Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Paparan Layar Berlebih pada Anak Bisa Sebabkan Virtual Autism dan Obesitas

Basuki Eka Purnama
27/2/2026 16:23
Paparan Layar Berlebih pada Anak Bisa Sebabkan Virtual Autism dan Obesitas
Ilustrasi(Freepik)

PAPARAN layar atau screen time yang berlebihan pada anak kini menjadi perhatian serius para pakar kesehatan. Anggota Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Farid Agung Rahmadi, M.Si.Med., Sp.A, Subsp.TKPS(K), menegaskan bahwa kebiasaan ini membawa konsekuensi buruk bagi tumbuh kembang anak, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Farid menjelaskan bahwa dampak jangka pendek biasanya terlihat dalam kurun waktu kurang dari lima tahun paparan. Sementara itu, dampak jangka panjang akan muncul setelah anak terpapar screen time berlebih selama lebih dari lima tahun.

Ancaman Virtual Autism dan Gangguan Tidur

Bagi kelompok balita atau anak di bawah usia dua tahun, risiko jangka pendek yang mengintai meliputi keterlambatan motorik, keterlambatan bicara (speech delay), hingga gangguan kognitif. Bahkan, Farid menyoroti munculnya fenomena gangguan perilaku yang menyerupai autisme.

"Bahkan ada gangguan perilaku menetap yang mirip seperti autisme atau istilah namanya virtual autism. Jadi, itu sebetulnya mirip autisme saja," ujar Farid, dikutip Jumat (27/2).

Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur. 

Hal ini disebabkan oleh pancaran sinar biru buatan (artificial blue light) dari gawai yang mengganggu produksi hormon melatonin. Akibatnya, jam istirahat anak berkurang dan mereka menjadi sulit tidur.

Dampak Jangka Panjang: Dari Obesitas hingga Akademik

Jika kebiasaan ini terus berlanjut dalam jangka panjang, anak rentan mengalami penurunan prestasi akademik di sekolah, kesulitan fokus, hingga kerentanan terhadap perundungan (bullying). 

Masalah kesehatan fisik seperti obesitas juga menjadi ancaman nyata akibat kurangnya aktivitas fisik.

"Restriksi posisi lebih dari satu jam yang tetap dapat mengakibatkan obesitas juga, ada risiko-risiko penyakit tidak menular akibat kesehatan fisiknya, dari gangguan tidur, obesitas," tambahnya.

Peran Aktif Orangtua sebagai "Jembatan"

Farid menggarisbawahi bahwa kategori "berlebihan" tidak hanya diukur dari durasi waktu, tetapi juga minimnya seleksi konten dan rendahnya pendampingan orangtua. 

Menurutnya, orangtua tidak boleh sekadar duduk di samping anak yang sedang bermain gawai.

"Orangtua juga tidak boleh hanya sekadar mendampingi di sebelah anak saja, tapi, harus aktif sebagai pendamping yang menjembatani antara apa yang sedang dilihat di layar elektronik dengan keterampilan apa yang dapat dipraktikkan di dunia nyata pada anaknya," tutur Farid menutup paparan. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya