Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
FEDERAL Reserve (The Fed) hampir dipastikan akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam keputusan kebijakan terbaru yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu (28/1) sore waktu setempat. Namun, rapat kali ini bukan sekadar soal arah moneter, melainkan juga menjadi panggung ujian independensi bank sentral di tengah tekanan politik yang semakin terbuka dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Pasar nyaris sepakat bahwa tidak akan ada perubahan suku bunga dalam pertemuan ini. Berdasarkan pergerakan kontrak berjangka dan sinyal dari para pejabat The Fed, peluang penyesuaian suku bunga mendekati nol. Setelah serangkaian pemangkasan pada tahun lalu, bank sentral AS kini diperkirakan memilih strategi “bertahan sambil mengamati” dampak kebijakan sebelumnya terhadap ekonomi.
“Fed pada dasarnya hanya ingin menahan suku bunga di level saat ini. Mereka merasa masih punya ruang untuk menunggu dan melihat,” ujar mantan Wakil Ketua The Fed, Roger Ferguson, dilansir dari CNBC Internasional, Rabu (28/1)
Menurutnya, pertemuan kali ini lebih menekankan sikap hati-hati dibanding langkah agresif. Investor pun akan mencermati apakah ada sinyal kecil mengenai langkah selanjutnya dalam pernyataan resmi FOMC maupun konferensi pers Ketua The Fed Jerome Powell.
Pasar memperkirakan The Fed masih mungkin memangkas suku bunga satu hingga dua kali sepanjang tahun ini, dengan peluang terbesar pada Juni dan Desember, berdasarkan CME FedWatch Tool.
Sorotan tajam terhadap rapat ini tidak hanya datang dari pelaku pasar, tetapi juga dari Gedung Putih. Trump kembali meningkatkan tekanan dengan menyebut bahwa ia telah mempersempit kandidat pengganti Powell menjadi satu nama, dan pengumuman bisa dilakukan dalam waktu dekat, berpotensi bertepatan dengan keputusan suku bunga.
“Jika ada satu momen paling strategis, itu adalah selama rapat FOMC Januari, terutama jika Trump ingin mengalihkan perhatian dari keputusan Fed yang tidak memangkas suku bunga,” tulis Kepala Ekonom Wolfe Research, Stephanie Roth.
Situasi semakin rumit setelah Powell turut menghadapi penyelidikan Departemen Kehakiman AS terkait proyek renovasi besar kantor pusat The Fed di Washington. Dalam pernyataan yang jarang dilontarkan, Powell menyebut penyelidikan tersebut sebagai “dalih” yang digunakan untuk menekan bank sentral agar memangkas suku bunga lebih cepat.
Tekanan politik juga merembet ke internal bank sentral, dengan munculnya upaya menggoyang posisi Gubernur Fed Lisa Cook atas tuduhan penipuan hipotek. Selain itu, masa jabatan Stephen Miran, pejabat Fed yang dikenal vokal menentang pemangkasan suku bunga seperempat poin tahun lalu, juga berakhir, menambah dinamika baru di tubuh lembaga tersebut.
Para ekonom menilai bahwa meskipun tekanan dari Trump menguat, data ekonomi belum memberikan alasan kuat bagi The Fed untuk terburu-buru memangkas suku bunga.
“Meskipun Fed menghadapi tekanan politik untuk memangkas suku bunga, mereka tidak sedang ditekan oleh data ekonomi,” tulis Kepala Ekonom EY-Parthenon, Gregory Daco.
Ia memperkirakan Powell akan menghindari komentar langsung terkait penyelidikan maupun proses hukum yang berjalan, demi menjaga fokus pada mandat ekonomi.
Jika tidak ada kejutan politik baru, pasar akan kembali mengunci perhatian pada nada kebijakan The Fed: apakah bersifat hawkish, yang menandakan jeda panjang tanpa pemangkasan, atau dovish, yang membuka pintu pelonggaran lanjutan.
Kepala Ekonom Morgan Stanley, Michael Gapen, menilai The Fed masih condong ke arah dovish.
“Kami tidak percaya komite siap memberi sinyal bahwa siklus pemangkasan suku bunga sudah selesai,” tulisnya.
Gapen menambahkan bahwa stabilnya pasar tenaga kerja serta meredanya tekanan inflasi memberi ruang bagi The Fed untuk tetap menjaga bias pelonggaran ke depan, meskipun tekanan politik semakin intens. (CNBC/Z-10)
Managing Director, Chief India Economist and Macro Strategist, Asean Economist HSBC Pranjul Bhandari menyebut masih ada kemungkinan Bank Indonesia terus memangkas suku bunga.
Update pasar saham properti 9 Januari 2026. Saham DILD dan ASRI catatkan kenaikan signifikan di tengah sentimen IKN dan suku bunga, sementara APLN bergerak moderat.
Bank Indonesia (BI) menyebut penurunan suku bunga kredit perbankan cenderung lebih lambat. Karena itu, BI memandang penurunan suku bunga kredit perbankan perlu terus didorong.
Ekonom Hossiana Evalisa Situmorang menyebut keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen agar transmisi suku bunga lebih cepat
DEWAN Gubernur Bank Indonesia menyebut masih ada ruang penurunan suku bunga ke depan.
Kesepakatan tersebut ditandatangani pada 2010 oleh Presiden AS saat itu Barack Obama dan Presiden Rusia Dmitry Medvedev, dan mulai berlaku pada 5 Februari 2011.
BINTANG global asal Puerto Rico, Bad Bunny, sukses menyulap panggung Super Bowl 2026 di California menjadi pesta jalanan raksasa.
Green Day tampil memeriahkan acara pembukaan Super Bowl LX di Levi’s Stadium, California, Minggu (8/2).
Taipan media Jimmy Lai dijatuhi hukuman 20 tahun penjara atas tuduhan keamanan nasional. Dunia internasional kini menanti langkah Donald Trump.
Pemimpin dunia, termasuk Narendra Modi dan Donald Trump, memberikan selamat atas kemenangan bersejarah PM Sanae Takaichi dan partai LDP di Pemilu Jepang.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump berencana menggelar pertemuan perdana Dewan Perdamaian atau Board of Peace pada 19 Februari mendatang di Washington.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved