Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
BANYAK orang menganggap serumen atau kotoran telinga sebagai benda asing yang harus segera dibersihkan agar telinga tetap higienis. Namun, pakar kesehatan justru memperingatkan bahwa kebiasaan terlalu sering mengorek telinga dapat memicu risiko infeksi serius dan menghilangkan perlindungan alami tubuh. Serumen justru memiliki fungsi penting untuk menjaga kesehatan telinga dan mencegah gangguan pendengaran.
Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok-Bedah Kepala Leher, Harim Priyono, menegaskan bahwa serumen bukanlah sekadar kotoran yang harus selalu dihilangkan. Harim, yang bertugas di RSUP Nasional Dr. Ciptomangunkusumo (RSCM), menjelaskan bahwa serumen memiliki peran vital dalam menjaga kesehatan telinga, khususnya bagian liang telinga.
"Serumen sebetulnya bukan kotoran. Bahkan memiliki manfaat untuk menjaga kondisi liang telinga," ujar dr. Harim dalam sebuah webinar kesehatan di Jakarta, baru-baru ini.
Liang telinga merupakan rongga yang cukup panjang dan cenderung lembap. Kondisi ini menjadikannya tempat yang rentan bagi perkembangan kuman dan bakteri. Serumen hadir dengan sifat asam yang membantu menjaga keseimbangan lingkungan di liang telinga, sehingga pertumbuhan mikroorganisme jahat dapat ditekan.
Selain menjaga keasaman, serumen adalah produk dari kelenjar kulit yang mengandung imunoglobulin. Zat ini berperan sebagai antibakteri alami yang membantu melindungi telinga dari berbagai potensi infeksi.
Menurut dr. Harim, masyarakat tidak perlu terlalu sering membersihkan telinga jika kondisinya normal. Pembersihan baru benar-benar diperlukan jika jumlah serumen sudah mulai mengganggu fungsi pendengaran.
"Serumen perlu diangkat kalau sudah menutupi sekitar 30 persen diameter liang telinga. Kalau hanya tipis sebenarnya tidak perlu terlalu sering dibersihkan," jelasnya.
Kebiasaan menggunakan cotton bud atau alat lain untuk mengorek telinga justru dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Tindakan ini sering kali membuat liang telinga menjadi terlalu bersih, sehingga kehilangan perlindungan alami dari serumen.
Selain menghilangkan proteksi, penggunaan alat fisik di dalam telinga dapat menimbulkan beberapa risiko medis, antara lain:
Harim mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan tindakan invasif secara mandiri. Jika muncul keluhan seperti nyeri, gatal yang hebat, atau penurunan pendengaran, segera periksakan kondisi kesehatan telinga ke dokter THT untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat.
Jangan sepelekan gendang telinga berlubang! Dokter THT RSCM jelaskan risiko infeksi berulang terhadap gangguan pendengaran dan prosedur operasi Timpanoplasti untuk memperbaikinya.
Gangguan pendengaran konduktif bisa menyerang anak-anak hingga dewasa. Kenali penyebab seperti serumen & tuba eustachius serta cara penanganannya dari dokter THT.
Dokter THT sarankan aturan 60-60 saat pakai headphone untuk cegah gangguan pendengaran permanen. Batasi volume 60% dan durasi 60 menit. Simak selengkapnya!
Dokter RSCM ingatkan orang tua: gangguan bicara bisa jadi tanda gangguan pendengaran pada anak. Kenali gejala babbling dan solusi terapi AVT di sini.
Kemenkes ungkap data mengejutkan: 1,8% dari 18,6 juta orang alami gangguan telinga. Simak urgensi Hari Pendengaran Sedunia 2026 bagi tumbuh kembang anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved