Headline

Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%

Siapakah Mojtaba Hosseini Khamenei

Mohsen Hasan Alhinduan, Koodinator Bidang Sosial, Budaya, Politik, dan Isu Global Dewan Pakar DPP Partai NasDem
12/3/2026 16:51
Siapakah Mojtaba Hosseini Khamenei
(DOK PRIBADI)

SEBUAH babak baru dalam sejarah Republik Islam Iran dimulai kejutan besar. Majelis Para Ahli (Assembly of Experts) resmi melaporkan penunjukan Sayid Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi (Supreme Leader) baru Iran Selasa 3 Maret 2026.

Penunjukan putra kedua mendiang Ayatollah Ali Khamenei menyusul wafatnya sang ayah akibat serangan udara gabungan AS dan Israel pada akhir Februari 2026. Transisi kekuasaan dari ayah ke anak ini pertama kalinya sejak Revolusi 1979, menandai pergeseran Iran menuju kepemimpinan lebih muda, strategis, dan agresif.

Sosok misterius di balik layar Lahir 8 September 1969 di Mashhad, Mojtaba, 56, selama puluhan tahun dikenal sebagai arsitek bayangan pemerintahan Iran. Meski tidak pernah memegang jabatan resmi di kabinet, ia mengelola kantor ayahnya (Beit-e Rahbari) dan memiliki jejaring besi di institusi militer serta intelijen.

Mojtaba melewai pendidikan umum: lulus dari SMA Alavi yang prestisius di Teheran pada 1987. Lalu dia menempuh studi teologi tingkat lanjut di Seminari Qom di bawah bimbingan ulama konservatif terkemuka seperti Ayatollah Mahmoud Hashemi Shahroudi. Saat ini Mojtaba menyandang gelar Hojjatoleslam.

Penunjukannya sebagai Pemimpin Tertinggi menunjukkan adanya penyesuaian politik dalam sistem teokrasi Iran untuk menjaga stabilitas di masa perang, meski ia belum secara resmi mencapai gelar Ayatollah.

KETURUNAN NABI MUHAMMAD SAW
Sebagai seorang Sayyid, Mojtaba mengenakan sorban hitam menandakan garis keturunan langsung dari Nabi Muhammad SAW melalui jalur Imam Husain bin Ali. Berdasarkan catatan nasab keluarga, ia merupakan keturunan ke-39 dari Rasulullah SAW, sebuah simbol kehormatan tertinggi dalam tradisi Syiah.

Berbeda dengan banyak ulama tradisional, Mojtaba memiliki kedekatan fisik dengan medan tempur. Dia merupakan veteran perang yang bertugas langsung dalam Perang Iran-Irak (1987–1988) sehingga memberinya perspektif militer lapangan sejak remaja. Dia memiliki pengaruh besar atas milisi Basij dan bekerja sangat erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Analis menilai Mojtaba sosok yang cerdas dan pragmatis dalam urusan pertahanan dengan fokus pada penguatan proksi regional. Hanya beberapa jam setelah pengambilan sumpahnya, Mojtaba langsung melakukan gebrakan mengejutkan pihak lawan dan mengubah peta permainan di Timur Tengah secara radikal.

Mojtaba mengubah postur pertahanan Iran dari reaktif menjadi proaktif. Ia memerintahkan mobilisasi penuh rudal balistik Khyber-Shekan ke titik peluncuran aktif, mengirim pesan bahwa Iran tidak lagi menunggu diserang untuk membalas.

Ia membentuk Komando Pusat Perlawanan Terpadu menyatukan pemimpin tertinggi dari Lebanon, Yaman, Irak, dan Suriah di bawah satu garis komando langsung Teheran. Ini menciptakan ancaman multi-front yang sinkron bagi Israel dan pangkalan AS.

Mojtaba langsung melakukan negosiasi tingkat tinggi dengan Rusia dan Tiongkok. Ia dikabarkan menawarkan akses pangkalan udara eksklusif bagi jet tempur Rusia sebagai imbalan atas sistem pertahanan udara S-400 dan S-500 terbaru untuk menciptakan payung udara yang tak tertembus.

EKONOMI PERANG & PEMBERSIHAN INTERNAL
Di dalam negeri, ia melakukan nasionalisasi aset dan pembersihan terhadap elemen moderat yang dianggap terlalu kompromis terhadap Barat. Dana tersebut dialihkan langsung untuk riset drone jarak jauh dan kecerdasan buatan (AI) militer.

Penunjukan Mojtaba Khamenei bukan sekadar suksesi dinasti, melainkan pernyataan perang bagi lawan-lawannya. Dengan kombinasi garis keturunan suci, latar belakang militer, dan keberanian mengambil risiko, Mojtaba adalah wajah baru perlawanan Iran yang jauh lebih berbahaya bagi dominasi Barat di kawasan tersebut. 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya