Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Disparitas Desa-Kota dan Arus Balik Pasca-Lebaran

Bagong Suyanto Guru Besar Sosiologi Ekonomi FISIP Universitas Airlangga
26/3/2026 05:05
Disparitas Desa-Kota dan Arus Balik Pasca-Lebaran
(MI/Seno)

KETIKA jalan-jalan sepanjang koridor yang menghubungkan kota-desa makin ramai, bahkan macet, sementara kota-kota besar mulai ditinggal penduduknya, maka itulah momen mudik Lebaran. Mudik, yang secara harfiah berarti pulang kampung atau pulang ke udik (desa), adalah sebuah arus mobilitas massal masyarakat pulang ke kampung halaman yang tidak hanya populer di kalangan umat Islam, tetapi telah menjadi bagian dari tradisi tahunan masyarakat Indonesia yang multipluralis.

Tidak peduli seberapa lelah dan berapa pun dana yang dikeluarkan, menjelang perayaan Hari Raya Idul Fitri, seratus juta lebih penduduk keluar rumah menembus kemacetan jalan untuk dapat kembali ke desa asalnya.

Dari hasil survei yang dilakukan Kemenhub, di tahun 2026 ini jumlah arus mudik Lebaran memang turun 1,75% jika dibandingkan dengan tahun 2025. Di tahun 2026 jumlah penduduk yang mudik dilaporkan sebesar 143,9 juta jiwa. Di tahun 2025, jumlah penduduk yang mudik dilaporkan 146 juta jiwa. Namun, dalam kenyataan arus penduduk mudik di tahun 2026 bukan tidak mungkin lebih banyak daripada yang diperkirakan.

Sebanyak 53% dari total pemudik sebanyak 143,9 jiwa atau 76,24 juta jiwa menurut proyeksi mereka naik kendaraan pribadi. Gelombang pertama mudik pada 13 Maret lalu, dan gelombang kedua antara 16 dan 17 Maret. Adapun puncak arus balik terjadi pada 24 Maret dan akan terjadi juga pada 28 Maret 2026. Diduga, jumlah arus balik akan lebih besar karena ada sejumlah saudara dan teman di kampung halaman yang ikut mengadu nasib mencari pekerjaan di kota besar.

 

MAKNA MUDIK

Mudik, yang diikuti oleh arus balik, adalah ritual sosial-budaya kolosal yang menunjukkan kuatnya ikatan kekeluargaan dan kearifan lokal dalam masyarakat kita. Ini adalah momen ketika kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan kota menengah lain —sebagai pusat urbanisasi— pelan-pelan mulai lenggang, sementara desa-desa menjadi pusat keramaian rutin tahunan akibat mudik.

Kota-kota besar yang mengalami proses ‘urbanisasi berlebih’, sepanjang bulan Ramadan dan perayaan Idul Fitri akan tampak lebih sepi karena sebagian besar masyarakat memilih pulang ke kampung halaman (Evers, 2002).

Dalam kacamata sosiologi, mudik adalah ‘perjalanan spiritual sarat makna’ dan alat pemenuhan kebutuhan psikologis untuk melepaskan penat setelah setahun mengadu nasib dan bekerja di kota. Mudik mencerminkan masih kuatnya nilai-nilai kekeluargaan, kerinduan untuk bertemu sanak-saudara dan teman-teman, serta silaturahim. Ada dorongan kuat untuk kembali ke asal-usul, berziarah ke makam leluhur, dan melakukan penyempurnaan ibadah. Ini adalah momen yang sakral sekaligus kental dengan semangat persaudaraan.

Secara garis besar, makna mudik bagi masyarakat Indonesia ialah: Pertama, momentum untuk melaksanakan reintegrasi sosial. Para migran yang mengadu nasib pergi ke kota kini kembali ke komunitas asalnya untuk memperkuat kembali tali silaturahim –sembari memperlihatkan status sosial barunya setelah merantau.

Ketika mudik, sudah lazim orang-orang akan pulang dengan baju baru, sepeda motor baru, mobil baru, dan berbagai pernik yang memperlihatkan perbaikan status mereka yang berbeda dengan sebelumnya. Mudik adalah kesempatan untuk mendemonstrasikan kisah sukses dan keberhasilan anak-anak desa yang kini merantau dan bekerja di kota.

Bagi masyarakat di desa asal, kisah sukses para perantau adalah magnet yang membuat mereka terdorong melakukan hal yang sama, yakni berurbanisasi ke berbagai kota besar untuk mencari pekerjaan dan masa depan.

Kedua, mudik adalah momentum untuk mengembangkan proses redistribusi ekonomi. Perputaran tabungan dan uang THR yang dibawa dari kota ke desa, belanja di kampung, hingga sumbangan ke tempat ibadah di desa merupakan multiplier effect yang timbul akibat tradisi mudik. Perputaran uang di bulan Ramadan dan sekitar Lebaran cenderung naik di berbagai desa dan sepanjang koridor jalan menuju desa.

 

Omzet produk-produk UMKM biasanya naik karena banyak dibeli untuk buah tangan. Warung-warung di perdesaan umumnya tampak lebih bergairah dan bahkan ramai dikunjungi para pembeli. Pendek kata, perputaran uang di desa melonjak drastis bersamaan dengan kedatangan para migran ke desa asalnya.

Ketiga, momentum untuk melakukan ‘penyucian’ diri. Pertemuan kembali dengan orangtua dan keluarga dianggap mampu menyucikan batin dan memberikan kebahagiaan tersendiri bagi para pemudik. Meskipun teknologi komunikasi seperti video call, Whatsapp, dan media sosial yang lain semakin maju dan bisa memfasilitasi komunikasi dengan keluarga asal, masyarakat merasa tradisi mudik secara offline tetap tak tergantikan.

Bertemu dan bercengkerama bersama keluarga secara offline adalah kemewahan yang jarang diperoleh para pemudik selama mereka bekerja di kota besar. Inilah yang menyebabkan masyarakat masih memilih pulang ke kampung meski ada video call atau teknologi informasi yang bisa dimanfaatkan untuk berkomunikasi dengan semua orang.

 

ARUS BALIK

Jika mudik berbicara tentang kerinduan, maka arus balik berbicara tentang hal-hal yang realistis. Arus balik merupakan pergerakan kembali ke kota besar untuk melanjutkan hidup dan pencarian nafkah sehari-hari. Euforia Lebaran pelan-pelan mulai ditinggalkan dan ketika mereka kembali ke kota untuk mencari nafkah, maka masyarakat akan dihadapkan kembali pada tantangan dan tuntutan hidup sehari-hari yang tidak ringan.

Selama ini, arus balik sering kali membawa lebih dari sekadar kerabat yang ikut ke kota. Arus balik adalah titik di mana individu kembali beradaptasi dengan ritme perkotaan yang cepat dan kompetitif. Ketika desa-desa makin kehilangan daya tarik dan kemampuan involutifnya untuk menyerap tenaga kerja yang masuk, maka tidak ada pilihan lain yang realistis dilakukan –kecuali ikut arus balik dan berusaha mencari nafkah dengan cara bekerja di kota besar.

Saat ini, jujur harus diakui bahwa di kalangan anak muda, minat mereka untuk bekerja di sektor pertanian banyak berkurang. Nyaris tidak ada anak muda yang tertarik melanjutkan pekerjaan orangtuanya menjadi petani atau buruh tani. Anak muda lebih tertarik menjadi kaum migran yang mengadu mencari nafkah di kota besar.

Sebagian perempuan muda memilih menjadi migran juga untuk menghindari tekanan orangtua yang meminta mereka menikah di usia dini. Pendek kata, bagi generasi muda, pertanian dan suasana perdesaan tidak lagi menarik minat mereka.

Arus balik ke Jakarta diperkirakan sudah sekitar 2,6%. Para pemudik biasanya akan membawa sanak-keluarga dan teman yang berkeinginan bekerja di kota. Meski di kota besar mereka tidak mampu masuk pada sektor-sektor perekonomian firma yang mensyaratkan latar belakang pendidikan yang tinggi, animo penduduk desa untuk melakukan urbanisasi terus naik dari tahun ke tahun. Di kota-kota besar, kaum migran biasanya akan masuk ke sektor informal, baik nonformal maupun sektor informal yang sifatnya ilegal.

Di kota-kota besar, sering kali para penguasa memilih mengembangkan pendekatan kota tertutup dan melakukan razia yang menyasar migran yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Para migran lebih banyak distigma sebagai pengganggu ketertiban kota, dan bahkan beban pembangunan.

Sepanjang disparitas desa-kota masih lebar dan kesempatan kerja di desa makin menipis akibat industrialisasi yang masuk missmatch dengan profil tenaga kerja lokal, maka sepanjang itu pula arus urbanisasi tetap tinggi. Arus balik pasca-Lebaran niscaya akan menyebabkan kota besar senantiasa mengundang migran untuk terus berdatangan.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya