota ini pada 1975.

Dengan kepadatan penduduk mencapai sekitar 15 ribu jiwa per kilometer persegi, dia menilai Bandung telah tumbuh menjadi ekosistem pemikiran yang unik. Berbagai wilayah mulai dari Bandung Utara, Selatan, Timur hingga kawasan barat melahirkan karakter dan platform ekspresi budaya yang beragam melalui proses asimilasi yang kaya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Sugeng
Berita Lainnya

Bisnis

Wisata
Kuliner