Headline

Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.

Pakar Ingatkan Bahaya Jangka Panjang Paparan Gawai Berlebih pada Anak

Basuki Eka Purnama
25/3/2026 07:25
Pakar Ingatkan Bahaya Jangka Panjang Paparan Gawai Berlebih pada Anak
Ilustrasi(Freepik)

PENGGUNAAN gawai secara berlebihan dalam jangka panjang dapat berdampak buruk bagi kesehatan fisik dan perkembangan saraf anak. Hal ini ditegaskan oleh Anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Tuty Herawati, dikutip Rabu (25/3).

Ancaman Saraf dan Postur Tubuh

Tuty menjelaskan bahwa paparan gawai pada fase krusial pertumbuhan (usia 5 hingga 15 tahun) berisiko memicu gangguan tumbuh kembang yang menetap hingga dewasa. Salah satu dampak yang sering diabaikan adalah perubahan fisik dan fungsi saraf.

"Kalau dilihat sekilas mungkin hanya perubahan postur seperti membungkuk. Tapi, di dalamnya bisa berkaitan dengan sistem saraf, sehingga ini bukan hal yang bisa dianggap ringan," ujar Tuty.

Tinggi rendahnya risiko ini sangat bergantung pada intensitas, durasi, serta keseimbangan aktivitas anak. 

Anak yang tetap aktif secara fisik dan rutin bermain di luar ruangan memiliki peluang gangguan tumbuh kembang yang lebih rendah dibandingkan anak yang terus-menerus terpaku pada layar.

Fenomena Brain Drop dan Kognitif

Senada dengan hal tersebut, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., menyoroti dampak gawai terhadap kapasitas otak. 

Menurutnya, rangsangan yang terbatas dan monoton dari konten digital dapat menyebabkan kondisi brain drop.

"Pada masa golden age, otak anak sangat terbuka terhadap berbagai rangsangan. Tapi jika yang diterima hanya itu-itu saja, maka kemampuan lain tidak terstimulasi," jelas Prof. Rose.

Ia menekankan bahwa perkembangan otak ditentukan oleh banyaknya koneksi antar-saraf yang terbentuk dari variasi pengalaman, bukan sekadar ukuran otak. 

"Anak perlu pengalaman yang beragam agar koneksi otaknya berkembang optimal. Teknologi bisa dimanfaatkan, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya sumber stimulasi," tambahnya.

Pentingnya Peran Keluarga dan Regulasi

Untuk menekan dampak negatif ini, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 (PP Tunas) tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak. 

Namun, Tuty menegaskan bahwa regulasi tersebut hanya akan berjalan optimal jika keluarga berperan aktif. 

Orangtua diharapkan konsisten dalam mengatur, mendampingi, dan mengawasi penggunaan gawai demi menjaga tumbuh kembang anak di era digital. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya