Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Pelajaran Strategis dari Ketangguhan Militer Teheran\

Asep Setiawan Dosen hubungan internasional dan keamanan internasional, Universitas Muhammadiyah Jakarta
26/3/2026 05:00
Pelajaran Strategis dari Ketangguhan Militer Teheran\
(MI/Duta)

DUNIA dikejutkan peristiwa yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel secara serentak melancarkan serangan militer berskala masif ke wilayah Iran dalam dua operasi yang mereka beri nama Operation Epic Fury (AS) dan Operation Roaring Lion (Israel).

Serangan yang oleh banyak analis disebut sebagai 'keroyokan geopolitik' itu menghantam ratusan target militer, instalasi pertahanan, dan yang paling mengejutkan dunia, pusat kediaman para pemimpin tertinggi Iran di kawasan Pasteur Street, Teheran, termasuk markas Dewan Keamanan Nasional.

Tidak berhenti di situ. Dalam serangan serentak yang menargetkan berbagai kota di Iran itu, sebuah tragedi kemanusiaan yang memilukan terjadi di Minab, Provinsi Hormozgan: sebuah sekolah dasar perempuan bernama Shajareh Tayyebeh dihantam rudal, menewaskan sedikitnya 165 orang, sebagian besar ialah anak-anak, guru, dan orangtua yang sedang mengantarkan buah hati mereka ke kelas. Amnesty International dan para pakar PBB mengecam keras serangan itu sebagai pelanggaran hukum humaniter internasional yang berat.

Namun, di tengah duka dan debu kehancuran itu, dunia menyaksikan sesuatu yang tidak diduga para perencana militer AS dan Israel: Iran tidak runtuh. Iran membalas. Balasan mereka bukan sekadar serangan simbolis, melainkan gelombang rudal balistik, drone canggih, hingga misil hipersonik yang membuat sistem pertahanan musuh kewalahan. Itulah yang kemudian dikenal sebagai Operation True Promise IV.

Apa rahasia di balik ketangguhan militer Iran? Bagaimana sebuah negara yang diboikot Barat sejak Revolusi Islam 1979 mampu membangun mesin perang yang membuat dua kekuatan militer terbesar dunia harus berhitung ulang? Artikel ini berupaya menjawab pertanyaan tersebut melalui perspektif kajian hubungan internasional dan keamanan strategis.

 

DOKTRIN PERTAHANAN IRAN 

Salah satu kunci memahami Iran ialah memahami doktrin mereka. Selama puluhan tahun, Iran membangun apa yang para analis menyebut sebagai asymmetric endurance, doktrin ketahanan asimetris yang menempatkan pengawetan kemampuan serangan kedua (second-strike capability) di atas segala hal, ketimbang berupaya mencegah setiap serangan musuh. Artinya, Iran memang mungkin menderita kerugian awal, tetapi mereka memastikan mereka tetap mampu membalas dengan dahsyat. Itulah mengapa fasilitas produksi dan peluncuran rudal Iran dibangun di bawah tanah, didesentralisasi, dan tersebar sehingga sulit dihancurkan sekaligus.

Namun, kini doktrin itu telah bergeser lebih jauh. Pada Maret 2026, Komandan Markas Besar Khatam al-Anbiya, komando operasional tertinggi Iran, Mayor Jenderal Ali Abdollahi secara resmi mengumumkan bahwa doktrin militer Iran telah bertransisi dari defensive menjadi offensive, disertai pengerahan senjata-senjata baru yang lebih canggih dan taktik medan perang yang sepenuhnya diperbarui. Itu bukan sekadar retorika. Pergeseran itu merupakan pengakuan resmi dari transformasi yang telah berlangsung secara diam-diam selama bertahun-tahun.

Lebih jauh, Iran juga mengembangkan apa yang disebut Mosaic Defence Doctrine, strategi perang terdesentralisasi dengan setiap sel militer mampu beroperasi secara otonom meski kepemimpinan pusat dihancurkan. Itulah yang membuat Iran tetap berfungsi sebagai kekuatan militer bahkan setelah serangan dahsyat 28 Februari yang menargetkan para pemimpin mereka. Dikombinasikan dengan ancaman penutupan Selat Hormuz dan Bab al-Mandab, dua jalur energi vital dunia, Iran mampu mengubah konflik regional menjadi guncangan ekonomi global.

Mantan Komandan IRGC Mohammad Ali Jafari pernah mengungkapkan bahwa sejak 1990-an, konfrontasi langsung dengan Israel sudah dihitung sebagai skenario realistis dan itulah mengapa investasi besar-besaran pada teknologi rudal presisi dan drone terus dilakukan. Itu visi strategis jangka panjang, bukan reaksi dadakan.

 

ARSENAL PERANG MODERN IRAN

Dunia militer mungkin pernah meremehkan kemampuan tempur Iran. Kini, realitas membuktikan sebaliknya. Iran telah membangun arsenal yang terdiri dari drone Shahed generasi terbaru dengan sistem navigasi non-GPS, rudal balistik, rudal jelajah jarak jauh, dan yang paling mengkhawatirkan lawan, misil hipersonik keluarga Fattah.

Rudal Fattah-1, yang diperkenalkan pada 2023, mampu mencapai kecepatan hingga mach 15 dengan jangkauan 1.400 kilometer, menggunakan bahan bakar padat dan dirancang untuk bermanuver baik di dalam maupun di luar atmosfer, membuat sistem intersepsi seperti Iron Dome dan baterai Patriot nyaris tak berdaya.

Penerusnya, Fattah-2, memperpanjang jangkauan hingga 1.500 kilometer dengan jalur penerbangan yang semakin tidak terduga berkat teknologi hypersonic glide vehicle berbahan bakar cair. Ditambah dengan misil Khorramshahr-4 dan Khyber, Iran memiliki lapisan kemampuan serangan yang saling melengkapi dan sulit dinetralisasi secara bersamaan.

Dalam konteks perang Juni 2025, konflik yang mendahului eskalasi 2026, Iran berhasil meluncurkan lebih dari 350 rudal balistik dan drone hipersonik dalam waktu kurang dari 6 jam, melumpuhkan lebih dari 70% sistem pertahanan Iron Dome Israel melalui kombinasi volume serangan dan presisi tinggi. Itu bukan keberuntungan. Itu hasil dari program penelitian dan pengembangan persenjataan yang konsisten selama puluhan tahun, diperkuat kerja sama strategis dengan Rusia dalam pengembangan teknologi luar angkasa dan pertahanan.

 

MANAJEMEN ANGGARAN PERTAHANAN IRAN

Ini dimensi yang sering luput dari perhatian publik: bagaimana Iran membiayai semua itu? Faktanya, meskipun sanksi multilateral terbukti dapat menekan anggaran militer Iran, studi ilmiah menunjukkan sanksi multilateral dapat memangkas belanja militer Iran hingga 77% dalam jangka panjang, Iran secara konsisten menemukan cara untuk memprioritaskan industri pertahanan mereka.

Indikator paling konkret ialah ini: anggaran militer Iran untuk 2025 melonjak 35% menjadi sekitar US$23,1 miliar, bahkan di tengah tekanan ekonomi dan inflasi yang berat akibat sanksi. Angka itu mencerminkan pilihan politik yang tegas dari kepemimpinan Iran: pertahanan ialah prioritas yang tidak dapat dikompromikan. Peningkatan anggaran itu juga merupakan sinyal kepada Barat bahwa sanksi justru memperkuat tekad Iran untuk mandiri secara pertahanan, bukan melemahkannya.

Ironisnya, sanksi Barat selama puluhan tahun justru memaksa Iran untuk mengembangkan industri pertahanan domestik yang mandiri. Ketika tidak bisa membeli senjata dari luar, Iran terpaksa memproduksinya sendiri, dan dalam prosesnya, melahirkan generasi insinyur dan ilmuwan pertahanan yang kini mampu menghasilkan teknologi kelas dunia. Jenderal Abdollahi sendiri menekankan bahwa Angkatan Bersenjata Iran kini semakin luas memanfaatkan bakat ilmuwan-ilmuwan muda yang termotivasi untuk mengembangkan persenjataan mutakhir.

Di sinilah letak pelajaran terpenting tentang kepemimpinan dan disiplin militer Iran: kemampuan untuk mengalokasikan sumber daya yang terbatas secara efisien, menghindari pemborosan birokrasi, dan memastikan bahwa investasi pertahanan benar-benar menghasilkan kapabilitas riil di lapangan.

Dunia militer di negara-negara berkembang, termasuk di Asia Tenggara, perlu mencermati model ini: kekuatan pertahanan sejati bukan hanya soal besarnya anggaran, melainkan juga tentang bagaimana anggaran itu dikelola dengan disiplin, transparansi, dan orientasi strategis yang jelas.

Peristiwa 28 Februari 2026 mengajarkan pelajaran yang keras kepada dunia: agresi militer dari luar akan selalu menjadi ancaman nyata bagi kedaulatan sebuah negara dan satu-satunya penjamin sejati kedaulatan ialah kapabilitas pertahanan yang kuat, mandiri, dan berdoktrin.

Iran, dengan segala kompleksitas politik mereka, telah menunjukkan bahwa bahkan negara yang diboikot dan diisolasi selama hampir setengah abad pun mampu membangun kekuatan militer yang membuat kekuatan-kekuatan adidaya harus berpikir dua kali.

Yang tak kalah penting ialah kekompakan kepemimpinan politik dan militer dalam membangun pertahanan secara berkelanjutan, sebuah proses yang tidak dapat dihentikan hanya oleh tekanan ekonomi atau isolasi diplomatik.

Para pemimpin yang menjadikan kemandirian pertahanan sebagai prioritas nasional, yang mendorong inovasi ilmu pengetahuan pertahanan domestik, dan yang memastikan manajemen anggaran militer bebas dari korupsi, sedang membangun fondasi terkuat bagi kedaulatan bangsa mereka.

Bagi negara-negara yang kini menyaksikan konflik itu dari kejauhan, pesan Iran sangat jelas: bangun kekuatan Anda sendiri, percayakan pada ilmuwan dan prajurit Anda sendiri, dan jangan biarkan tekanan eksternal menghentikan investasi Anda dalam pertahanan. Karena ketika agresi datang, dan sejarah menunjukkan ia selalu datang, hanya kekuatan yang sungguh-sungguh mandiri yang akan mampu berdiri dan membalas.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya