Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Indonesia Hadapi Krisis Pemulia Tanaman, Ancam Ketahanan Pangan Nasional

Reza Sunarya
12/11/2025 19:22
Indonesia Hadapi Krisis Pemulia Tanaman, Ancam Ketahanan Pangan Nasional
Seorang pemula tanaman tengah melakukan penelitian di kebun penghasil tanaman pangan.(MI/REZA SUNARYA)

INDONESIA tengah menghadapi krisis regenerasi pemulia tanaman (breeder) yang dapat mengancam ketahanan pangan nasional dalam jangka panjang.

Jumlah pemulia aktif saat ini sangat terbatas, padahal kebutuhan varietas unggul terus meningkat untuk menghadapi tantangan perubahan iklim, penurunan produktivitas lahan dan alih fungsi lahan pertanian.

Menyikapi persoalan tersebut, Perhimpunan Ilmu Pemuliaan Indonesia (PERIPI) , East West Seed Indonesia (EWINDO), dan IPB University, akan menyelenggarakan Indonesian Breeder Award 2025 (IBA) mengusung tema “Breeding is Giving” pada 19 November 2025 di IPB International Convention Center (IICC), Bogor.

Ketua PERIPI, Profesor Muhamad Syukur mengatakan bahwa peran pemuliaan tanaman sangat sentral terhadap peningkatan kualitas dan produktivitas pertanian. Terlebih, pada 2050 Indonesia harus dapat menghasilkan jumlah pangan dua kali lipat dibanding sekarang, karena jumlah penduduk semakin meningkat.

Sementara di sisi lain, tantangan lingkungan juga akan semakin berat.

“Itu semua hanya bisa diatasi dengan menghasilkan varietas-varietas yang adaptif terhadap ancaman lingkungan dan punya produktivitas tinggi,” katanya, Rabu (12/11).

Dia menambahkan jumlah pemulia tanaman di Indonesia saat ini sangat jauh dari ideal dan tidak sebanding dengan kebutuhan pengembangan varietas baru. Dari sekitar 1.000 pemulia tanaman yang terdaftar di PERIPI, hanya separuh bahkan seperempatnya atau 250 orang yang benar-benar melakukan kegiatan pemuliaan.

Padahal saat ini dibutuhkan minimal 10 ribu pemulia tanaman untuk melayani sekitar 30 juta petani Indonesia.


Pupuk pengembangan riset


Syukur berharap penyelenggaraan IBA 2025 dapat menjadi ‘pupuk’ buat pengembangan riset dan pemuliaan tanaman di Indonesia. Harapannya orang akan menjadi semangat karena dihargai.

Sementara itu Managing Director EWINDO, Glenn Pardede menjelaskan di EWINDO penelitian atau pemuliaan tanaman adalah cara bermakna untuk berkontribusi terhadap ketahanan pangan dan kesejahteraan petani.

“Breeding is Giving bukan sekadar tema—melainkan komitmen kami untuk menciptakan dampak yang lebih besar. Benih adalah titik awal dari sistem pangan yang berkelanjutan,” paparnya.

Menurut dia, penyelenggaraan IBA 2025 ini tidak hanya menjadi bentuk apresiasi bagi para pemulia, tetapi juga panggilan untuk menumbuhkan generasi penerus di bidang yang sangat strategis ini. Melalui ajang ini, pihaknya ingin menginspirasi generasi muda agar melihat pemuliaan tanaman sebagai profesi yang mulia. Setiap benih unggul yang dihasilkan adalah wujud nyata kontribusi untuk petani dan bangsa.

Melalui kegiatan ini diharapkan lahir sinergi nyata antara pemerintah, akademisi, dan dunia usaha dalam memperkuat ekosistem perbenihan nasional.

“Benih adalah awal dari ketahanan pangan. Setiap varietas baru yang diciptakan pemulia merupakan kontribusi langsung bagi keberlanjutan pangan Indonesia,” tandas Glenn.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Sugeng
Berita Lainnya

Bisnis

Wisata
Kuliner