Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Digital Arts Experience Hadirkan Teknologi Musik untuk Anak Berkebutuhan Khusus di Sumedang

Sugeng Sumariyadi
21/11/2025 10:24
Digital Arts Experience Hadirkan Teknologi Musik untuk Anak Berkebutuhan Khusus di Sumedang
Tim dosen dan mahasiswa UPI bersama Politeknik TEDC Bandung menghadirkan Digital Arts Experience untuk anak berkebutuhan khusus di Sumedang(ISTIMEWA)

SUARA musik berpadu dengan teknologi digital menggema di Rumah Pintar Ibu Een Sumedang.

Saat itu, tim dosen dan mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) bersama Politeknik TEDC Bandung meluncurkan program Digital Arts Experience: Inovasi Pendidikan Teknologi Sensor Suara dan Sentuh berbasis IoT untuk Literasi dan Pembelajaran Musik Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), Kamis (20/11).

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat itu dihadiri puluhan peserta, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus dari SLB Shapphira Diyanah Sumedang, guru pendamping, serta perwakilan masyarakat.

Kegiatan ini dipimpin oleh Iwan Kustiawan, Ph.D, Ketua Tim Pelaksana dari UPI, dengan anggota Dr Ayo Sunaryo, M.Pd., Dr Lilis Widaningsih, M.T., dan Deasy Rosanti Nurjannah, M.T. dari Politeknik TEDC Bandung. Mereka dibantu mahasiswa yang berperan sebagai fasilitator teknologi dan musik.

Program ini menjadi bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang didukung oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Pendidikan Indonesia.


Musik bertemu teknologi untuk pendidikan inklusif


Inovasi ini menghadirkan pengalaman baru bagi anak-anak ABK dalam berinteraksi dengan musik melalui teknologi sensor suara dan sentuh berbasis Internet of Things (IoT).

Anak-anak tidak lagi sekadar mendengarkan atau menekan tombol alat musik konvensional, tetapi dapat menciptakan irama dengan gerakan tubuh, suara, atau sentuhan, yang kemudian diolah oleh sistem menjadi nada dan harmoni digital.

Menurut Iwan Kustiawan, program ini dirancang untuk membuka akses literasi digital dan ekspresi seni yang setara bagi anak berkebutuhan khusus.

“Kami ingin menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya milik dunia industri, tetapi juga bisa menjadi jembatan bagi pendidikan inklusif. Anak-anak ABK dapat belajar musik dengan cara yang menyenangkan, interaktif dan tetap humanis,” ujarnya.

Sementara itu, Deasy Rosanti Nurjannah, selaku perancang sistem sensor, menjelaskan bahwa perangkat yang dikembangkan menggabungkan teknologi IoT, sensor gerak, dan pemrosesan suara digital. Setiap sentuhan dan suara anak dapat diterjemahkan menjadi komposisi musik sederhana.

“Kami menyebutnya Sound-Beam Experience. Setiap anak bisa menyentuh musik melalui teknologi. Ini bukan hanya alat belajar, tetapi juga sarana terapi dan komunikasi,” tambahnya.


Kolaborasi pendidikan dan humaniora


Ayo Sunaryo, Dosen UPI, menambahkan, kegiatan ini tidak hanya bersifat demonstratif tetapi juga melibatkan guru pendamping dalam pelatihan penerapan teknologi musik digital di kelas inklusif.

Pendekatan ini berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) untuk mengembangkan kreativitas, emosi, dan koordinasi motorik anak-anak. Digital Arts Experience menjadi model konkret sinergi antara teknologi, pendidikan, dan nilai kemanusiaan.

“Program ini membuktikan bahwa pendidikan sains dan seni dapat berpadu untuk meningkatkan kualitas hidup anak-anak berkebutuhan khusus. Musik menjadi terapi, teknologi menjadi medianya,” tuturnya.

Kepala SLB Shapphira Diyanah Sumedang menyambut antusias kegiatan ini. Dia berharap inovasi tersebut dapat diterapkan secara berkelanjutan di sekolah.

Para siswa tampak gembira saat mencoba alat musik digital yang menghasilkan suara hanya dari tepukan tangan, ayunan tangan, atau nyanyian pendek mereka.

Sementara itu, masyarakat sekitar menilai kegiatan ini bukan hanya memberi manfaat bagi anak-anak ABK, tetapi juga menginspirasi para pendidik di Sumedang untuk memanfaatkan teknologi dalam kegiatan belajar-mengajar.

Program Digital Arts Experience ini menjadi bukti nyata bahwa teknologi dapat digunakan secara empatik, bukan sekadar mekanistik — menghadirkan seni, sains, dan kemanusiaan dalam satu harmoni pendidikan inklusif.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Sugeng
Berita Lainnya

Bisnis

Wisata
Kuliner