Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

AS Siapkan Opsi Siber hingga Militer saat Penindasan Protes Iran Kian Memanas

Ferdian Ananda Majni
13/1/2026 13:19
AS Siapkan Opsi Siber hingga Militer saat Penindasan Protes Iran Kian Memanas
Donald Trump mempertimbangkan beragam opsi intervensi terhadap Iran(Dok. The Guardian)

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump mempertimbangkan beragam opsi intervensi terhadap Iran di tengah eskalasi protes anti-pemerintah yang berujung pada penindasan keras, ratusan korban jiwa, serta pemutusan akses internet oleh otoritas Teheran.

The Wall Street Journal melaporkan, pilihan yang dikaji pemerintahan Trump mencakup peningkatan dukungan daring bagi kelompok oposisi, serangan siber terhadap target militer dan sipil Iran, pengetatan sanksi ekonomi, hingga kemungkinan serangan militer terbatas. Para pembantu presiden dijadwalkan memberikan pengarahan resmi pada Selasa (13/1).

Politico, mengutip pejabat anonim, menyebut opsi tersebut bervariasi dari operasi siber ofensif hingga serangan terarah di dalam wilayah Iran, meski tanpa rencana pengerahan pasukan darat.

“Jika AS memutuskan bertindak untuk melindungi personel, aset, atau aliran energi, tersedia berbagai alat, mulai dari serangan siber dan sabotase hingga serangan drone dan rudal,” kata Kepala ahli strategi geopolitik BCA Research, Matt Gertken. 

Menurutnya, Washington juga dapat menargetkan infrastruktur nuklir, militer, atau pemerintahan Iran guna melemahkan kapasitas rezim.

Gelombang kerusuhan bermula pada akhir Desember, dipicu lonjakan harga dan anjloknya nilai mata uang nasional, sebelum berkembang menjadi protes luas yang dinilai mengancam kelangsungan rezim Islam. Pada akhir pekan, penindakan diperketat. Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia yang berbasis di AS melaporkan lebih dari 500 orang tewas.

Pemerintah Iran memperingatkan AS dan Israel agar tidak mencampuri urusan dalam negeri mereka. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menuding kedua negara sebagai dalang kerusuhan.

“Iran jauh lebih mampu membalas, terutama dengan menyerang infrastruktur energi regional,” ujar Gertken, meski ia menilai Washington belum tentu berniat menggulingkan rezim kecuali situasi memburuk drastis.

Trump secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap demonstran Iran. Melalui Truth Social, ia mengisyaratkan kesiapan AS untuk bertindak.

“Iran sedang mengincar kebebasan. AS siap membantu,” tulisnya.

Kepada wartawan, Trump menyebut militer tengah mengkaji opsi-opsi yang sangat kuat.

Ia juga mengatakan AS mempertimbangkan upaya memulihkan akses internet di Iran, termasuk kemungkinan berkomunikasi dengan Elon Musk, di tengah laporan upaya Teheran mengganggu jaringan Starlink.

Namun para analis memperingatkan risiko eskalasi.

“Serangan kinetik simbolis sekalipun dapat memicu eskalasi yang jauh lebih luas,” kata Danny Citrinowicz dari Institut Studi Keamanan Nasional. Menurutnya, tanpa kepemimpinan oposisi yang jelas, keberhasilan operasional belum tentu berujung pada keberhasilan strategis.

Ancaman balasan datang dari Teheran. Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menyatakan seluruh pangkalan dan aset militer AS di kawasan akan menjadi target sah jika Iran diserang. Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei menegaskan pemerintah tidak akan mundur.

Kerusuhan ini terjadi di tengah tekanan ekonomi berat. Nilai rial dilaporkan merosot hingga mendekati satu juta per dolar AS. “Protes ini, apa pun hasilnya, akan semakin menggerus legitimasi sistem negara yang sudah rapuh,” kata Sanam Vakil dari Chatham House. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya