Headline

Pesan Presiden ialah efisiensi dimulai dari level atas.

Puasa Dan Nasihat

Masmuni Mahatma Ketua PWNU Kepulauan Bangka Belitung dan Kepala Biro AAKK UIN Imam Bonjol Padang
17/3/2026 13:18
Puasa Dan Nasihat
Masmuni Mahatma Ketua PWNU Kepulauan Bangka Belitung(Dok.Istimewa)

DI luar sebagai rukun Islam yang wajib dilaksanakan dan berdimensi sangat sakral, tentu saja puasa tidak hanya membawa spirit ilahiah, melainkan juga memiliki konstruksi nilai dan orientasi insaniyah. Meski waktunya terbilang singkat, bukan berarti taburan dan tarikan kebajikan di dalamnya tidak berlipat-lipat. Cukup banyak ahli spiritual sedari dulu telah menegaskan bahwa hari dan malam sepanjang bulan Ramadan sejatinya tidak bisa dibandingkan secara kualitatif dengan hari dan malam di bulan-bulan lain bagi kehidupan kehambaan.

Saking sakralnya puasa Ramadan, satu amalan kebaikan di dalamnya, seperti disinyalir beberapa pakar, menjadi salah satu indikasi edukatif-transformatif untuk menentukan sirkulasi kebaikan pada masa selanjutnya. Imam Khomeini menegaskan bahwa di samping sebagai bulan jamuan Allah terindah dan teragung untuk hamba-hamba-Nya, puasa Ramadan adalah bulan ampunan sekaligus kebaikan Allah SWT tanpa jeda dan tak berjarak sedikit jua. Semua kebaikan yang ditunaikan hamba-hamba Allah sekecil dan seringan apapun di dalamnya telah dijamin dilipatgandakan menurut perspektif ketentuan Tuhan itu sendiri.

Salah satu malam di Bulan Ramadan yang terkenal sebagai “Lailatul Qadr,” kata Allah SWT, benar-benar lebih baik dari seribu bulan (QS. Al-Qadr [97] : 1-5). Allah sama sekali tidak bercanda. Apa yang diurai dalam surat ini merupakan hal yang tidak semata kuantitatif melainkan sungguh kualitatif. Bukan pula sekadar hitungan logis, tetapi juga sangat mistis dan spiritualis. Tidak berlebihan ketika Lailatul Qadr menjadi buruan seluruh umat beriman Islam sepanjang sejarah. Siapa yang menjumpai, mencium, merengkuh, dan tenggelam dalam Lailatul Qadr, mereka akan memperoleh kebaikan dari Allah langsung sedemikian maksimal.

Reparasi Batin

Puasa merupakan ritual reparasi batin setiap hamba. Kemelut, kebekuan, dan kerusakan batiniah setiap hamba, mendapatkan momentum reparatifnya sepanjang puasa Ramadan. Inilah ruang reparasi gratis. Tidak berlebihan ketika Rasulullah SAW menyatakan siapa pun yang (sekadar) bergembira saja menyambut hadirnya puasa Ramadan, sudah dijamin tubuhnya tidak tersentuh api neraka. Apalagi kalau mengolah dan memaksimalkan momentum puasa Ramadan sebagai ruwatan lahiriah sekaligus tarekat batiniah, masa depan akhiratnya sangat prospektif dan akuntable.

Imam Khomeini malah lebih tegas lagi. Ia mendeklarasikan bahwa puasa Ramadan sejatinya adalah samudera revolusi kedirian manusia, baik menyangkut eksistensi ketubuhan, kejiwaan, psikologi, moralitas dan etika sosial hidupnya di hadapan Allah SWT. Dalam bahasa lain, tidak sekadar revolusi ubudiyah keseharian semisal salat, membaca Alquran, dzikir, doa dan sedekah. Lebih jauh dari itu, ialah revolusi batini. Revolusi dari dan untuk perangkat lunak maupun perangkat kasar setiap diri selaku hamba. Sebab manusia, seperti kata Driyarkara, bukan hanya susunan daging dan tulang, gigi dan rambut, mata dan telinga, tangan dan kaki, bulu dan kulit.

Manusia, lanjut Driyarkara, adalah persona yang terus menerus berproses untuk menjadi, “on becoming.” Ia bukan batangan tubuh (fisik) belaka. Ia materi sekaligus esensi. Ia eksistensi sekaligus substansi. Konsep dirinya tidak mudah beku dan berhenti. Dinamis dan memiliki otonomi yang tidak sederhana. Makanya Tuhan menganugerahi manusia akal (aql), keistimewaan cukup mahal dan potensial dalam hidup yang tidak diberikan pada hewan atau binatang bahkan malaikat sekalipun.

Ibnu Arabi, Al-Ghazali, Ibn Miskawaih, tidak ketinggalan ikut menguatkan. Mereka menegaskan bahwa puasa Ramadan merupakan tarbiyah dan tazkiyah terhadap diri setiap hamba. Siapa saja yang merasa hamba-Nya, ia mesti menempatkan puasa Ramadan untuk mengedukasi keberadaan dan hakikat dirinya di hadapan Tuhan. Puasa harus dijadikan medium audit internal yang obyektif dan optimal berbasis keimanan dan ketakwaan. Sehingga menemukan tahapan introspektif-regulatif dan menginternalisasi kesadaran diri yang rasional, proporsional, serta transformasional.

Nasihat Religius

Lepas dari uraian penuh makna di atas, puasa Ramadan juga nasihat religius bagi setiap manusia beriman. Melalui puasa Ramadan, setiap hamba diakui atau tidak, telah dinasihati dan dituntun bukan hanya supaya berpikir serta bersikap matang maupun dewasa bermasyarakat. Jauh di balik itu, agar setiap diri bersegera mengevaluasi dan mensuvervisi fitrahnya menuju derajat yang lebih mulia berbasis kebajikan imani. Tidak lagi egois, kapitalis, hegemonik, dan eksploitatif. Sehingga, meminjam nalar Imam Khomeini, mampu bertransformasi obyektif-artikulatif dari manusia badani menuju hamba batini. Manusia simpati, empati, dan berhias nilai-nilai etik kenabian universal.

Sebagai nasihat religius, puasa Ramadan mesti diselami dan didandani seapik serta secantik mungkin melalui kesadaran spiritualitas berhamba. Wajar selama di bulan Ramadan, para ulama memberikan nasihat, masukan, tuntunan, supaya setiap diri mengedepankan obsesi, inspirasi, orientasi maupun sikap kesabaran, kehangatan, dan kebijaksanaan menghadapi realitas yang dianggap negatif-destruktif. Diwanti-wanti menghindari terjebak dan terjerumus godaan-godaan bersifat dangkal dan parsial. Terlebih lagi agama, kata Nabi Muhammad SAW, memang merupakan nasihat bagi siapa saja yang beriman dan bertakwa.

Nasihat, seperti diungkap Jalaluddin Rakhmat (1998 : 1), ada dua. Pertama, al-Masmu’, nasihat atau petunjuk yang langsung bisa didengar. Kedua, al-Masyhud, nasihat atau petunjuk yang tidak bisa didengar tapi dapat disaksikan. Semua jenis nasihat ini telah lama familiar dalam kehidupan umat.

Bukan hal yang baru. Nasihat Nabi Muhammad SAW kepada para sahabat, nasihat penceramah terhadap khalayak yang hadir, nasihat kiai pada santri, nasihat guru atas murid, nasihat orang tua untuk anak-anaknya, nasihat sahabat bagi sahabat karibnya, nasihat pemimpin terhadap bawahan, dan lain-lain. Jelas dan berlangsung nyata. Dapat didengar.

Puasa Ramadan, termasuk nasihat religius jenis pertama, al-Masmu’. Firman Allah SWT dalam Alquran dan hadis Nabi Muhammad SAW tentang puasa, langsung disaksikan, didengar dan disimak. Bahkan setiap masjid, musola, majelis taklim, institusi pemerintahan, perbankan, komunitas, paguyuban, kelompok dan pelbagai elemen masyarakat, menyediakan fasilitas menimba nasihat religius sepanjang puasa Ramadan.

Menghadirkan pemberi tausiyah (nasihat) jelang buka puasa, hendak salat tarawih, sesudah salat subuh, peringatan Nuzulul Quran, mencari Lailatul Qadr dan lain-lain. Tujuan utamanya sama, agar kita siaga bertransformasi dari manusia badani-duniawi menuju hamba batini-ukhrawi. Insya Allah. (H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya