Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Waspada Koinfeksi: Ketika Lebih dari Satu Kuman Menyerang Saluran Napas Anak

Basuki Eka Purnama
02/1/2026 20:12
Waspada Koinfeksi: Ketika Lebih dari Satu Kuman Menyerang Saluran Napas Anak
Ilustrasi(Freepik)

INFEKSI saluran pernapasan pada anak sering kali dianggap sebagai penyakit tunggal. Namun, pakar kesehatan memperingatkan adanya ancaman koinfeksi, yakni kondisi ketika tubuh diserang oleh lebih dari satu jenis patogen secara bersamaan, yang dapat memicu tingkat keparahan medis yang jauh lebih tinggi.

Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A(K), menjelaskan bahwa koinfeksi pada saluran napas anak bisa melibatkan kombinasi berbagai mikroorganisme.

“Jadi, kalau lebih dari satu, namanya koinfeksi. Koinfeksinya ini apa saja? Koinfeksinya itu bisa dua macam virus, atau lebih bisa dua sampai tiga macam virus, bisa virus dengan bakteri, itu bisa terjadi,” ujar Nastiti dalam diskusi daring bertajuk Mengenali dan mewaspadai superflu di Jakarta, dikutip Jumat (2/1).

Melemahnya Benteng Pertahanan Alami

Fenomena koinfeksi ini bukan sekadar teori. Berdasarkan laporan penelitian pada pasien anak yang dirawat inap akibat radang paru akut (pneumonia), ditemukan bahwa mereka yang mengalami gejala berat—seperti sesak napas hingga membutuhkan bantuan oksigen—sering kali memiliki lebih dari satu patogen di dalam tubuhnya.

Secara biologis, koinfeksi bekerja dengan cara merusak sistem pertahanan alami manusia. Di dalam saluran pernapasan, terdapat epitel dan silia (rambut halus) yang berfungsi sebagai "sapu" untuk membersihkan cairan, debu, polutan, hingga asap rokok.

Infeksi virus di tahap awal sering kali merusak lapisan epitel ini. Akibat rusaknya benteng pertahanan tersebut, saluran napas menjadi jauh lebih rentan terhadap serangan kuman atau virus berikutnya.

“Dan itu laporannya sudah banyak bahwa koinfeksi akan memperberat atau membuat keparahan. Biasanya, virus dulu kemudian koinfeksinya bisa bakteri. Misalnya, bakteri pneumokokus atau bakteri yang lainnya, itu sering terjadi karena si epitelnya dirusak oleh si infeksi virus pada saat awal,” ungkap Nastiti.

Vaksinasi Sebagai Langkah Mitigasi

Melihat risiko kerusakan organ yang permanen atau fatal akibat koinfeksi berulang, langkah pencegahan menjadi krusial. Salah satu proteksi yang sangat dianjurkan adalah vaksinasi influenza.

Nastiti menyebutkan bahwa vaksin influenza yang tersedia di Indonesia saat ini memiliki efektivitas sekitar 62% dalam mencegah penularan. Namun, manfaat yang jauh lebih besar terletak pada kemampuannya mencegah fatalitas atau kematian.

Dengan vaksinasi, risiko anak mengalami gejala berat yang membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit dapat ditekan secara signifikan. Jika anak yang sudah divaksin tetap tertular, gejala yang muncul biasanya hanya berupa demam, batuk, dan pilek ringan tanpa disertai sesak napas yang membahayakan nyawa. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya