Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

Waspada Infeksi Virus Nipah: Deteksi Dini Kunci Cegah Fatalitas di Tengah Mobilitas Global

Basuki Eka Purnama
26/2/2026 16:06
Waspada Infeksi Virus Nipah: Deteksi Dini Kunci Cegah Fatalitas di Tengah Mobilitas Global
Ilustrasi(Medcom)

PENINGKATAN mobilitas lintas negara membawa tantangan baru bagi sektor kesehatan masyarakat, salah satunya adalah ancaman penyebaran virus Nipah (NiV). Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Timoteus Richard, Sp.PD, menekankan krusialnya deteksi dini untuk mencegah dampak fatal dari infeksi virus ini.

Timoteus menjelaskan bahwa penyakit dengan tingkat kematian tinggi seperti virus Nipah memerlukan kewaspadaan sejak munculnya gejala paling awal. Hal ini penting agar pasien segera mendapatkan penanganan medis yang tepat.

"Penyakit infeksi dengan fatalitas tinggi seperti Virus Nipah menuntut kewaspadaan sejak gejala awal," ujar Timoteus, dikutip Kamis (26/2). 

Ia menambahkan, "Semakin cepat dikenali, semakin besar peluang pasien mendapatkan penanganan yang optimal."

Mengenal Virus Nipah dan Cara Penularannya

Virus Nipah merupakan virus RNA yang termasuk dalam kelompok Paramyxovirus. 

Virus ini pertama kali diidentifikasi pada 1999 di Malaysia dan Singapura, di mana wabah saat itu berpusat pada lingkungan peternakan babi.

Secara alami, kelelawar pemakan buah bertindak sebagai reservoir atau pembawa utama virus ini. Penularan ke manusia dapat terjadi melalui perantaraan hewan yang terinfeksi, seperti babi, maupun melalui konsumsi produk pangan yang telah terkontaminasi oleh cairan tubuh kelelawar. 

Hingga saat ini, tantangan terbesar dalam penanganan medis adalah belum tersedianya vaksin maupun obat antivirus spesifik untuk mengatasi infeksi Nipah.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Infeksi virus Nipah diketahui menyerang saluran pernapasan dan sistem saraf pusat. Gejala biasanya mulai muncul dalam rentang waktu 5 hingga 14 hari setelah terpapar. 

Timoteus menyebutkan bahwa pada tahap awal, gejalanya sering kali menyerupai infeksi umum, seperti:

  • Demam tinggi mendadak
  • Sakit kepala berat dan nyeri otot
  • Mual, muntah, dan tubuh terasa lemas

Namun, pada kondisi yang lebih berat, pasien dapat mengalami komplikasi serius berupa gangguan pernapasan akut, batuk, sesak napas, hingga penurunan kesadaran. Dalam kasus ekstrem, virus ini memicu radang otak atau ensefalitis yang dapat menyebabkan kejang hingga kematian.

Risiko di Indonesia

Indonesia memiliki risiko penularan yang nyata karena merupakan habitat alami bagi kelelawar buah. 

Selain itu, posisi Indonesia sebagai destinasi internasional yang menerima kedatangan warga dari negara-negara yang pernah melaporkan kasus Nipah, seperti India dan Bangladesh, menambah urgensi kewaspadaan nasional.

Timoteus mengingatkan, jika seseorang mengalami gejala penurunan kesadaran atau gangguan pernapasan, pasien harus segera dilarikan ke fasilitas kesehatan. 

Kesiapan layanan medis, edukasi masyarakat yang berkelanjutan, serta deteksi dini menjadi benteng utama dalam mencegah penyebaran luas penyakit ini di tengah dinamika mobilitas global yang semakin tinggi. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya