Headline

Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.

Demonstrasi di Kedubes AS, Massa Desak RI Keluar dari Board of Peace dan Kutuk Serangan ke Iran

Rahmatul Fajri
09/3/2026 19:44
Demonstrasi di Kedubes AS, Massa Desak RI Keluar dari Board of Peace dan Kutuk Serangan ke Iran
Ilustrasi(Dok Istimewa)

RATUSAN massa yang tergabung dalam Aliansi Nasional Anti Zionisme (ANAZ) dan Komite Solidaritas Palestina dan Yaman (KOSPY) menggelar aksi unjuk rasa di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (9/3/2026). Massa menuntut pemerintah Indonesia segera keluar dari keanggotaan Board of Peace (BOP).

Aksi ini merupakan respons atas meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah, menyusul serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran. Massa menilai keterlibatan Indonesia dalam blok BOP berpotensi merusak nilai-nilai konstitusi dan kedaulatan nasional.

Media Pers KOSPY, Zaid Ali menyatakan bahwa aksi ini adalah bentuk solidaritas terhadap negara-negara yang menjadi korban agresi di Timur Tengah.

"Indonesia tidak boleh menjadi alat kepentingan asing yang mengatasnamakan perdamaian, namun justru merusak kedaulatan nasional. Kami mendesak pemerintah dan legislatif untuk segera mengevaluasi dan memutus keterikatan dengan BOP," ujar Zaid Ali di Jakarta, Senin (13/3/2026).

Dalam pernyataan sikapnya, ANAZ dan KOSPY menyampaikan tujuh poin tuntutan. Salah satu poin utamanya adalah mengutuk keras agresi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Mereka menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk extrajudicial killing dan terorisme negara yang melanggar hukum internasional.

"Syahadah (gugurnya) pemimpin Iran bukanlah kekalahan, melainkan proklamasi kemenangan moral. Kami mengutuk agresi ini sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara dan prinsip kemanusiaan," tegas Zaid.

Massa juga menyoroti standar ganda negara-negara Barat dalam menanggapi isu hak asasi manusia dan konflik internasional. Selain Iran, mereka menyatakan solidaritas untuk rakyat Lebanon dan Yaman yang turut terdampak serangan di wilayah Beirut hingga Sana’a.

Terkait isu domestik, massa menyoroti keberadaan Board of Peace (BOP) yang dinilai sebagai pintu masuk kepentingan asing di Indonesia. ANAZ dan KOSPY mendesak adanya transparansi dan ketegasan pemerintah agar tidak terjebak dalam skenario geopolitik global yang merugikan posisi Indonesia sebagai negara non-blok.

Massa juga mewaspadai adanya taktik false flag atau operasi yang menggunakan simbol-simbol tertentu untuk mendiskreditkan pihak-pihak yang melakukan perlawanan di Timur Tengah.

Aksi yang berlangsung dengan pengawalan ketat aparat kepolisian ini berjalan kondusif. Massa menyatakan akan terus mengawal isu ini dan memberikan tekanan publik agar pemerintah mengambil sikap diplomasi yang lebih tegas dan independen di kancah global. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya