Headline

Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%

Khamenei, Trump, Netanyahu

Teuku Kemal Fasya Dosen Antropologi Universitas Malikussaleh, Doktor Perencanaan Wilayah dari Universitas Sumatra Utara.
12/3/2026 14:39
Khamenei, Trump, Netanyahu
Teuku Kemal Fasya Dosen Antropologi Universitas Malikussaleh, Doktor Perencanaan Wilayah dari Universitas Sumatra Utara.(Dok. Pribadi)

AYATULLAH Ali Hosseini Khameinei telah terbukti wafat. Serangan 28 Februari 2026 oleh aliansi Amerika Serikat – Israel memang telah dipelajari berbulan-bulan untuk membunuh tokoh kunci Iran. Hari itu 2000 rudal dan bom diarahkan ke pusat-pusat pemerintahan utama Iran, termasuk yang ditengarai situs nuklir, yang nyatanya tidak pernah ada.

Apakah Ali Khamenei tidak mengetahuinya? Sejak awal ia memang menyambut perang ini. Pesannya, jika ia meninggal akibat konflik ini, semangat bangkit dan melawan (al muqawamah) terhadap imperialisme AS - Israel tidak boleh surut. “Iran bisa saja hancur di bawah kaki musuh jika gagal memperkuat pertahanan. Namun, konflik ini akan menjadi perang regional yang merugikan pihak musuh”.

Dengan pakaian sederhana tanpa tameng antipeluru, Khamenei seperti menunggu syahid. Kematiannya mirip Sayyidina Husein, cucu Nabi Muhammad, yang menolak tunduk lepada Yazid bin Muawiyah, pemimpin dinasti Umayah yang baru diangkat. Di depan 4000 pasukan Ubaidillah bin Ziyad, mereka dibiarkan lapar dan haus, kemudian 72 orang pendukung Husein bin Ali dibunuh. Hanya tersisa sebagian kecil perempuan dan anak-anak. Husein sendiri dipenggal kepalanya. Itulah ciri munculnya aliran Syiah dalam sejarah Islam.

Titik api perlawanan

Terkait pembunuhan Khamenei, permasalahan baru muncul dan kusut. Cepatnya Ali Khamenei wafat dan terbunuhnya suksesornya, Alireza Arafi, tidak menyurutkan gerakan perlawanan Korp Garda Revolusi Islam (IRGC). Setelah kejadian itu, Iran langsung bertubi-tubi menyerang pangkalan militer AS di Arab Saudi, Bahrain, UEA, Qatar, Kuwait, dan Yordania. Perang akhirnya mengentak Trump. Ia mulai berpikir menghentikan perang yang pasti akan berlangsung lama dan memakan biaya sangat mahal. Proposal negosiasi mulai dimunculkan lagi.

Tapi ingatan atas pengkhianatan dialog baru saja terjadi di Oman. Pihak Iran menolak melakukan negosiasi dengan AS. Bukan hanya melihat gagalnya diplomasi Oman, tapi wajah buruk politik Trump. Dalam buku Levitzsky & Ziblatt, How Democracies Die (2018), figur Trump dianggap presiden terburuk dan membawa cacat demokrasi akut dalam sejarah Amerika. “Amerika Serikat gagal di tes pertama pada November 2016 ketika memilih presiden yang diragukan kesetiannya pada norma-norma demokrasi. Kemenangan mengejutkan Donald Trump bukan hanya mengecewakan publik, tapi juga Partai Republik AS dalam mencegah demagog ekstremis terpilih.” 

Problem lain terlihat bahwa perang ini bukan semata serangan militer tapi pembangunan narasi. Pernyataan tidak simpatik Trump pasca-meninggalnya Khamenei menjadi narasi katastrofi yang membelah poros dunia menjadi antagonis terhadap AS. “Khamenei adalah orang paling jahat di dalam sejarah. Pembunuhan ini sebagai balas dendam bagi orang Amerika dan lainnya yang dirugikan oleh kepemimpinan Iran.”

Pernyataan arogan ini disampaikan ke depan media terhadap sosok yang sangat dihormati puluhan juta warga Iran dan 200an juta pengikut Syiah dunia. Sikap 'cowboy' Trump juga terucap ketika Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, ditangkap oleh militer AS. “Maduro adalah pemimpin yang telah menghancurkan negara dan terlibat dalam narko-terorisme.” 
Ia memuji taktik militer AS sebagai sesuatu yang 'brilian', dan menyebut kekuatan militer AS tidak tertandingi. Ia memberikan sinyal AS akan 'mengelola' dan 'memimpin' Venezuela untuk sementara waktu sampai transisi kekuasaan terlaksana. 

Pernyataan ini menjadi narasi kolonial yang menempatkan AS sebagai imperialisme  yang siap mengeksploitasi 303 miliar barel cadangan minyak Venezuela.

AS memang memiliki sejarah panjang agresi politik di negara-negara kaya sumber daya hidrokarbon. Salah satu testimoni agresi terbaca dari pengakuan seorang agen AS yang berperan sebagai ahli ekonomi, John Perkins. Di dalam bukunya The Confession of an Economic Hit Man (2004) disebutkan AS melakukan agenda rayuan skema utang kepada negara-negara berkembang untuk menjalankan program nasional. 

Jika itu gagal maka dilakuan aksi spionase kepada tokoh-tokoh penting untuk membuka aib-aib personal mereka. Biasa berhubungan dengan catatan seks, aksi kriminal, dan akuntabilitas keuangan, sehingga akhirnya terpaksa mengubah kebijakan nasional. Jika itu juga tidak mempan, jalan terakhir adalah menaklukkan pemimpin negara melalui rekayasa demonstrasi, pemberontakan yang difasilitasi, konflik sentrifugal, peradilan artifisial, hingga pengerahan rudal dan pasukan darat. 

Hal itu tercetak dalam sejarah hukuman mati Nicolae Ceausescu (22 Desember 1989), penangkapan dan hukuman mati Saddam Hussein (26 Desember 2006), pemberontakan dan eksekusi Muammar Khadafi (20 Oktober 2011), penggulingan Bashar al-Assad (8 Desember 2024), kriminalisasi Rodrigo Duterte (11 Maret 2025), penangkapan Nicolas Maduro (3 Januari 2026), hingga pembunuhan Rahbar Ali Khamenei (28 Februari 2026). Semuanya ada peran presiden AS di belakangnya. 

Sejarah berdarah Presiden AS sejak Harry Truman hingga Donald Trump tidak lagi berhubungan dengan karakter psikologi sang presiden, atau perbedaan model politik Demokrat dan Republik. Karena presiden dari dua partai itu sama-sama terlibat mengeksekusi kepala negara lain. 
Namun, Trump menjadi spesial karena aksi agresinya tidak lagi mempertimbangkan keamanan nasional. Ia juga terdesak oleh tuduhan pedofilia pada masa lalu seperti terbongkar dari Epstein Files ini. Pilihan perangnya sangat tidak rasional, karena telah keluar dari koridor penegakan demokrasi dan HAM, bahkan menyudutkan citra Amerika di mata global.

Anomali Israel

Perang di Iran ini sendiri tidak akan terjadi jika tidak didorong oleh Benjamin Netanyahu. Ia menjadi tokoh politik Israel terlama menjadi perdana menteri. Sejak 1996 ia telah diangkat menjadi PM dan pernah mendapatkan pendidikan di AS. Ia juga pernah bertugas di Israel Defence Forces (IDF) dan Sayeret Matkal, sebuah intelejen khusus Israel, sehingga sangat mengerti aksi konspirasi dan manipulasi perang.

Sejak menjadi PM, ia berkali-kali pernah menyerang Gaza dan tokoh Hamas. Aksi pembunuhan massal pasca-7 Oktober 2023 terjadi setelah diangkat menjadi PM 12 Desember 2022. Momen itu adalah sejarah genosida terburuk yang pernah dilakukan Israel. Tragedi ini melebihi aksi pembantaian di Shabra dan Shatilla (1982) rancangan Ariel Sharon. 70 ribu warga Palestina tewas, 99% terjadi di Gaza, sebagian besar korban adalah anak-anak, perempuan, dan lansia.

Penyerangan di SD Shajareh Tayyebeh di Minab, Iran selatan, menewaskan 160 siswi (28 Februari 2026) juga skenario Netanyahu dan menjadi catatan yang sulit dilupakan. Ini bukan lagi perang yang melibatkan militer dan lelaki dewasa, tapi telah menargetkan anak-anak belia. 

Bagi Netanyahu genosida ini telah biasa dilakukan, seperti ratusan aksi di Gaza. Namun bagi warga Iran, momen ini akan dikenang sebagai kekejaman zionis yang menusuk sentimen agama, bukan sekadar penguasaan Selat Hormuz.

Khamenei telah syahid. Tapi dua aktor pencetus perang (Trump dan Netanyahu) masih melanjutkan catatan kelam bara konflik di Timur Tengah sejak negara Israel berdiri, 14 Mei 1948. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya