Headline

Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.

Gangguan Pendengaran Konduktif: Gejala, Penyebab & Cara Mengobati

Putri Rosmalia Octaviyani
07/3/2026 20:07
Gangguan Pendengaran Konduktif: Gejala, Penyebab & Cara Mengobati
Ilustrasi pemeriksaan kesehatan telinga untuk mencegah gangguan pendengaran konduktif.(Dok. Freepik)

GANGGUAN pendengaran konduktif, yang berkaitan dengan proses hantaran suara di telinga, tidak melulu terjadi pada orang lanjut usia (lansia). Masalah kesehatan telingan ini bisa menyerang semua kalangan, termasuk anak-anak dan dewasa muda.

Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok-Bedah Kepala Leher (THT-BKL) RSUP Nasional Dr. Ciptomangunkusumo, Harim Priyono, menjelaskan bahwa gangguan pendengaran konduktif terjadi ketika gelombang suara terhambat sebelum mencapai organ pendengaran utama di telinga dalam.

Apa Itu Gangguan Pendengaran Konduktif?

"Gangguan pendengaran konduktif adalah gangguan yang disebabkan halangan rambatan gelombang suara untuk mencapai organ pendengaran yang disebut rumah siput atau koklea," ujar Harim dalam sebuah diskusi kesehatan di Jakarta.

Koklea memiliki fungsi krusial untuk mengubah getaran suara menjadi sinyal listrik yang kemudian diteruskan ke saraf pendengaran. Proses inilah yang membuat manusia dapat menangkap dan memahami berbagai jenis suara di sekitarnya. Namun, sebelum mencapai koklea, suara harus melewati jalur di telinga luar dan tengah tanpa hambatan.

Penyebab dan Gejala yang Sering Muncul

Secara anatomi, telinga terbagi menjadi tiga bagian: telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam. Gangguan pendengaran konduktif biasanya bersumber dari masalah pada bagian luar atau tengah.

Beberapa faktor gangguan pendengaran tersebut antara lain:

  • Penumpukan Serumen: Kotoran atau minyak telinga yang menyumbat liang telinga.
  • Infeksi: Peradangan pada liang telinga yang memicu pembengkakan.
  • Kelainan Bawaan: Masalah pada struktur anatomi telinga sejak lahir.
  • Gangguan Tuba Eustachius: Masalah pada saluran di telinga tengah yang sering menimbulkan sensasi telinga penuh atau tertekan, serupa dengan sensasi saat berada di dalam pesawat atau daerah pegunungan.

Harim menambahkan bahwa gangguan ini dapat terjadi secara bertahap maupun muncul secara tiba-tiba. Salah satu contoh kasus yang sering terjadi adalah penumpukan serumen yang menyerap air setelah mandi atau berenang. Kondisi tersebut membuat kotoran mengembang dan menutup liang telinga, sehingga pendengaran terasa berkurang secara mendadak.

Sebagian besar gangguan pendengaran tipe konduktif bersifat sementara dan dapat ditangani melalui pengobatan atau tindakan medis yang tepat oleh dokter spesialis THT.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika Anda atau anak Anda merasakan penurunan fungsi pendengaran, sensasi telinga tersumbat yang tidak kunjung hilang, atau nyeri pada bagian telinga, segera lakukan pemeriksaan. Penanganan dini dapat mencegah komplikasi lebih lanjut dan mengembalikan fungsi pendengaran secara optimal.

(Ant/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya