Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
PAPARAN layar atau screen time yang berlebihan pada anak kini menjadi perhatian serius para pakar kesehatan. Anggota Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Farid Agung Rahmadi, M.Si.Med., Sp.A, Subsp.TKPS(K), menegaskan bahwa kebiasaan ini membawa konsekuensi buruk bagi tumbuh kembang anak, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Farid menjelaskan bahwa dampak jangka pendek biasanya terlihat dalam kurun waktu kurang dari lima tahun paparan. Sementara itu, dampak jangka panjang akan muncul setelah anak terpapar screen time berlebih selama lebih dari lima tahun.
Bagi kelompok balita atau anak di bawah usia dua tahun, risiko jangka pendek yang mengintai meliputi keterlambatan motorik, keterlambatan bicara (speech delay), hingga gangguan kognitif. Bahkan, Farid menyoroti munculnya fenomena gangguan perilaku yang menyerupai autisme.
"Bahkan ada gangguan perilaku menetap yang mirip seperti autisme atau istilah namanya virtual autism. Jadi, itu sebetulnya mirip autisme saja," ujar Farid, dikutip Jumat (27/2).
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Hal ini disebabkan oleh pancaran sinar biru buatan (artificial blue light) dari gawai yang mengganggu produksi hormon melatonin. Akibatnya, jam istirahat anak berkurang dan mereka menjadi sulit tidur.
Jika kebiasaan ini terus berlanjut dalam jangka panjang, anak rentan mengalami penurunan prestasi akademik di sekolah, kesulitan fokus, hingga kerentanan terhadap perundungan (bullying).
Masalah kesehatan fisik seperti obesitas juga menjadi ancaman nyata akibat kurangnya aktivitas fisik.
"Restriksi posisi lebih dari satu jam yang tetap dapat mengakibatkan obesitas juga, ada risiko-risiko penyakit tidak menular akibat kesehatan fisiknya, dari gangguan tidur, obesitas," tambahnya.
Farid menggarisbawahi bahwa kategori "berlebihan" tidak hanya diukur dari durasi waktu, tetapi juga minimnya seleksi konten dan rendahnya pendampingan orangtua.
Menurutnya, orangtua tidak boleh sekadar duduk di samping anak yang sedang bermain gawai.
"Orangtua juga tidak boleh hanya sekadar mendampingi di sebelah anak saja, tapi, harus aktif sebagai pendamping yang menjembatani antara apa yang sedang dilihat di layar elektronik dengan keterampilan apa yang dapat dipraktikkan di dunia nyata pada anaknya," tutur Farid menutup paparan. (Ant/Z-1)
Screen time yang tidak tepat dinilai dapat memengaruhi tumbuh kembang anak secara signifikan.
Banyak orang tua menganggapnya cara aman agar bayi tetap terhubung dengan orang terkasih yang tinggal jauh.
Screen time kita sangat tinggi, lebih dari 7,5 jam. Bahkan anak-anak di bawah dua tahun pun menghadapi exposure screen time yang tinggi.
9 dari 10 kota di Indonesia dikategorikan tidak ramah anak karena minimnya taman dan ruang bermain terbuka, sementara 70% fasilitas yang ada sudah tidak layak pakai.
Menurut banyak penelitian, paparan layar atau screen time terlalu dini justru dapat menimbulkan risiko jangka panjang bagi tumbuh kembang anak.
Persepsi ini lahir dari cara pandang lama yang mengabaikan prinsip gizi seimbang. Padahal ukuran kesehatan tidak bisa hanya dilihat dari tampilan fisik semata.
Paparan gawai pada fase krusial pertumbuhan (usia 5 hingga 15 tahun) berisiko memicu gangguan tumbuh kembang yang menetap hingga dewasa.
Skrining pendengaran pada anak sejak dini menjadi kunci vital dalam menjaga kualitas hidup dan fungsi komunikasi buah hati.
Fungsi pendengaran memiliki kaitan erat dengan kemampuan bicara anak.
Orangtua diimbau untuk tidak membawa anak ke tempat yang terlalu padat guna meminimalisir risiko infeksi.
Kunci utama keberhasilan aturan pembatasan gawai bukan hanya pada larangan, melainkan pada keteladanan orangtua sebagai role model.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved