Headline

Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.

Perang AS-Iran Memasuki Pekan Kedua, Akankah Menjadi "Laga Panjang" bagi Trump?

Thalatie K Yani
10/3/2026 03:58
Perang AS-Iran Memasuki Pekan Kedua, Akankah Menjadi
Perang Amerika Serikat dan Iran memasuki pekan kedua tanpa tanda-tanda deeskalasi. Simak analisis tantangan politik Donald Trump, lonjakan harga BBM, hingga spekulasi durasi konflik.(AFP)

MEMASUKI pekan kedua, peperangan antara Amerika Serikat dan Iran belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Di balik desing peluru di Timur Tengah, garis haluan politik di Washington mulai menajam, memicu pertanyaan besar mengenai seberapa lama konflik ini akan bertahan dan apa dampaknya bagi posisi domestik Presiden Donald Trump.

Berbeda dengan serangan kilat terhadap fasilitas nuklir Iran tahun lalu atau penggulingan Presiden Venezuela Nicolás Maduro yang bersifat operasional satu hari, perang kali ini tampak jauh lebih kompleks. Administrasi Trump memberikan kerangka waktu yang simpang siur, mulai dari hitungan hari hingga durasi yang tidak ditentukan.

Trump menegaskan bahwa perang ini hanya akan berakhir dengan "penyerahan tanpa syarat" dari pihak Iran. Ambisi besar untuk memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir diprediksi akan memakan waktu lama, bahkan berisiko melibatkan pasukan darat (boots on the ground).

Sentimen Publik dan Lonjakan Harga BBM

Secara politik, perang ini tidak populer. Rata-rata survei dari berbagai lembaga menunjukkan tingkat dukungan yang rendah. Salah satu pemicu utamanya adalah lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM). Meski Trump berdalih bahwa kenaikan harga adalah "harga kecil yang harus dibayar" untuk keamanan, publik Amerika tampaknya tidak sepakat.

Data jajak pendapat Reuters-Ipsos menunjukkan 45% warga Amerika, termasuk 34% pemilih Republik, cenderung menentang perang jika harga BBM terus meroket. Inflasi ini diprediksi akan menjadi beban berat bagi Partai Republik menjelang Pemilihan Paruh Waktu 2026.

Ketidakpastian Justifikasi Perang

Hal lain yang menjadi sorotan adalah inkonsistensi pemerintah dalam menjelaskan alasan mendasar perang ini. Awalnya, alasan yang digunakan adalah materi bom nuklir Iran, lalu berubah menjadi ancaman rudal balistik (ICBM), hingga klaim terbaru Trump bahwa Iran berencana mengambil alih seluruh Timur Tengah.

"Saya pikir mereka membuat kesalahan besar," ujar Trump dalam wawancara dengan ABC News, merujuk pada langkah Iran. Namun, perubahan narasi yang terus-menerus ini menciptakan celah kepercayaan di mata publik dan analis politik.

Dilema Dukungan Israel dan Korban Sipil

Hubungan AS dengan Israel juga berada di titik krusial. Dukungan warga Amerika terhadap Israel dilaporkan menurun drastis dalam beberapa bulan terakhir. Selain itu, investigasi Pentagon terhadap serangan yang menewaskan banyak anak di sebuah sekolah dasar di Iran menambah tekanan internasional.

Host Fox News, Laura Ingraham, memberikan peringatan keras kepada pemerintah. "[Pemerintah] harus segera menyelesaikan investigasi dan menyelesaikannya secara terbuka. Tragedi mengerikan yang tidak disengaja dari perang ini," tegasnya.

Kini, pertanyaannya bukan lagi sekadar siapa yang memenangkan pertempuran di lapangan, melainkan sejauh mana basis pendukung MAGA (Make America Great Again) tetap solid di belakang Trump jika korban jiwa terus berjatuhan dan ekonomi domestik kian tercekik. (CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya