Headline
Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.
Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.
Kumpulan Berita DPR RI
KONFLIK militer terbuka antara Israel --dengan dukungan Amerika Serikat (AS)-- dan Iran pada awal 2026 lalu telah membawa risiko guncangan yang sangat signifikan terhadap perekonomian global.
Berbeda dengan ketegangan geopolitik yang berdampak terbatas, sebut saja perang Ukraina versus Rusia sejak Februari 2022 hingga sekarang belum tuntas, maka eskalasi perang di Timur Tengah kali ini memiliki transmisi langsung ke pasar energi dunia, inflasi global, dan stabilitas sistem keuangan (SSK) internasional.
Dengan pengerahan militer AS yang mencapai tingkat kritis dan insiden maritim yang semakin intens di Selat Hormuz, pasar keuangan global mulai memperhitungkan skenario terburuk. Gangguan pasokan minyak dari Selat Hormuz menjadi saluran transmisi utama dampak ekonomi konflik AS-Iran.
Jalur strategis tersebut mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak global, sementara Iran sendiri menyumbang sekitar 3% produksi minyak dunia. Belum lagi sekitar 25% dari perdagangan LPG (liquefied petroleum gas) atau gas minyak bumi cair secara global juga melalui selat tersebut. Alhasil, Selat Hormuz sangat kritikal bagi jalur pelayaran minyak dan gas (migas) global sehingga memiliki kerawanan serius jika terjadi intervensi sepihak oleh penguasa Iran untuk menghentikan aktivitas pelayaran di selat tersebut.
Kombinasi potensi blokade Selat Hormuz melalui ranjau laut, serangan terhadap kapal tanker, dan gangguan produksi langsung dari fasilitas Iran menciptakan risiko supply shock yang belum pernah terjadi dalam dekade terakhir.
Harga minyak mentah telah menunjukkan tekanan kenaikan sejak Januari 2026, dengan minyak Brent menembus US$70 dolar per barel dan minyak WTI (West Texas Intermediate) di atas US$65 dolar. Jika konflik meletus dan pasokan dari Selat Hormuz terganggu signifikan, proyeksi menunjukkan harga dapat melonjak ke kisaran US$100-US$130 per barel.
Pengalaman historis memberikan preseden, serangan terhadap fasilitas Aramco pada 2019 silam memicu kenaikan harga minyak sebesar 15%-19% dalam satu hari perdagangan. Dalam skenario konflik regional yang lebih luas, lonjakan dapat melampaui angka tersebut, mengingat skala gangguan potensial jauh lebih besar.
Kenaikan harga energi bukan hanya berdampak pada sektor transportasi dan logistik, tetapi juga meningkatkan biaya input produksi hampir di seluruh sektor ekonomi. Negara-negara importir energi neto, termasuk kawasan Eropa dan sebagian besar Asia, akan merasakan tekanan paling berat terhadap neraca perdagangan dan cadangan devisa mereka.
Negara-negara Eropa pernah merasakan dampak pahit dan getir ketika mereka ‘berpihak’ kepada Ukraina saat negara ini mengibarkan bendera perang terhadap Rusia yang memasuki wilayahnya pada kurun waktu 2022-2024 lalu. Pemerintahan Rusia di bawah Presiden Vladimir Putin menghentikan secara total aliran gas ke seantero Eropa yang berakibat pada lonjakan harga energi dan inflasi hingga nyaris menyentuh level 10% waktu itu.
MEWASPADAI POTENSI STAGFLASI
Kini, lonjakan harga energi akan memicu gelombang inflasi baru di perekonomian global yang masih bergulat dengan normalisasi pascapandemi covid-19. Mekanisme transmisinya bersifat multi-channel. Kenaikan biaya bahan bakar mendorong harga pangan karena ongkos transportasi dan pupuk menjai lebih mahal. Sementara itu, sektor manufaktur menghadapi peningkatan biaya produksi yang pada akhirnya diteruskan ke konsumen akhir.
Tekanan inflasi ini akan menekan daya beli masyarakat konsumen secara langsung, memperlambat konsumsi domestik yang selama ini menjadi mesin pertumbuhan ekonomi di banyak negara. Bagi negara-negara berkembang yang mengandalkan impor energi, kombinasi kenaikan harga migas dan pelemahan mata uang domestiknya terhadap dolar AS akan menciptakan dampak pengganda berupa imported inflation yang sulit dikendalikan.
Risiko stagflasi—kombinasi pertumbuhan ekonomi yang melambat dengan inflasi tinggi—menjadi skenario yang semakin nyata jika konflik berlangsung lebih dari beberapa minggu. Presiden AS, Donald Trump, sempat mencetuskan pandangan bahwa durasi perang bisa lebih dari empat-lima pekan atau bisa lebih lama lagi terhitung sejak awal serangan 28 Februari lalu.
Bank-bank sentral global akan menghadapi dilema atau pilihan kebijakan yang sulit, yaitu antara opsi melonggarkan kebijakan moneter (dovish policy) untuk menopang pertumbuhan ekonomi atau mempertahankan suku bunga tinggi (hawkish policy) untuk meredam inflasi. Yang pasti, pengalaman empiris bertahun-tahun telah menunjukkan bahwa dalam situasi supply shock energi, ruang gerak kebijakan moneter sangat terbatas. Pilihan yang tersedia hanya antara menahan suku bunga kebijakan atau menaikkan suku bunga acuan.
GUNCANGAN PASAR KEUANGAN GLOBAL
Salah satu kanal transmisi risiko geopolitik—khususnya perang Iran—ialah melalui sektor keuangan. Pasar saham global mengalami koreksi pada fase awal konflik di Iran, didorong oleh peningkatan tajam dalam premi risiko dan ketidakpastian. Bursa saham di negara-negara maju dan berkembang kompak melemah berkisar 1% hingga 3% setelah kabar agresi perdana Israel ke Iran meluas ke berbagai kanal media utama.
Pola historis menunjukkan, jika konflik bersifat terbatas --dalam cakupan dan durasi-- dan tidak meluas menjadi perang regional, pasar saham cenderung pulih dalam rentang waktu tiga hingga enam bulan. Namun, pemulihan mungkin tidak merata di semua sektor.
Sektor pertahanan dan energi cenderung akan mengungguli pasar secara keseluruhan, sementara sektor teknologi, konsumen diskresioner –lantaran sektor ini sangat sensitif terhadap siklus ekonomi, berkembang saat ekonomi kuat dengan daya beli tinggi dan menurun saat resesi ekonomi, dan industri menghadapi tekanan lebih berat akibat kekhawatiran terhadap perlambatan permintaan dan gangguan rantai pasok.
Hanya saja, bursa saham Indonesia mungkin menghadapi risiko ganda dari arus modal keluar (capital outflows) dan pelemahan atau depresiasi nilai tukar rupiah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi mengalami koreksi yang lebih dalam –dan ini sudah terbukti ketika IHSG berbalik arah dari level 9.000-an menuju level 7.300-an-- dibandingkan bursa regional lainnya, mengingat besarnya sensitivitas pasar modal domestik terhadap sentimen global dan ketergantungan pada investasi asing.
Pengalaman historis menunjukkan, pasar keuangan cenderung bereaksi lebih cepat dan lebih volatile ketimbang sektor riil. Pada akhirnya, kecepatan dan ketepatan pengambilan kebijakan oleh pemerintah dan otoritas terkait sangat menentukan cepat-lambatnya normalisasi pasar keuangan domestik. Dengan ketenangan dan kesigapan mengambil kebijakan secara taktis akan dengan segera menumbuhkan kembali kepercayaan pasar yang sebelumnya anjlok.
FENOMENA HARGA EMAS
Salah satu komoditas di luar migas yang mencuri perhatian ialah emas. Maklum, lonjakan harga emas yang extraordinary betul-betul mencengangkan. Emas, berdampingan dolar AS, menjadi komoditas atraktif yang diburu investor sebagai instrumen investasi paling menjanjikan saat ini. Harga emas di pasar dunia menembus rekor baru di atas US$6.000 per troy ons, didorong oleh lonjakan permintaan safe haven, ekspektasi pemangkasan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve, dan ketidakpastian geopolitik yang meningkat.
Para analis komoditas memperkirakan tren bullish emas akan bertahan hingga 2028, menjadikannya instrumen lindung nilai utama bagi investor global. Perak --sebagai komoditas investasi layaknya emas-- juga mencetak rekor di atas US$120 per troy ons, dengan proyeksi jangka menengah mencapai US$150 seiring rotasi investor ke aset komoditas dan ekspektasi inflasi tinggi yang berkelanjutan.
Investor di dalam negeri mungkin tidak pernah membayangkan harga emas per gram bisa menyentuh Rp3 jutaan setelah tahun lalu menembus Rp 2 jutaan. Bahkan kalau dirunut 15 tahunan ke belakang, harga emas per gram masih berkisar Rp500 ribuan. Entah berapa banyak pemilik emas yang bersifat konservatif telah memetik gain atau selisih keuntungan antara harga beli waktu itu dan harga jual saat ini.
Untuk harga minyak mentah di pasar dunia diprediksi mengalami volatilitas ekstrem, dengan potensi lonjakan tajam pada fase awal konflik tapi rentan terhadap koreksi cepat jika konflik berakhir lebih singkat dari ekspektasi pasar. Pola ‘buy the rumor, sell the news’ –bukan ‘buy on weakness and sell on strength’ yang berlaku di bursa saham-- sering terjadi pada komoditas energi dapat menciptakan peluang jual beli.
