Headline

Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.

Deteksi Dini Gangguan Pendengaran Anak: Mengenal Metode OAE, BERA, dan Tahapan 1-3-6

Basuki Eka Purnama
25/3/2026 05:36
Deteksi Dini Gangguan Pendengaran Anak: Mengenal Metode OAE, BERA, dan Tahapan 1-3-6
Ilustrasi(Freepik)

SKRINING pendengaran pada anak sejak dini menjadi kunci vital dalam menjaga kualitas hidup dan fungsi komunikasi buah hati. Dokter spesialis THT dari RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Kencana, dr. Fikry Hamdan Yasin, Sp.THTBKL, Subsp.K.(K), menekankan bahwa pemeriksaan ini sudah bisa dilakukan bahkan saat bayi baru berusia dua hari.

Dua Metode Utama Skrining

Dalam penjelasannya, Fikry memperkenalkan dua perangkat utama yang digunakan untuk mengevaluasi pendengaran bayi, yaitu OAE (Otoacoustic Emissions) dan BERA (Brainstem Evoked Response Audiometry).

  • OAE (Otoacoustic Emissions): Pemeriksaan ini bertujuan mengecek fungsi sel rambut di dalam koklea atau rumah siput. OAE merupakan skrining awal yang paling umum ditemukan di berbagai fasilitas kesehatan.
  • BERA (Brainstem Evoked Response Audiometry): Metode ini mengukur respons listrik otak terhadap suara. 

"BERA sendiri adalah pemeriksaan untuk melihat ambang dengarnya di bayi tersebut. Apakah mengalami suatu gangguan atau tidak," jelas dr. Fikry.

Memahami Hasil Pass dan Refer

Hasil dari kedua tes ini tidak dinyatakan dalam angka rumit, melainkan status sederhana:

  • Pass: Mengindikasikan fungsi pendengaran dalam kondisi normal.
  • Refer: Mengindikasikan adanya potensi masalah pada organ pendengaran yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Protokol 1-3-6 dan Rehabilitasi

Fikry menggarisbawahi bahwa hasil refer tidak serta-merta berarti anak mengalami ketulian permanen. Tenaga medis menggunakan protokol 1-3-6 sebagai panduan observasi:

  • Usia 1 Bulan: Melakukan skrining awal. Jika hasilnya refer, dilakukan skrining ulang.
  • Usia 3 Bulan: Melanjutkan observasi dan pemeriksaan lanjutan.
  • Usia 6 Bulan: Penegakan diagnosis final.

"Di usia enam bulan itu kita baru bisa mendiagnosis apakah anak ini benar-benar mengalami gangguan tuli sejak lahir atau tidak. Sehingga seandainya ditemukan kita bisa melakukan langsung rehabilitasi pada usia enam bulan tersebut," ujar dokter lulusan Universitas Indonesia tersebut.

Bentuk rehabilitasi dini yang dapat diberikan meliputi terapi mendengar (AVT/Auditory Verbal Therapy), penggunaan alat bantu dengar, hingga pemasangan implan koklea.

Urgensi Nasional

Langkah deteksi dini ini sejalan dengan tema Hari Pendengaran Sedunia (World Hearing Day) 2026, yaitu From communities to classrooms: hearing care for all children. 

Urgensi ini didukung oleh data Kementerian Kesehatan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) hingga 31 Desember 2025, yang menunjukkan bahwa dari 18,6 juta orang yang menjalani skrining, sebanyak 1,8% di antaranya memiliki gangguan kesehatan telinga. 

Masalah pendengaran yang tidak tertangani sejak dini dikhawatirkan dapat menghambat tumbuh kembang hingga interaksi sosial anak di masa depan. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya