Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

The Fed Tahan Suku Bunga di Tengah Perang Iran dan Tekanan Politik Donald Trump

Thalatie K Yani
19/3/2026 06:22
The Fed Tahan Suku Bunga di Tengah Perang Iran dan Tekanan Politik Donald Trump
Federal Reserve resmi menahan suku bunga di level 3,5%-3,75%. Jerome Powell soroti dampak ketidakpastian perang terhadap inflasi dan tegaskan tak akan mundur.(The Fed)

BANK sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), resmi memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan dalam rapat kebijakan pada Rabu (18/3/2026). Keputusan ini diambil di tengah upaya para pembuat kebijakan menavigasi ekonomi yang terjepit di antara inflasi yang tinggi, kondisi pasar tenaga kerja yang fluktuatif, dan pecahnya perang dengan Iran.

Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) memberikan suara 11-1 untuk menjaga suku bunga tetap berada di kisaran 3,5% hingga 3,75%. Meski menahan suku bunga, "dot plot" terbaru menunjukkan pejabat The Fed masih memproyeksikan satu kali pemotongan suku bunga pada tahun ini dan satu lagi pada tahun 2027.

Ketidakpastian Akibat Perang

Faktor utama yang membayangi keputusan kali ini adalah perang dengan Iran yang telah berlangsung selama tiga minggu. Gangguan di Selat Hormuz telah mengguncang pasar minyak global dan mengancam target inflasi 2% yang ditetapkan The Fed.

"Implikasi dari perkembangan di Timur Tengah terhadap ekonomi AS masih belum pasti," tulis pernyataan resmi FOMC.

Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, dalam konferensi persnya menyatakan bahwa masih terlalu dini untuk mengukur dampak jangka panjang dari konflik tersebut. "Ukuran ekspektasi inflasi jangka pendek meningkat dalam beberapa pekan terakhir, kemungkinan mencerminkan kenaikan substansial harga minyak yang disebabkan oleh gangguan pasokan di Timur Tengah," ujar Powell.

Proyeksi Ekonomi dan Inflasi

The Fed merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi AS menjadi 2,4% tahun ini, sedikit lebih cepat dibandingkan perkiraan Desember lalu. Namun, ekspektasi inflasi juga meningkat ke angka 2,7%. Pejabat bank sentral berharap inflasi akan melandai kembali ke angka 2% seiring meredanya dampak tarif dan perang di masa depan.

Di sisi internal, Gubernur Stephen Miran menjadi satu-satunya yang memberikan suara berbeda (dissenting), dengan mengusulkan pemotongan 0,25% karena kekhawatiran terhadap iklim lapangan kerja.

Tekanan Politik dan Drama Subpoena

Keputusan ini diambil di tengah tensi politik yang memanas. Presiden Donald Trump terus mendesak Powell untuk menurunkan suku bunga guna melonggarkan ekonomi. Masa jabatan Powell sendiri akan berakhir pada Mei mendatang, dan Trump telah menunjuk Kevin Warsh sebagai penerusnya.

Namun, transisi kepemimpinan ini terhambat oleh perselisihan hukum. Jaksa AS Jeanine Pirro telah melayangkan subpoena terhadap Powell terkait renovasi gedung markas besar Fed. Powell menolak tuntutan tersebut dan menuduh langkah itu sebagai taktik politik untuk menekannya agar memangkas suku bunga.

Menanggapi spekulasi mengenai pengunduran dirinya, Powell menegaskan posisi kuatnya. "Saya tidak berniat meninggalkan dewan sampai penyelidikan benar-benar selesai, dengan transparansi dan finalitas," tegasnya.

Powell juga menyatakan belum memutuskan apakah akan tetap berada di jajaran Dewan Gubernur setelah masa jabatannya sebagai Ketua berakhir, mengingat masa bakti gubernurnya baru akan habis pada awal 2028. (CNBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik