Headline

Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.

Mengapa Kotoran Telinga tidak Boleh Sering Dibersihkan? Ini Kata Dokter THT RSCM

Putri Rosmalia Octaviyani
07/3/2026 19:40
Mengapa Kotoran Telinga tidak Boleh Sering Dibersihkan? Ini Kata Dokter THT RSCM
Ilustrasi dokter THT melakukan pemeriksaan kesehatan telinga pasien.(Dok. Antara)

BANYAK orang menganggap serumen atau kotoran telinga sebagai benda asing yang harus segera dibersihkan agar telinga tetap higienis. Namun, pakar kesehatan justru memperingatkan bahwa kebiasaan terlalu sering mengorek telinga dapat memicu risiko infeksi serius dan menghilangkan perlindungan alami tubuh. Serumen justru memiliki fungsi penting untuk menjaga kesehatan telinga dan mencegah gangguan pendengaran.

Fungsi Serumen sebagai Pelindung

Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok-Bedah Kepala Leher, Harim Priyono, menegaskan bahwa serumen bukanlah sekadar kotoran yang harus selalu dihilangkan. Harim, yang bertugas di RSUP Nasional Dr. Ciptomangunkusumo (RSCM), menjelaskan bahwa serumen memiliki peran vital dalam menjaga kesehatan telinga, khususnya bagian liang telinga.

"Serumen sebetulnya bukan kotoran. Bahkan memiliki manfaat untuk menjaga kondisi liang telinga," ujar dr. Harim dalam sebuah webinar kesehatan di Jakarta, baru-baru ini.

1. Menjaga Keseimbangan Asam

Liang telinga merupakan rongga yang cukup panjang dan cenderung lembap. Kondisi ini menjadikannya tempat yang rentan bagi perkembangan kuman dan bakteri. Serumen hadir dengan sifat asam yang membantu menjaga keseimbangan lingkungan di liang telinga, sehingga pertumbuhan mikroorganisme jahat dapat ditekan.

2. Mengandung Antibakteri (Imunoglobulin)

Selain menjaga keasaman, serumen adalah produk dari kelenjar kulit yang mengandung imunoglobulin. Zat ini berperan sebagai antibakteri alami yang membantu melindungi telinga dari berbagai potensi infeksi.

Kapan Telinga Harus Dibersihkan?

Menurut dr. Harim, masyarakat tidak perlu terlalu sering membersihkan telinga jika kondisinya normal. Pembersihan baru benar-benar diperlukan jika jumlah serumen sudah mulai mengganggu fungsi pendengaran.

"Serumen perlu diangkat kalau sudah menutupi sekitar 30 persen diameter liang telinga. Kalau hanya tipis sebenarnya tidak perlu terlalu sering dibersihkan," jelasnya.

Risiko Penggunaan Cotton Bud dan Alat Pengorek

Kebiasaan menggunakan cotton bud atau alat lain untuk mengorek telinga justru dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Tindakan ini sering kali membuat liang telinga menjadi terlalu bersih, sehingga kehilangan perlindungan alami dari serumen.

Selain menghilangkan proteksi, penggunaan alat fisik di dalam telinga dapat menimbulkan beberapa risiko medis, antara lain:

  • Luka Mikro: Menimbulkan luka kecil pada permukaan kulit liang telinga.
  • Infeksi: Luka tersebut memudahkan bakteri atau jamur masuk dan berkembang biak.
  • Gejala Klinis: Memicu infeksi telinga luar yang menyebabkan rasa nyeri, pembengkakan, hingga gangguan pendengaran sementara.

Harim mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan tindakan invasif secara mandiri. Jika muncul keluhan seperti nyeri, gatal yang hebat, atau penurunan pendengaran, segera periksakan kondisi kesehatan telinga ke dokter THT untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat.

(Ant/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya