Headline
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Kumpulan Berita DPR RI
PENINGKATAN mobilitas lintas negara membawa tantangan baru bagi sektor kesehatan masyarakat, salah satunya adalah ancaman penyebaran virus Nipah (NiV). Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Timoteus Richard, Sp.PD, menekankan krusialnya deteksi dini untuk mencegah dampak fatal dari infeksi virus ini.
Timoteus menjelaskan bahwa penyakit dengan tingkat kematian tinggi seperti virus Nipah memerlukan kewaspadaan sejak munculnya gejala paling awal. Hal ini penting agar pasien segera mendapatkan penanganan medis yang tepat.
"Penyakit infeksi dengan fatalitas tinggi seperti Virus Nipah menuntut kewaspadaan sejak gejala awal," ujar Timoteus, dikutip Kamis (26/2).
Ia menambahkan, "Semakin cepat dikenali, semakin besar peluang pasien mendapatkan penanganan yang optimal."
Virus Nipah merupakan virus RNA yang termasuk dalam kelompok Paramyxovirus.
Virus ini pertama kali diidentifikasi pada 1999 di Malaysia dan Singapura, di mana wabah saat itu berpusat pada lingkungan peternakan babi.
Secara alami, kelelawar pemakan buah bertindak sebagai reservoir atau pembawa utama virus ini. Penularan ke manusia dapat terjadi melalui perantaraan hewan yang terinfeksi, seperti babi, maupun melalui konsumsi produk pangan yang telah terkontaminasi oleh cairan tubuh kelelawar.
Hingga saat ini, tantangan terbesar dalam penanganan medis adalah belum tersedianya vaksin maupun obat antivirus spesifik untuk mengatasi infeksi Nipah.
Infeksi virus Nipah diketahui menyerang saluran pernapasan dan sistem saraf pusat. Gejala biasanya mulai muncul dalam rentang waktu 5 hingga 14 hari setelah terpapar.
Timoteus menyebutkan bahwa pada tahap awal, gejalanya sering kali menyerupai infeksi umum, seperti:
Namun, pada kondisi yang lebih berat, pasien dapat mengalami komplikasi serius berupa gangguan pernapasan akut, batuk, sesak napas, hingga penurunan kesadaran. Dalam kasus ekstrem, virus ini memicu radang otak atau ensefalitis yang dapat menyebabkan kejang hingga kematian.
Indonesia memiliki risiko penularan yang nyata karena merupakan habitat alami bagi kelelawar buah.
Selain itu, posisi Indonesia sebagai destinasi internasional yang menerima kedatangan warga dari negara-negara yang pernah melaporkan kasus Nipah, seperti India dan Bangladesh, menambah urgensi kewaspadaan nasional.
Timoteus mengingatkan, jika seseorang mengalami gejala penurunan kesadaran atau gangguan pernapasan, pasien harus segera dilarikan ke fasilitas kesehatan.
Kesiapan layanan medis, edukasi masyarakat yang berkelanjutan, serta deteksi dini menjadi benteng utama dalam mencegah penyebaran luas penyakit ini di tengah dinamika mobilitas global yang semakin tinggi. (Ant/Z-1)
ISPA tidak menyerang semua orang dengan dampak yang sama. Terdapat kelompok tertentu yang jauh lebih berisiko mengalami kondisi ini.
Keempat penyakit tersebut adalah Avian Influenza (flu burung), Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-CoV), Super Flu, dan infeksi virus Nipah.
Infeksi cacing secara kronis dapat menurunkan produksi ayam petelur, baik dari segi kuantitas maupun bobot telur.
Pekerja lapangan menghadapi risiko penyakit yang cukup serius, mulai dari leptospirosis, infeksi kulit, diare, hingga infeksi saluran pernapasan.
Pada pasien anak yang dirawat inap akibat radang paru akut (pneumonia), ditemukan bahwa mereka yang mengalami gejala berat, sering kali memiliki lebih dari satu patogen di dalam tubuhnya.
Integrasi PET dan CT menghasilkan citra fusi komprehensif yang secara bersamaan mampu menampilkan fungsi sebagai hasil dari teknologi PET dan struktur sebagai hasil dari teknologi CT.
Kampanye ini bertajuk SWICC Stronger Together Journey dengan tema “Stronger in Awareness, Together in Detection”.
Pentingnya pemeriksaan diagnostik dalam mendukung upaya deteksi dini, khususnya pada penyakit jantung dan pembuluh darah.
Berbeda dengan herediter, kanker familia terjadi bukan karena mutasi gen, melainkan karena anggota keluarga hidup dalam satu ekosistem yang sama.
Pasien sering datang dengan kondisi umum yang sudah menurun sehingga mempersulit proses tindakan dan pemulihan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved