Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Pemprov Jabar akan Tentukan Kelanjutan Program MBG Pekan Depan

Naviandri
27/9/2025 15:44
Pemprov Jabar akan Tentukan Kelanjutan Program MBG Pekan Depan
Ilustrasi SPPG MBG.(Dok. Antara)

PEMERINTAH Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar) akan menentukan kelanjutan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada pekan depan, setelah berdiskusi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) wilayah Jabar. Ini dilakukan sebagai bentuk kekhawatiran tingginya angka kasus keracunan MBG di Jabar, yang tercatat sebagai provinsi dengan insiden terbanyak secara nasional.

Kasus terbaru yang menjadi perhatian Pemprov Jabar adalah insiden keracunan MBG di Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang menimpa lebih dari 1.000 siswa sejak Senin (22/9) hingga Rabu (24/9) lalu. Akumulasi korban ini menambah panjang daftar insiden di Jabar, yang secara nasional telah mencatat lebih dari 5.000 korban keracunan MBG sejak awal program di tahun 2025.

“Keputusan mengenai apakah program MBG akan dihentikan sementara atau dilanjutkan akan diambil usai pertemuan evaluasi menyeluruh dengan kepala BGN perwakilan wilayah Jabar. Lalu setelah melihat komitmennya, nanti pemprov akan mengambil Keputusan,” ungkap Gubernur Dedi Mulyadi kemarin.

Dedi menekankan ada tiga hal utama  yang wajib dievaluasi bersama BGN, pertama audit dapur dengan melakukan evaluasi mendalam atau audit higienitas dapur tempat makanan diolah. Dua, evaluasi bahan makanan dengan mengkaji ulang jenis-jenis bahan makanan yang digunakan dalam menu MBG. Dan ketiga, jam masak dan distribusi dengan mengevaluasi waktu masak untuk memastikan waktu distribusi hingga makanan disantap oleh siswa tidak terlalu lama.

“Saya mengkhawatirkan risiko keracunan meningkat jika waktu antara masak dan konsumsi terlalu jauh. Karena kan kalau dimasaknya jam 12 malam, kemudian diantar ke siswanya jam 12 siang, waktunya terlalu lama. Harapan saya ke depan dapur itu didekatkan dengan sekolah dan tingkat yang dilayani jumlahnya jangan terlalu banyak sampai ribuan,” tuturnya.

Dedi berharap insiden ini menjadi perhatian serius agar program yang bertujuan baik dari Presiden Prabowo untuk meningkatkan nutrisi anak-anak Indonesia ini tidak menjadi "salah urus" dalam teknis pengelolaannya.

Untuk diketahui hingga kini kasus keracunan MBG siswa pada sarapan MBG di Jabar tercatat sebagai provinsi dengan jumlah kasus keracunan terbanyak. Sejak awal 2025, berbagai insiden keracunan massal terjadi di sejumlah kabupaten/kota hingga menimbulkan ribuan korban. Berdasarkan data dari BGN, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tercatat lebih dari 5.000 siswa di berbagai daerah menjadi korban keracunan makanan sejak program ini berjalan pada awal 2025.  Data dari Kemenkes menunjukkan ada 60 kasus dengan 5.207 penderita per 16 September 2025. Sedangkan data BPOM mencatat 55 kasus dengan 5.320 penderita per 10 September 2025. Provinsi Jabar menjadi provinsi dengan kasus keracunan MBG terbanyak. Puncaknya terjadi pada Agustus 2025, dengan sebaran insiden terbanyak di wilayah tersebut.

Dalam dua hari terakhir, peristiwa keracunan MBG kembali terjadi di Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Sukabumi. Di Bandung Barat, keracunan massal tercatat menimpa total 1.315 siswa. Sementara di Kabupaten Sukabumi, lima siswa dilaporkan keracunan usai mengonsumsi makanan MBG. Selain itu, kasus serupa juga terjadi di Kabupaten Garut dengan korban mencapai 150 siswa. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya

Bisnis

Wisata
Kuliner