Secara khusus aset kripto menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap risiko global, termasuk risiko geopolitik, dengan potensi koreksi berkisar 5% pada fase awal ketidakpastian, meskipun pemulihan dapat segera terjadi jika konflik terbukti terbatas. Karakteristik kripto sebagai aset berisiko tinggi membuatnya jauh lebih rentan terhadap likuidasi (penjualan) massal ketimbang instrumen safe haven tradisional.
SIKAP BERJAGA-JAGA
Eskalasi perang Iran yang simpang siur –menyusul munculnya berita-berita digital yang tidak terkonfirmasi kebenaran sumbernya— mendorong sikap berhati-hati dan berjaga-jaga dilakukan oleh setiap negara, baik mereka yang berkonflik maupun mereka yang tidak berkonflik.
Reaksi pasar keuangan dalam tiga pekan terakhir sejak serangan perdana oleh Israel ke Iran dominasi sentimen risk-off yang kuat, disusul aksi pelarian modal ke aset safe haven dan koreksi tajam di pasar berisiko. Volatilitas diperkirakan mencapai puncaknya pada fase ini, dengan pergerakan harga yang sering kali melampaui fundamental jangka panjang.
Dampak jangka menengah dalam rentang satu hingga enam bulan ke depan sangat bergantung pada durasi dan intensitas konflik. Sekali lagi, jika konflik bersifat terbatas dengan target selektif dan durasi pendek, maka pasar cenderung pulih relatif cepat menyusul redanya ketidakpastian. Sebaliknya, jika konflik meluas –katakanlah menjadi perang regional yang melibatkan sekutu kedua belah pihak, maka dampak ekonominya akan jauh lebih kompleks, struktural, dan berkepanjangan.
Respons kebijakan dari bank-bank sentral utama dunia akan jauh lebih hati-hati di tengah kesimpangsiuran data dan informasi. Pendek kata, mereka, sebut saja The Fed, Bank Sentral Eropa (ECB), Bank of Japan (BoJ), Bank of England (BoE), dan bank-bank sentral lainnya akan menghadapi trade-off yang sulit --antara mendukung pertumbuhan ekonomi (pro growth policy) dan mengendalikan inflasi serta nilai tukar mata uang domestiknya (pro stability policy).
Sikap hati-hati dan berjaga-jaga dilatarbelakangi oleh pemikiran bahwa perang Iran berpotensi menciptakan supply shock energi global yang belum terjadi dalam lebih dari satu dekade, dengan transmisi langsung ke inflasi, volatilitas pasar keuangan lintas aset dan lintas negara, dan perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia.
Untuk disadari juga, dampak konflik telah dan akan menjalar ke sektor-sektor lainnya di luar sektor energi -misalnya manufaktur, penerbangan, pelayaran, konstruksi, properti, logistik, dan pariwisata dalam arti luas. Dengan demikian, kewaspadaan tinggi diperlukan seraya menyusun paket kebijakan ekonomi yang tepat, terukur, dan konstruktif supaya roda perekonomian sebisa mungkin tetap bergerak.
Durasi perang menjadi penentu utama apakah dampak eskalatifnya bersifat sementara atau berkepanjangan, sementara respons kebijakan koordinatif antara otoritas moneter (bank sentral) dan otoritas fiskal serta ketenangan produsen energi dan pebisnis global menyikapi keadaan akan menentukan kecepatan stabilisasi pasar.
Selama eskalasi belum mereda dan jalur diplomasi belum membuahkan hasil nyata, ketidakpastian akan tetap tinggi dan volatilitas pasar keuangan akan menjadi watak dominan dalam lanskap ekonomi global.
Federal Reserve resmi menahan suku bunga di level 3,5%-3,75%. Jerome Powell soroti dampak ketidakpastian perang terhadap inflasi dan tegaskan tak akan mundur.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney meminta G7 melepas cadangan minyak strategis untuk meredam lonjakan harga akibat perang Iran dan penutupan Selat Hormuz.
Program Gerakan Pangan Murah digelar Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah saat Ramadan untuk menstabilkan harga kebutuhan pokok sekaligus mengendalikan inflasi.
Harga minyak mentah melonjak melewati US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak 2022.
UNTUK mengendalikan inflasi menjelang hari besar keagamaan nasional (HBKN) pada bulan suci Ramadan, Pemerintah Kabupaten Toba kembali menggelar gerakan pasar murah (GPM) di Kecamatan Uluan.
Perekonomian Amerika Serikat (AS) diperkirakan tidak akan mengalami stagflasi. Menteri Keuangan Janet Yellen mengatakan itu dalam wawancara yang disiarkan pada Rabu (13/3).
Pemerintah menurunkan tingkat suku bunga KUR Super Mikro menjadi 3%, demi menghadapi risiko stagflasi dan wujud keberpihakan pada pekerja yang terkena PHK.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved