Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Puncak Hujan di Majalengka Diprakirakan Awal 2026

Nurul Hidayah    
30/11/2025 18:44
Puncak Hujan di Majalengka Diprakirakan Awal 2026
Sejumlah pekerja berusaha mengevakuasi material longsor yang terjadi di Kabupaten Majalengka(MI/NURUL HIDAYAH)

CURAH hujan di Kabupaten Majalengka awal 2026 diprakirakan meningkat signifikan. Potensi longsor, pergerakan tanah hingga banjir pun diwaspadai.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Majalengka, Agus Tamim, menjelaskan bahwa puncak musim hujan berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Kertajati terjadi pada Januari hingga Februari 2026.

“Prakiraan dari BMKG, curah hujan di Majalengka akan meningkat signifikan, bahkan mencapai kategori hujan lebat hingga sangat lebat pada Februari mendatang,” tutur Agus, Minggu (30/11).
 
Pada puncak musim penghujan ini, diperkirakan menimbulkan potensi banjir dan longsor di sejumlah wilayah di Kabupaten Majalengka.  

“Hal ini perlu diantisipasi sejak dini oleh masyarakat dan semua pihak,” tuturnya.  

Pihaknya, lanjut dia, telah melakukan identifikasi potensi bencana yang seringkali terjadi di Kabupaten Majalengka di setiap musim penghujan. “Kami mengidentifikasi dua kelompok, yaitu  wilayah rawan yakni banjir dan rawan longsor."

Ada pun lokasi rawan longsor di Kabupaten Majalengka  yaitu Kecamatan Lemahsugih,  Kecamatan Bantarujeg , Kecamatan Malausma, Kecamatan Cikijing, Kecamatan Cingambul, Kecamatan Banjaran,  Kecamatan Maja,  Kecamatan Argapura, dan Kecamatan Sindang. Wilayah-wilayah tersebut memiliki kontur tanah labil dan berada di kawasan perbukitan yang rentan mengalami pergerakan tanah saat curah hujan ekstrem.

Sementara untuk lokasi rawan banjir di Majalengka meliputi Kecamatan Ligung,  Kecamatan Jatitujuh,  Kecamatan Kertajati dan Kecamatan Kadipaten. Wilayah tersebut berada di dataran rendah dan dekat aliran sungai besar yang rawan meluap saat debit air meningkat.

BPBD Majalengka, ungkap Agus, juga mengaktifkan sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) di Bendung Rentang. Alat tersebut terhubung otomatis ke BPBD. Jika alarm  aktif menandakan potensi kenaikan debit air yang perlu diwaspadai masyarakat.

Selain itu, sensor deteksi dini gempa bumi sudah terpasang di Kantor BPBD. Alat tersebut terbukti bekerja optimal ketika mendeteksi gempa di Malausma beberapa waktu lalu.

”Personil kami juga siaga 24 jam untuk mengantisipasi kejadian bencana,” tuturnya.  

BPBD Kabupaten Majalengka menyiagakan 15 personel setiap hari selama 24 jam. Jika terjadi insiden berskala besar, BPBD akan mengerahkan personel cadangan dari total kekuatan 62 personel termasuk ASN dan PPPK paruh waktu.

"Kesiapsiagaan bukan hanya soal alat, tapi juga kecepatan respons. Karena itu tim kami standby penuh," jelas Agus.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Sugeng
Berita Lainnya

Bisnis

Wisata
Kuliner