Headline

Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.

Waspada! Ini 4 Penyakit Infeksi Paru Berat di Awal 2026

Basuki Eka Purnama
12/2/2026 09:47
Waspada! Ini 4 Penyakit Infeksi Paru Berat di Awal 2026
Ilustrasi(Freepik)

MASYARAKAT diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman penyakit infeksi saluran pernapasan. Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof Tjandra Yoga Aditama, mengingatkan adanya empat penyakit infeksi paru-paru berat yang patut menjadi perhatian serius berdasarkan laporan terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Mengacu pada laporan Disease Outbreak News (DONs) periode Desember 2025 hingga Februari 2026, keempat penyakit tersebut adalah Avian Influenza (flu burung), Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-CoV), Super Flu, dan infeksi virus Nipah.

1. Ancaman Fatalitas Flu Burung di Indonesia

Flu burung tetap menjadi ancaman utama, khususnya di wilayah kerja WHO Western Pacific Office (WPRO). 

Data menunjukkan bahwa sepanjang 2023 hingga 2025, angka kematian akibat flu burung di enam negara anggota WPRO mencapai 66,3%.

Mirisnya, Indonesia mencatatkan angka kematian yang jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata wilayah tersebut.

"Indonesia termasuk negara dalam lingkup WPRO yang melaporkan angka kematian tinggi akibat flu burung, yakni 84 persen," ujar Prof Tjandra dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis (12/2)

Beberapa varian virus influenza yang saat ini beredar di wilayah WPRO meliputi H3N8, H7N4, H7N9, H9N2, H10C3, dan H10N5. Laporan terbaru mencatat kasus flu burung terakhir muncul di Kamboja pada tahun 2025.

2. MERS-CoV dan Risiko bagi Jamaah Umrah

Penyakit kedua yang perlu diwaspadai adalah MERS-CoV. Berdasarkan laporan WHO pada Desember 2025, tercatat ada 17 kasus MERS-CoV yang muncul di Arab Saudi sepanjang tahun tersebut. Hal ini menjadi perhatian khusus bagi Indonesia yang memiliki intensitas perjalanan tinggi ke Timur Tengah.

"Tentu ini perlu jadi perhatian kita juga, mengingat banyaknya jamaah umrah Indonesia dan juga kesiapan menghadapi musim haji tahun ini," tutur Prof Tjandra.

3. Kemunculan Super Flu

Penyakit ketiga adalah Super Flu, yang disebabkan oleh infeksi virus influenza A H3N2 subclade K. 

Gejala peningkatan kasus ini sudah terlihat di beberapa negara maju. Pemerintah Kota Tokyo, Jepang, bahkan mengeluarkan kembali peringatan influenza (Influenza Advisory) untuk pertama kalinya dalam 17 tahun.

Selain Jepang, peningkatan kasus Influenza B juga dilaporkan terjadi di Korea Selatan dan Amerika Serikat (AS) pada awal Februari 2026. 

Prof Tjandra menegaskan bahwa Indonesia tidak luput dari ancaman ini. 

"Pada kenyataannya ada juga kasus di negara kita karena Influenza B ini," jelasnya.

4. Bahaya Virus Nipah

Terakhir, Prof. Tjandra menyoroti risiko virus Nipah yang ditularkan melalui kontak langsung dengan cairan tubuh hewan yang terinfeksi. Infeksi ini tidak bisa diremehkan karena dampaknya yang sistemik pada paru-paru.

Ia menjelaskan bahwa virus Nipah dapat menyebabkan pneumonia atipikal yang berisiko berkembang menjadi penyakit paru berat dan acute respiratory distress (gagal napas akut).

Penguatan Surveilans

Menghadapi potensi penyebaran keempat penyakit tersebut, Prof. Tjandra mendorong pemerintah dan otoritas kesehatan untuk memperketat pengawasan.

"Untuk kita di Indonesia maka perlu terus ditingkatkan kegiatan surveilans virus infeksi paru dan saluran napas, sehingga situasi dapat dikenali dan ditangani dengan baik," pungkasnya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya