Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Imlek dan Ramadan Merajut Tenun Kebangsaan

17/2/2026 05:00

SUDAH lebih dari dua dekade, Hari Raya Imlek berdiri tegak sebagai simbol kematangan Republik dalam merawat keberagaman. Hari raya yang dulu dirayakan dalam sunyi dan bayang-bayang kecurigaan, kini hadir terbuka, semarak, dan menjadi bagian dari denyut ruang publik. Ornamen lampion menghiasi pusat perbelanjaan, pertunjukan barongsai tampil di ruang-ruang terbuka, dan ucapan selamat berseliweran tanpa rasa takut.

Generasi Z mungkin tak lagi merasakan getirnya masa ketika ekspresi budaya Tionghoa dibatasi. Pada periode 1968–1999, Imlek hanya bisa dirayakan diam-diam. Negara kala itu memandang perbedaan sebagai potensi ancaman, bukan kekayaan.

Perubahan besar terjadi ketika Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid, mencabut larangan perayaan Imlek dan membuka ruang kebebasan berekspresi bagi warga Tionghoa. Kebijakan itu diperkuat oleh Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, yang menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional mulai 1 Januari 2003. Dua keputusan tersebut bukan sekadar perubahan administratif, melainkan tonggak etik kebangsaan, yakni pengakuan bahwa setiap identitas budaya memiliki tempat setara dalam rumah Indonesia.

Dari sanalah relasi antarwarga tidak lagi berhenti pada toleransi pasif atau sekadar hidup berdampingan tanpa saling mengusik, melainkan bergerak menuju harmoni aktif menjadi saling berbagi ruang, saling menghormati, dan saling merayakan.

Namun, harmoni tidak turun dari langit. Ia bukan hadiah cuma-cuma, melainkan buah dari kerja panjang, keberanian politik, dan kesediaan sosial untuk saling memahami. Harmoni juga bukan kondisi final yang kebal guncangan. Ia harus dirawat, dijaga, dan diperbarui dari waktu ke waktu. Kebangsaan adalah tenun yang tak boleh berhenti dirajut.

Tahun ini, perayaan Imlek berdekatan dengan awal bulan suci Ramadan. Momentum yang berkelindan ini seharusnya menjadi ruang refleksi bersama. Di satu sisi, umat Konghucu dan warga Tionghoa merayakan tahun baru dengan harapan dan sukacita. Di sisi lain, umat Islam bersiap memasuki bulan penuh pengendalian diri dan penyucian jiwa. Dua perayaan berbeda itu bertemu dalam satu lanskap kebangsaan.

Di titik inilah para pemimpin, baik formal maupun moral, dituntut menghadirkan narasi kesejukan. Jangan biarkan ruang publik dipenuhi eksploitasi perbedaan dan gema kebencian. Perbedaan bukan bahan bakar konflik, melainkan energi untuk memperkaya peradaban.

Imlek yang berdampingan dengan Ramadan adalah pengingat bahwa Indonesia bukan rumah kontrakan, di mana sebagian merasa sebagai pemilik sah dan yang lain sekadar penyewa. Semua anak bangsa adalah pemilik kedaulatan dan kedamaian negeri ini. Tidak ada 'anak kampung sini' dan 'pendatang' dalam bingkai konstitusi. Yang ada hanyalah warga negara dengan hak dan kewajiban setara.

Para pendiri bangsa telah menyadari realitas itu sejak awal. Mereka merumuskan Pancasila sebagai fondasi, bukan untuk menyeragamkan warna, melainkan demi menyatukan perbedaan dalam satu cita-cita bersama. Indonesia tidak dibangun di atas satu identitas tunggal, tetapi dari mosaik budaya, agama, dan etnis yang saling melengkapi.

Karena itu, momentum Imlek dan Ramadan semestinya menjadi ruang dialog dan penguatan empati lintas iman. Menghargai keyakinan orang lain bukanlah kompromi terhadap iman sendiri, melainkan tanda kedewasaan berbangsa. Ibadah yang khusyuk tidak pernah membutuhkan kebencian sebagai penopang.

Negara tentu memikul tanggung jawab utama untuk memastikan setiap warga dapat menjalankan ibadah tanpa rasa khawatir. Aparat keamanan harus hadir bukan sekadar sebagai penjaga ketertiban, melainkan sebagai penjamin rasa aman. Namun, harmoni tidak cukup dijaga oleh negara semata. Tokoh agama, tokoh adat, dan pemimpin komunitas memiliki peran strategis membangun narasi kebersamaan. Mimbar-mimbar keagamaan harus menjadi ruang penyemaian kasih, bukan panggung penyulut curiga.

Imlek dan Ramadan adalah dua benang berbeda dalam satu tenunan kebangsaan. Masing-masing memiliki warna dan karakter yang khas. Justru karena berbeda, kain itu menjadi indah dan kuat. Jika satu benang dicabut, tenunan akan rapuh.

Ketika Imlek dan Ramadan datang beriringan, kita diingatkan kembali bahwa keragaman bukan ancaman, melainkan kekuatan. Tugas kita ialah memastikan perayaan Imlek berlangsung aman dan penuh sukacita, sekaligus menyambut Ramadan dengan ketenangan dan kekhusyukan.

Di atas segala perbedaan, kita berbagi tanah air yang sama. Dan, di bawah Merah Putih yang sama, kebangsaan harus terus dirajut hari ini, esok, dan seterusnya.



Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik