Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Penggilingan Padi Tutup, Harga Beras di Tasikmalaya Naik di Tengah Klaim Swasembada Beras

Kristiadi
08/1/2026 12:44
Penggilingan Padi Tutup, Harga Beras di Tasikmalaya Naik di Tengah Klaim Swasembada Beras
Sejumlah penggilingan padi tutup lantaran kebutuhan gabah tingkat petani menurun meski sebagian masih beroperasi karena masih banyak petani menyisihkan gabah untuk kebutuhan sehari-hari.(MI/Kristiadi)

DI tengah klaim Presiden Prabowo Subianto tentang swasembada beras, harga beras premium di sejumlah pasar tradisional di Priangan Timur justru merangkak naik. Kenaikan harga beras sudah terjadi sejak lama hingga banyak warga mengeluhkan hal tersebut. 

Seorang petani, Toto Sontani, 60, warga Sambong, mengatakan pasokan gabah kering pungut (GKP) mupun gabah kering giling (GKG) memang sulit didapatkan. Sementara itu, sebagian besar petani sudah memasuki proses pengolahan lahan dan tanam meski masih ada sebagian yang tengah panen. Di sisi lain, panen kali ini tidak berdampak pada turunnya harga beras di pasaran lantaran harganya sudah lama naik.

"Kenaikan tersebut banyak dimanfaatkan para tengkulak dengan berani memborong gabah kering pungut (GKP) di tingkat petani saat masa panen. Karena, harga beras sejumlah pasar tradisional sudah lama mengalami kenaikan dan bagi penggilingan padi tidak bisa berbuat banyak lantaran dari mereka harus memiliki modal sendiri dan sebagian terpaksa tutup," katanya, Kamis (8/1).

Sementara itu, Eka Amalia, warga Ciamis, mengatakan harga beras setiap kios pasar tradisional merangkak naik cukup tinggi membuat banyak warga kebingungan. Kenaikan beras kualitas premium dijual di pasar Ciamis mulai Rp14 ribu, Rp15 ribu, kualitas super Rp17 ribu per kilogram (kg). Program beras murah yang dilakukan oleh pemerintah juga belum mampu menurunkan harga.

"Program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) yang dilakukan pemerintah tidak berdampak kepada masyarakat. Kini, harga beras di pasaran belum normal dan sejumlah penggilingan padi harganya juga tidak jauh dengan harga pasaran karena di satu sisi kebutuhan gabah di tingkat petani sudah langka," ujarnya.

Pemilik penggilingan, Rosad, 67, warga Cimerak, Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya, mengatakan di penggilingan padi yang dioperasikannya  tidak ada satu pun petani menjual gabah kering pungut (GKP) lantaran produksi menurun. Kini petani sudah mengolah lahan hingga tanam kembali. Hal itu mmembuat penggilingannya harus mencari gabah dari luar daerah.

"Untuk harga beras premium di pasaran sudah lama merangkak naik dan angkanya bervariatif Rp13.500 hingga Rp15 ribu per kilogram. Kami di penggilingan menyesuaikan harga pasaran, karena memang selama ini tidak ada beras kualitas medium lantaran bagi penggilingan mengandalkan modal termasuk membayar pekerja," pungkasnya. (AD/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya

Bisnis

Wisata
Kuliner