Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Refungsionalisasi Kawasan Hutan sebagai Momentum Transisi Agroindustri 7.0

Didiek Hadjar Goenadi Profesor Riset di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Unit Bogor – Riset Perkebunan Nusantara (RPN), Ketua Umum Asosiasi Inventor Indonesia (AII), Koordinator Komlitbang Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP)
16/2/2026 05:05
Refungsionalisasi Kawasan Hutan sebagai Momentum Transisi Agroindustri 7.0
(MI/Seno)

GELIAT pemerintah melalui Satuan Tugas (Satgas) Penertiban Kawasan Hutan (PKH) sejak dibentuk setahun yang lalu telah menunjukkan hasil konkret, meskipun masih banyak yang mempertanyakan tindak lanjut dari capaian tersebut.

Ketergantungan terhadap salah satu modal utama usaha pertanian yang namanya lahan telah mendorong penisbian aspek legalitas yang mengancam kepentingan generasi mendatang. Sepintas memang menimbulkan kegundahan terutama kepada para investor perkebunan khususnya kelapa sawit di negeri ini. Namun, sejatinya ada peluang untuk mendorong situasi ini menjadi momentum untuk keperluan generasi mendatang.

 

GENERASI PETANI MASA DEPAN

Banyak generasi milenial menganggap bertani adalah pekerjaan kuno yang identik dengan berbagai stigma masa lalu yang kotor dan melelahkan. Namun, di tengah ketidakpastian ekonomi global, perubahan iklim dan kebutuhan pangan yang melonjak, sektor pertanian justru kembali memberikan harapan dan menawarkan peluang besar bagi generasi muda.

Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum (WEF) melaporkan bahwa petani dan pekerja pertanian masuk daftar profesi dengan pertumbuhan tertinggi di dunia hingga 2030. Dan, bahkan dalam lima tahun mendatang sektor ini diperkirakan membutuhkan tambahan sekitar 35 juta tenaga kerja baru.

Presiden World Farmers' Organisation, Arnold PP d'Alissac, mengingatkan bahwa dunia membutuhkan lebih banyak petani muda karena mayoritas petani yang ada saat ini sudah lansia. Data tahun 2018 menunjukkan rata-rata usia petani di Amerika Serikat 58,3 tahun dan di Jepang 67 tahun. Adapun di Indonesia, tahun 2023 dilaporkan 70% usianya 43-77 tahun.

Di sisi lain, permintaan pangan global terus meningkat, seiring prediksi populasi dunia yang mencapai puncaknya sebanyak 10,3 miliar jiwa pada 2080-an, dan World Resources Institute bahkan memperkirakan dunia harus menutup food gap sebesar 56% pada 2050 agar cukup memberi makan seluruh populasi.

Peluang karier yang sangat menjanjikan ini ternyata, untuk kasus di Indonesia khususnya di subsektor perkebunan utamanya kelapa sawit, tidak cukup menjadi penarik generasi muda untuk menggeluti kegiatan on-farm. Faktanya beberapa perkebunan kelapa sawit sudah mengalami kesulitan untuk mendapatkan karyawan dalam pengelolaan kebunnya. Bahkan untuk tenaga pemanen sudah terjadi praktik bajak-membajak antarperusahaan, tentu dengan insentif yang lebih besar.

Lebih memprihatinkan lagi para mahasiswa yang secara khusus dididik untuk dapat bekerja di lapangan dengan fasilitas beasiswa, ternyata banyak yang tidak berminat untuk bekerja di kebun. Masalah keterpencilan lokasi dan terbatasnya akses hiburan kota menjadi faktor penyebab hal ini.

Di sisi lain, karakter generasi milenial memiliki ciri yang unik menurut Anisha Varghese, psikolog dari Universitas Waterloo, antara lain unresponsive, irresponsible, narrow minded, low risk-taking ability, weak multi-tasking ability, solitaire/asocial, dan stubborn.

Beberapa dari 17 sifat kurang produktif generasi ini, menurut Bill Murphy (2015), ialah kurang memahami kewirausahaan, sulit fokus, dan terlalu banyak hal yang dikerjakan. Menurut Chris Myers (2016), generasi ini dikatakan terburuk kecuali mereka terbaik. Kondisi ini tentu akan menghalangi perjalanan karier mereka di bidang pertanian yang sangat membutuhkan kreativitas dan kolaborasi, teguh menghadapi tantangan, dan tangguh secara fisik bekerja keras.

 

PELUANG PERTANIAN 5.0/6.0

Pertanian 5.0 didorong oleh Revolusi Industri 5.0 yang menekankan kolaborasi inovasi orisinal manusia profesional dengan mesin-mesin berdaya tinggi, pintar, dan presisi. Industri 5.0 diharapkan mengintegrasikan teknologi cepat dan akurat dengan kecerdasan manusia yang arahnya untuk mencapai efisiensi produk dengan orientasi pada kepuasan pelanggan.

Seperti dilaporkan dalam jurnal Sustainability Vol 16 No 9 tahun 2024, bahwa dalam Industri 5.0 interaksi antara manusia dan kecerdasan buatan sangat vital dalam praktik kolaborasi manusia dengan mesin untuk mencapai mutu dan produktivitas output yang tinggi. Di sisi lain, Pertanian 5.0 merupakan sebuah fase revolusioner yang mengintegrasikan teknologi maju untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan yang sesuai dengan kebutuhuan individual.

Integrasi teknologi robot, extended reality, dan 6G menandai lompatan nyata yang memungkinkan pengawasan dan otomatisasi kekinian dalam praktik bertani. Pemanfaatan kecerdasan buatan dan big data termasuk blockchain akan sangat penting perannya. Bagaimanapun, kondisi yang ditangani oleh Pertanian 5.0 ini masih berpijak pada paradigma lama di mana pertanian identik dengan penguasaan lahan yang luas, termasuk yang mengusulkan konsep Pertanian 6.0 dengan tekanan pada aspek keberlanjutan dan kepentingan generasi mendatang.

Selain itu, dalam implementasinya di praktik belum ada atau sangat sedikit yang sudah menerapkan teknolog-teknologi pertanian versi ini secara lengkap karena yang ada hingga kini masih bersifat parsial. Pengalaman dengan adanya program penertiban kawasan hutan (PKH) setahun terakhir ini seharusnya jadi momentum untuk keluar dari paradigma itu.

Berkurangnya lahan yang secara hukum boleh diusahakan untuk budi daya pertanian, khususnya perkebunan, berkonsekuensi langsung terhadap kapasitas produksi nasional karena tidak mungkin menggantikannya dalam waktu yang singkat. Apalagi ada yang menyatakan bahwa 4 juta hektare kebun kelapa sawit (sekitar 25%) diusahakan di area ilegal dan menjadi sasaran penertiban untuk refungsionalisasi ke kawasan hutan.

Dampaknya tentu saja sudah bisa diperkirakan jika secara konsekuen penertiban kawasan ini dieksekusi, yaitu produksi nasional minyak kelapa sawit Indonesia akan anjlok secara drastis, yang berakibat cukup signifikan terhadap penerimaan devisa negara dari kegiatan ekspor. Bukan itu saja, program prioritas Presiden seperti bahan bakar nabati biodiesel juga akan terancam pengembangan dan kelangsungannya sehingga beban APBN semakin berat.

 

AGROINDUSTRI 7.0

Agribisnis dapat didefinisikan sebagai satu rangkaian kegiatan ekonomi mencakup produksi, pengolahan atau industrialisasi, dan komersialisasi dari produk pertanian dan kehutanan, baik untuk keperluan pangan maupun nonpangan. Di sisi lain, agroindustri bertanggung jawab utamanya untuk produksi dan pengolahan pangan dan pakan serta produksi bahan baku untuk sektor industri.

Berdasarkan perkembangan teknologi dan kompleksitas masalah pertanian yang terkait dengan lahan, maka perlu dicari solusi tuntas jangka panjang dengan tingkat keberlanjutan 100% dan dampak lingkungan yang mudah terpulihkan. Pemikiran Agroindustri 7.0 ini didasari oleh tren perkembangan teknologi yang berusaha melepaskan diri dari ketergantungan terhadap modal usaha pertanian yang memiliki ketidakpastian tinggi seperti tanah dan iklim.

Kemajuan teknologi produksi susu sapi tanpa sapi dengan kultur sel penghasil susu merupakan langkah konkret upaya terobosan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat dari susu yang biasa dihasilkan dari usaha pertenakan sapi perah di lahan yang luas. Publikasi dalam Forbes (2025) melaporkan ditemukannya teknologi produksi susu sapi dari mikroba oleh satu perusaahan pemula Brown Foods di Boston dengan nama produk komersial UnReal Milk. Produk ini seperti yang dilaporkan oleh Nasihin (2026) bukan susu nabati seperti yang sudah umum ada di pasar dari kedelai, serealia oat, atau kacang almon, tetapi juga bukan sekadar minuman pengganti susu, karena dibuat dengan memanfaatkan kultur sel mamalia, yaitu menumbuhkan sel-sel penghasil susu di laboratorium dengan formula media khusus untuk menghasilkan cairan dengan komposisi biologis yang sama seperti susu sapi alami.

Komponen di dalamnya, berupa protein, lemak, dan karbohidratnya, bukan senyawa sintetis, melainkan molekul yang secara struktur dan fungsi setara dengan susu konvensional. Keberhasilan teknologi produksi energi dari mikroba sel tunggal dan produksi minyak nabati dari mikroba penghasil minyak/lemak juga merupakan langkah nyata untuk melepaskan diri dari ketergantungan usaha pertanian yang bergantung pada penguasaan aset lahan yang luas dengan memanfaatkan aset keragaman hayati yang dimiliki oleh suatu negara.

Prakarsa lain yang dilakukan oleh beberapa alumnus Massachussetts Institute of Technology (MIT) yang menggunakan kapang penghasil minyak untuk memproduksi minyak nabati seperti kelapa sawit tanpa pohon sawit melalui perusahaan pemula C16 BioScience merupakan terobosan teknologi yang menjanjikan. Teknologi ini mengubah senyawa gula menjadi minyak melalui proses fermentasi layaknya proses pembuatan bir.

IIustrasi lainnya, untuk produksi metabolit sekunder dari tanaman farmaka seperti kina untuk obat malaria dan penyedap formula minuman ringan (softdrink) yang pernah dilakukan oleh Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Perkebunan-Riset Perkebunan Nusantara melalui kultur sel dan genome editing, akan membuka peluang agroindustri dengan kebutuhan lahan yang sangat terbatas.

Proses-proses produksi tersebut dan yang lainnya untuk berbagai komoditas dilakukan di dalam bioreaktor kontinu yang dikendalikan oleh sistem kecerdasan buatan dan produk samping dihasilkan dari pengolahan limbah berbasis ekonomi sirkuler yang menjadi ciri unik Agroindustri 7.0.

Tentu konsep ini tidak serta-merta dapat diterapkan dalam skala luas tanpa difasilitasi oleh kegiatan riset yang terarah, fokus menghasilkan teknologi tuntas yang layak secara ekonomi dalam skala industri dan digerakkan oleh energi baru dan terbarukan.

Tidak kalah pentingnya ialah pengolahan limbah yang dihasilkan dari proses produksi yang digunakan menjadi produk samping yang bernilai ekonomi tinggi menjadi peluang makin tingginya kelayakan sosial-ekonomi-lingkungan dari konsep modernisasi industri pertanian.

Satu hal lagi yang sangat strategis dari implementasi konsep ini ialah jenis kegiatannya sesuai dengan karakter generasi milenial yang diuraikan di atas tentu dengan pengarahan dan pembinaan yang terencana dan efektif.

STRATEGI YANG PERLU DITERAPKAN

Konsep Agroindustri 7.0 yang digagas di atas bukanlah mimpi yang sulit untuk dicapai dengan syarat ada kemauan politik dari pemerintah untuk mengurangi ketergantungan kegiatan budi daya pertanian atas asset lahan. Target utamanya ialah keberlanjutan dengan fokus pada produksi yang efisien, bersih, dan memuaskan pelanggan tanpa kerusakan lingkungan berarti bagi generasi mendatang.

Dalam hal kepuasan pelanggan ini pemerintah perlu menetapkan target utama pengembangan pertanian nasional secara jelas dan jangka panjang. Sasaran akhir utamanya selain mencapai swasembada pangan (bukan hanya beras) secara berkelanjutan, juga orientasi ekspor yang mampu merajai produk-produk pertanian tropika termasuk hortikultura dan biofarmaka. Orientasi ekspor ini penting untuk mendorong para petani dan pekebun untuk menerapkan teknologi yang menjamin pencapaian syarat mutu produknya di pasar international termasuk keberlanjutan, ketelusuran, dan bebas dari praktik deforestasi.

Langkah pertama dalah memilih komoditas prioritas yang menjadi target implementasi Agroindustri 7.0 dalam periode 10-20 tahun mendatang. Kedua, program riset difokuskan untuk mendapatkan teknologi terkait sehingga pada waktunya dapat mewujudkan tercapainya target implementasi tersebut. Ketiga, melibatkan konsorsium industri sejak awal untuk pengembangan program ini dan mendukung pelaksanaannya dalam Proyek Strategis Nasional (PSN).

Terakhir, yang tidak kalah pentingnya ialah melibatkan generasi muda semaksimal mungkin dalam program ini, khususnya mahasiswa pertanian wajib kerja di agriculture valley dengan konstruksi Agroindustri 7.0 berfasilitas modern yang lengkap sebagai sebuah kota mandiri.

Belajar dari sejarah dibangunnya Silicon Valley di California Selatan, Amerika Serikat, agriculture valley dapat dibangun dengan menampung perusahaan-perusahaan pertanian pemula di Indonesia untuk tumbuh dan berkembang di dalamnya, bersama-sama dengan perusahaan-perusahaan lain yang sudah berkembang yang disertakan berinvestasi di dalamnya.

Tentunya, akan lebih strategis jika program food estate yang digagas pemerintah dan hingga kini belum berhasil perlu direorientasikan ke pembangunan kawasan ini di berbagai wilayah. Dengan demikian, refungsionalisasi kawasan hutan tidak menjadi kontraproduktif secara nasional, tetapi dalam jangka panjang dapat terkompensasi oleh pembangunan kawasan pertanian modern dengan implementasi Agroindustri 7.0.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik