Headline

Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.

Sekolah sebagai Ruang Pemulihan

Anadia Shabrina Guru Bahasa Indonesia SMP Sukma Bangsa Bireuen
09/3/2026 05:10
Sekolah sebagai Ruang Pemulihan
(MI/Seno)

BAGAIMANA pendidikan dapat tetap berjalan ketika banjir merenggut kelas, fasilitas, bahkan rasa aman? Banjir merupakan bencana alam yang mencatat angka 62,86% dari total bencana di Indonesia pada Desember (BNPB, 2025). Bencana ini tidak hanya merusak infrastruktur dan mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat, tetapi juga berdampak signifikan terhadap keberlangsungan pendidikan. Sekolah terendam air berlumpur yang mengendap; sarana pembelajaran rusak; serta kondisi psikologis siswa terguncang menjadi tantangan pemulihan pendidikan pascabencana.

Dalam konteks ini, pembelajaran pascabencana dapat dianalogikan sebagai sebuah koin dengan dua sisi yang saling melengkapi. Di satu sisi, pembelajaran berperan mengembalikan fungsi sekolah sebagai institusi pendidikan formal. Di sisi lain, sekolah menjadi ruang pemulihan mental dan emosional bagi siswa yang terdampak bencana. Kedua peran ini tidak dapat dipisahkan karena pemulihan akademik tanpa pemulihan psikososial berisiko menghasilkan proses pembelajaran yang tidak bermakna. Lantas, seperti apa bentuk pendidikan yang ideal dalam situasi darurat?

 

PENDIDIKAN HOLISTIK PASCABENCANA

Pendidikan pascabencana tidak dapat dilaksanakan dengan pendekatan pembelajaran normal. Berbagai kajian tentang pendidikan pascabencana harus berorientasi pada kebutuhan siswa secara holistik. Sekolah diposisikan sebagai ruang aman yang memberikan rasa nyaman, stabilitas, dan harapan bagi siswa yang terdampak.

Widyastono (2012) menyebutkan tiga prinsip holistik, yakni relasi individu dengan lingkungan, tanggung jawab menjaga keharmonisan dengan alam, dan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Prinsip-prinsip ini memiliki relevansi yang kuat dalam pendidikan pascabencana karena mendukung pemulihan siswa secara menyeluruh, baik dari sisi sosial, emosional, maupun moral.

 

LITERASI SEBAGAI DUKUNGAN PSIKOSOSIAL

Prinsip-prinsip holistik tersebut bukan sekadar wacana. Wujud konkretnya dapat kita saksikan dalam pemulihan pendidikan pascabencana yang tecermin dari kolaborasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dengan Balai Bahasa dalam melaksanakan pendampingan psikososial bagi anak-anak korban banjir di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada 13-16 Desember. Aktivitas membaca, mendongeng, dan bermain menjadi media untuk membantu anak mengekspresikan perasaan serta membangun kembali rasa aman (Kemendikdasmen, 2025).

Temuan ini sejalan dengan studi Cay dan Demiroglari (2025) yang menekankan pentingnya integrasi intervensi kesehatan mental dalam sistem sekolah, seperti layanan konseling, terapi berbasis permainan, teknik relaksasi, dan program dukungan sebaya, sebagai bagian dari strategi pemulihan pendidikan yang berkelanjutan.

Semua strategi tersebut mensyaratkan adanya fleksibilitas dalam sistem pendidikan. Fleksibilitas inilah yang memberikan keleluasaan bagi guru menyesuaikan pembelajaran dengan kondisi nyata siswa dan lingkungan sekitar. Asesmen formatif, observasi sikap, serta refleksi belajar menjadi lebih relevan daripada penilaian sumatif yang semata-mata berorientasi pada angka. Keberhasilan pembelajaran pascabencana diukur dari kesiapan mental dan emosional siswa untuk kembali belajar, bukan sekadar capaian akademik.

 

PRAKTIK PEMBELAJARAN PASCABENCANA DI SMP SUKMA BANGSA BIREUEN

Prinsip fleksibel tersebut telah kami praktikkan di SMP Sukma Bangsa Bireuen. Meskipun sekolah tidak terdampak secara langsung oleh bencana banjir, proses pembelajaran tetap disesuaikan dengan kondisi siswa, mengingat sebagian siswa mengalami dampak langsung maupun tidak langsung dari peristiwa tersebut. Situasi ini menuntut sekolah untuk mengambil pendekatan yang lebih sensitif dan adaptif terhadap keberagaman pengalaman siswa, khususnya dalam aspek psikologis dan emosional.

Pada akhir semester, sekolah melakukan penyesuaian dalam pelaksanaan asesmen dengan mengganti asesmen sumatif konvensional menjadi penilaian berbasis portofolio. Selain penyesuaian asesmen, sekolah juga memanfaatkan momentum akhir semester melalui kegiatan class meeting yang dirancang tidak hanya sebagai aktivitas penutup pembelajaran, tetapi juga sebagai sarana pemulihan semangat, rasa percaya diri, dan kebersamaan siswa.

Sebelumnya, sekolah juga menyelenggarakan kegiatan art therapy melalui aktivitas melukis sebagai bagian dari upaya pendampingan psikososial. Kegiatan ini memberi ruang visual bagi siswa untuk menyalurkan emosi—membuktikan bahwa pendekatan sederhana tapi kontekstual mampu mendukung pemulihan psikologis mereka.

 

MENJAGA KESEJAHTERAAN GURU

Di tengah fokus pada pemulihan siswa, sering kali kita melupakan aktor utama di balik proses pembelajaran itu sendiri: para guru. Pascabencana, guru tidak hanya dituntut untuk mengajar, tetapi juga menjadi pendamping psikologis, pendengar yang sabar, dan penjaga harapan di kelas. Beban ganda ini tentu tidak ringan, terlebih jika guru juga merupakan korban bencana yang mengalami kerugian materi maupun trauma serupa.

Di SMP Sukma Bangsa Bireuen, guru dikuatkan melalui forum berbagi pengalaman dan kolaborasi merancang pembelajaran—ruang aman yang melepas beban emosional sekaligus saling menguatkan. Pemulihan pendidikan mensyaratkan guru yang resilien; dukungan psikososial dan kolaborasi antarguru mutlak agar mereka mampu menciptakan lingkungan belajar yang memulihkan.

 

MENUJU SEKOLAH TANGGUH BENCANA

Pembelajaran pascabencana pada akhirnya menegaskan kembali hakikat pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia. Ia bukan sekadar tentang mengatasi ketertinggalan kurikulum, melainkan tentang bagaimana sekolah mampu hadir sebagai oase di tengah krisis, tempat siswa dan guru bergandengan tangan untuk pulih dan bangkit kembali. Pendekatan humanistis, fleksibel, dan kolaboratif yang dijalankan oleh pemerintah, komunitas, dan sekolah membuktikan bahwa pemulihan itu mungkin dilakukan.

Namun, pekerjaan rumah masih terbentang luas. Kita tidak bisa hanya bersikap reaktif ketika bencana datang. Sudah saatnya setiap satuan pendidikan, terutama yang berada di daerah rawan bencana, mulai merancang ‘protokol pendidikan darurat’. Protokol ini tidak hanya berisi prosedur evakuasi fisik, tetapi juga strategi pembelajaran alternatif, modul darurat berbasis psikososial, peta dukungan komunitas, serta mekanisme pendampingan bagi siswa dan guru. Dengan perencanaan yang matang, ketika bencana tak terhindarkan, sekolah tidak akan gamang. Mereka akan siap bertransformasi, dari sekadar gedung tempat belajar menjadi ruang pemulihan yang tangguh dan penuh harapan.

Secara keseluruhan, pengalaman ini menunjukkan bahwa pendidikan pascabencana tidak hanya relevan bagi sekolah yang terdampak langsung, tetapi juga bagi sekolah di sekitarnya yang memiliki siswa dengan pengalaman bencana yang beragam. Melalui fleksibilitas asesmen, pemanfaatan kegiatan nonakademik, dan pendekatan psikososial yang terintegrasi, sekolah dapat berkontribusi dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan mendukung pemulihan siswa secara menyeluruh.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya