Headline
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA puluhan tahun, Indonesia terjebak dalam delusi bahwa mutu pendidikan bisa ditingkatkan hanya dengan menyuntikkan dana ke sekolah atau mengganti label kurikulum. Kita melupakan fondasi paling dasar dari peradaban: tripusat pendidikan (alam keluarga, alam perguruan, dan alam pergerakan pemuda). Sebuah konsep yang digagas bapak pendidikan kita sendiri, Ki Hadjar Dewantara. Tragisnya, kegagalan pendidikan kita hari ini bukan sekadar masalah teknis administratif, melainkan juga rusaknya relasi kemanusiaan antara rumah dan sekolah.
Pendidikan telah tereduksi menjadi sebuah transaksi ekonomi yang dingin. Hubungan antara orangtua dan sekolah kini tak ubahnya hubungan antara pembeli dan penjual di sebuah pusat perbelanjaan. Dampaknya? Sekolah kehilangan taringnya dan orangtua kehilangan jiwanya sebagai pendidik pertama.
TRAGISNYA BUDAYA ALIH DAYA DAN APATISME ORANG TUA
Kenyataan pahit di lapangan menunjukkan banyak orangtua Indonesia mengalami krisis kompetensi pengasuhan. Karena tidak tahu bagaimana mendidik anak di rumah, mereka mengambil jalan pintas: 'alih daya pendidikan' (outsourcing education)
. Logikanya sederhana, tetapi mematikan: "Saya sudah membayar mahal maka sekolah dan tempat bimbingan belajar (bimbel) harus menyulap anak saya menjadi genius dan berkarakter." Fenomena itu melahirkan sikap apatis. Orangtua merasa tugas mereka selesai setelah membayar uang sekolah atau biaya bimbel. Mereka tidak lagi hadir sebagai mitra pendidik bagi guru, tetapi sebagai 'investor' yang menuntut dividen berupa nilai rapor yang cantik. Ketika anak gagal, yang pertama kali disalahkan bukan lingkungan rumah yang toksik atau ketiadaan teladan, melainkan performa 'pelayan' di sekolah.
HUBUNGAN TRANSAKSIONAL: CUSTOMER IS KING DI RUANG KELAS
Hal yang paling menyedihkan ialah hilangnya kolaborasi antara orangtua dan pendidik. Relasi yang seharusnya bersifat kemitraan pedagogis telah bergeser menjadi relasi transaksional. Orangtua memosisikan diri sebagai konsumen dan sekolah sebagai penyedia jasa.
Dalam logika pasar, 'pembeli adalah raja'. Mentalitas itu membuat orangtua merasa berhak mengatur-atur situasi pembelajaran hingga mengintervensi otoritas profesional guru. Guru tidak lagi dipandang sebagai 'mahaguru' yang membimbing jiwa, tetapi sebagai 'karyawan' yang harus menyenangkan keinginan klien.
Contoh nyata intervensi yang merusak:
- Kriminalisasi disiplin: Sering kali kita mendengar guru yang dipolisikan hanya karena memberikan teguran fisik ringan atau hukuman disiplin yang edukatif. Orangtua, dengan mentalitas 'pembeli', merasa tidak terima 'aset mereka' disentuh, tanpa mau memahami konteks pembentukan karakter.
- Tirani grup Whatsapp
: WAG wali murid sering kali berubah menjadi forum 'hakim garis' yang mengkritik metode mengajar guru setiap jam, mengintervensi tugas harian, hingga mengatur jadwal ujian sesuai dengan kenyamanan pribadi anak mereka.
- Akrobat nilai: Banyak orangtua yang mengintimidasi guru untuk mengatrol nilai anak agar bisa lolos seleksi ke jenjang berikutnya. Mereka tidak peduli anak mereka benar-benar kompeten atau tidak; yang mereka beli ialah 'angka' untuk prestise sosial.
MATINYA ALAM PERGERAKAN PEMUDA DAN KEMANDIRIAN
Ketika sekolah dipaksa menjadi 'pabrik' yang harus menuruti pesanan orangtua dan rumah menjadi tempat 'mencuci tangan', alam pergerakan pemuda atau lingkungan masyarakat menjadi mati.
Anak-anak kita hari ini ialah generasi yang terpenjara antara sekolah dan bimbel. Mereka tidak punya waktu untuk berinteraksi dengan realitas sosial karena orangtua mereka menuntut jadwal yang padat demi hasil akademik instan. Akibatnya, kita melahirkan robot-robot cerdas yang gagap sosial, tidak memiliki empati, dan tidak tahu cara berjuang karena segala sesuatunya telah 'dibeli' dan 'diatur' orangtua mereka.
MENAGIH JANJI KOLABORASI
Mutu pendidikan Indonesia yang buruk ialah cerminan ekosistem yang pincang. Kita tidak akan pernah maju selama orangtua masih merasa bisa 'membeli' pendidikan tanpa mau terlibat berkeringat dalam proses pendampingan.
Pendidikan ialah kerja kolaboratif. Guru membutuhkan orangtua sebagai jangkar moral di rumah dan orangtua membutuhkan guru sebagai pemandu nalar di kelas. Jika hubungan itu terus tereduksi menjadi sekadar jual beli jasa, sekolah hanya akan menjadi tempat penitipan anak yang mewah, tetapi hampa makna.
Kebijakan publik ke depan harus berani mendefinisikan ulang peran orangtua. Kita butuh regulasi yang tidak hanya melindungi guru dari kriminalisasi, tetapi juga mewajibkan keterlibatan nyata orangtua dalam proses pendidikan. Sudah saatnya kita mengakhiri tirani 'pembeli adalah raja' di dunia pendidikan karena yang sedang kita pertaruhkan bukanlah barang dagangan, melainkan masa depan peradaban.
Komitmen FEB UNJ dalam menyiapkan generasi unggul melalui kurikulum internasional, dosen berpengalaman, dan jejaring mitra global.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Amien Suyitno menyatakan, capaian tersebut mencerminkan arah kebijakan pendidikan Islam yang semakin kompetitif dan adaptif.
KEMENTERIAN Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah merancang skenario penerapan kurikulum penanggulangan dampak bencana banjir dan lonsor yang terjadi di Sumatra dan Aceh.
Inisiasi Smart Integrated Dashboard Vokasi merupakan tindaklanjut arahan Presiden pada rapat kabinet tanggal 4–5 November lalu.
Sistem pendidikan yang kolaboratif merupakan kunci dalam mencetak generasi masa depan yang berkarakter, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan global.
Dokter mengingatkan orang tua untuk melengkapi imunisasi anak minimal dua pekan sebelum mudik Lebaran.
Child grooming bisa berawal dari kedekatan semu. Orangtua jadi benteng pertama dengan parenting protektif: anak aman bercerita, paham batasan, dan mengenal emosi.
SAAT ini, di Indonesia terdapat sekitar 90 juta anak yang berumur 0-18 tahun, yang berarti hampir 30% dari jumlah penduduk negeri ini yang berjumlah sekitar 280 juta jiwa.
Beberapa buah yang dianggap "sehat" dan "baik untuk jantung" bisa memicu peradangan, memperburuk aliran darah, serta memperlemah kekuatan kaki dengan cara yang tidak terlihat.
Bepergian dengan balita bisa jadi tantangan, terutama terkait tidur dan kenyamanan. Simak tips orang tua menghadapi penerbangan panjang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved