Headline
Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGGUNAAN gawai secara berlebihan dalam jangka panjang dapat berdampak buruk bagi kesehatan fisik dan perkembangan saraf anak. Hal ini ditegaskan oleh Anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Tuty Herawati, dikutip Rabu (25/3).
Tuty menjelaskan bahwa paparan gawai pada fase krusial pertumbuhan (usia 5 hingga 15 tahun) berisiko memicu gangguan tumbuh kembang yang menetap hingga dewasa. Salah satu dampak yang sering diabaikan adalah perubahan fisik dan fungsi saraf.
"Kalau dilihat sekilas mungkin hanya perubahan postur seperti membungkuk. Tapi, di dalamnya bisa berkaitan dengan sistem saraf, sehingga ini bukan hal yang bisa dianggap ringan," ujar Tuty.
Tinggi rendahnya risiko ini sangat bergantung pada intensitas, durasi, serta keseimbangan aktivitas anak.
Anak yang tetap aktif secara fisik dan rutin bermain di luar ruangan memiliki peluang gangguan tumbuh kembang yang lebih rendah dibandingkan anak yang terus-menerus terpaku pada layar.
Senada dengan hal tersebut, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., menyoroti dampak gawai terhadap kapasitas otak.
Menurutnya, rangsangan yang terbatas dan monoton dari konten digital dapat menyebabkan kondisi brain drop.
"Pada masa golden age, otak anak sangat terbuka terhadap berbagai rangsangan. Tapi jika yang diterima hanya itu-itu saja, maka kemampuan lain tidak terstimulasi," jelas Prof. Rose.
Ia menekankan bahwa perkembangan otak ditentukan oleh banyaknya koneksi antar-saraf yang terbentuk dari variasi pengalaman, bukan sekadar ukuran otak.
"Anak perlu pengalaman yang beragam agar koneksi otaknya berkembang optimal. Teknologi bisa dimanfaatkan, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya sumber stimulasi," tambahnya.
Untuk menekan dampak negatif ini, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 (PP Tunas) tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak.
Namun, Tuty menegaskan bahwa regulasi tersebut hanya akan berjalan optimal jika keluarga berperan aktif.
Orangtua diharapkan konsisten dalam mengatur, mendampingi, dan mengawasi penggunaan gawai demi menjaga tumbuh kembang anak di era digital. (Ant/Z-1)
Skrining pendengaran pada anak sejak dini menjadi kunci vital dalam menjaga kualitas hidup dan fungsi komunikasi buah hati.
Fungsi pendengaran memiliki kaitan erat dengan kemampuan bicara anak.
Orangtua diimbau untuk tidak membawa anak ke tempat yang terlalu padat guna meminimalisir risiko infeksi.
Kunci utama keberhasilan aturan pembatasan gawai bukan hanya pada larangan, melainkan pada keteladanan orangtua sebagai role model.
Keistimewaan yang didapat oleh anak sulung perempuan sering kali muncul dalam bentuk pemberian otonomi yang lebih besar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved