Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Cek Kesehatan Gratis pada Anak: Apa yang Diharapkan?

Sukman Tulus Putra Dokter spesialis anak, subspesialis jantung anak, Wakil Ketua Dewan Pakar Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia
06/1/2026 05:10
Cek Kesehatan Gratis pada Anak: Apa yang Diharapkan?
(MI/RAMDANI)

SAAT ini, di Indonesia terdapat sekitar 90 juta anak yang berumur 0-18 tahun, yang berarti hampir 30% dari jumlah penduduk negeri ini yang berjumlah sekitar 280 juta jiwa. Oleh karena itu, tidak berlebihan bila dikatakan bahwa anak merupakan aset bangsa yang berharga dan penting karena merekalah nanti yang akan menjadi penggerak dan pemimpin bangsa ini pada 2045, ketika diharapkan tercapainya Indonesia emas.

Sayangnya, masa depan anak-anak Indonesia saat ini kurang menggembirakan untuk tidak mengatakan ’mengkhawatirkan’. Betapa tidak? Menurut data yang dipublikasikan WHO di majalah Lancet, indeks perkembangan dan tingkat kesehatan anak Indonesia berada pada peringkat ke-117 dari 180 negara di dunia.

Sebagai perbandingan: Vietnam berada di peringkat ke-58, Malaysia di peringkat ke-44, Thailand ke-64, Filipina ke-110, dan Kamboja berada di peringkat ke-114 yang berarti Indonesia di tingkat ASEAN berada di bawah Filipina dan Kamboja dalam hal perkembangan dan tingkat kesehatan anak.

Di tingkat dunia posisi 1-5 terbaik untuk indeks perkembangan dan kesehatan anak ialah Norwegia, Korea Selatan, Belanda, Prancis, dan Irlandia. Sementara itu, Denmark, Jepang, Belgia, Islandia, dan Inggris berada pada posisi 6-10 dunia.

Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan gratis yang lebih dikenal sebagai cek kesehatan gratis (CKG), suatu program pemerintah yang dimulai sejak Februari 2025, merupakan kebijakan yang penting dan strategis bagi anak-anak sekarang ini karena mereka akan mencapai usia produktif dalam 20 tahun ke depan. Program itu tentu saja memerlukan pengelolaan yang sebaik-baiknya.

Yang menjadi pertanyaan penting ialah apakah pemeriksaan kesehatan yang dilaksanakan itu sudah sesuai dengan jenis pemeriksaan yang diperlukan untuk tiap kelompok umur anak?

Kemudian bagaimana tindak lanjut yang harus dilakukan bila pada seorang anak ditemukan berbagai kelainan pada saat dilakukan CKG? Tentu kita tidak ingin yang diperoleh hanyalah merupakan data lengkap di atas kertas, dan tidak jelas apa yang harus dilakukan selanjutnya, termasuk rujukan dan pembiayaan pengobatannya. Akankah semuanya terus gratis?

 

KELOMPOK UMUR ANAK

Berdasarkan pertumbuhan dan perkembangan, umur anak terdiri dari beberapa kelompok atau periode. Periode sejak bayi lahir sampai berumur 28 hari disebut sebagai ‘bayi baru lahir’ (neonatusp>). Dalam periode itu deteksi beberapa penyakit bawaan sangat penting seperti penyakit jantung bawaan (PJB) dan beberapa kelainan bawaan pada sistem saraf atau pencernaan.

Riwayat berat badan lahir perlu diketahui karena pada bayi yang lahir prematur berpotensi terjadi gagal tumbuh kembang anak. Berdasarkan penelitian bahwa bayi prematur mempunyai risiko menderita penyakit jantung koroner pada usia dewasa atau lanjut.

Kelompok umur selanjutnya dari 1 tahun sampai 5 tahun disebut balita (bawah lima tahun) rentan terhadap infeksi sehingga riwayat imunisasi perlu diketahui, apakah lengkap atau tidak antara lain BCG (untuk mencegah Tb), polio, DPT, campak, MMR, dan hepatitis A/B. Di dalam kelompok itu termasuk anak di bawah tiga tahun (batita) yang lebih dikenal dengan masa kehidupan 1.000 hari pertama yang merupakan periode emas bagi perjalanan hidup seorang anak.

Jadi, cukup banyak aspek kesehatan anak yang dapat dideteksi ketika melakukan CKG, tidak hanya mengukur tinggi badan dan berat badan. Masalah tengkes (stunting) tidak kalah pentingnya untuk menjadi perhatian pada saat melakukan CKG pada anak. Angka kejadian tengkes yang masih tinggi (19,8%) menurut Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 juga merupakan masalah yang perlu mendapat perhatian serius, bukan saja oleh pemerintah, melainkan juga oleh masyarakat dan kalangan profesi kesehatan.

 

CEK KESEHATAHAN ANAK SEKOLAH

CKG yang dianjurkan pada hari ulang tahun tentu akan lebih mudah diingat anak dan orangtua untuk datang ke fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas atau rumah sakit. Pada periode umur 6-12 tahun, yaitu masa anak di sekolah dasar (SD), cukup banyak pemeriksaan yang harus dilakukan, termasuk pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan fisik seperti status gizi termasuk kegemukan (obesitas), kekurangan gizi, indra pendengaran dan penglihatan, dan kesehatan gigi.

Skrining terhadap Tb dan anemia (kurang darah) sudah dapat dilakukan pada kelompok umur itu. Perlu diketahui bahwa obesitas yang diderita pada masa anak-anak cenderung akan menetap pada usia dewasa. Apabila terjadi, itu akan merupakan salah satu faktor risiko terjadinya penyakit jantung di usia dewasa.

Selain itu, anak yang menderita stunting sudah dapat dideteksi mulai pada kelompok umur tersebut. Bila ditemukan anemia (kurang darah), perlu dipastikan apakah akibat kekurangan zat besi (Fe) atau ada penyakit bawaan lain seperti talasemia.

Anak-anak pelajar SMP dan SMA (13-18 tahun) juga memerlukan pemeriksaan fisik umum yang teliti seperti tekanan darah, penglihatan, dan pendengaran serta diperlukan juga pemeriksaan terhadap kemungkinan diabetes melitus. Angka kejadian diabetes anak sebesar 2 per 100.000 anak (IDAI, 2023) yang berarti terdapat sekitar 1.800 anak penderita diabetes yang memerlukan perhatian serius.

Demikian pula penyakit Tb anak tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan. Pada 2022 diperkirakan terdapat 110.881 kasus Tb anak yang berumur di bawah 15 tahun yang merupakan sekitar 15,3% kasus Tb saat itu di Indonesia.

Beberapa faktor risiko penyakit jantung seperti obesitas, kadar kolesterol dan lemak yang tinggi, serta tekanan darah tinggi sudah dapat dideteksi sejak usia remaja walaupun belum ada keluhan dan tidak ada gejala klinis.

Akhirnya, program cek kesehatan gratis termasuk anak yang dicanangkan pemerintah merupakan kebijakan yang strategis dan penting, yang memerlukan tata kelola terarah, termasuk pemantauan serta tindak lanjut bila diperlukan. Sesungguhnya sejak dilahirkan seorang anak di negeri ini merupakan aset berharga untuk masa depan bangsa. Semoga.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya