Headline
Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.
Kumpulan Berita DPR RI
KETERLAMBATAN bicara atau speech delay pada anak sering kali dianggap sebagai fase pertumbuhan biasa. Namun, pakar kesehatan mengingatkan bahwa gangguan bicara sejak dini bisa menjadi indikator kuat adanya masalah pendengaran yang serius, terutama bagi anak yang belum pernah menjalani skrining pendengaran saat lahir.
Dokter spesialis THT dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Kencana, Fikry Hamdan Yasin, menjelaskan bahwa perkembangan bicara sangat bergantung pada fungsi pendengaran yang optimal.
Menurut Fikry, orang tua harus jeli memperhatikan fase perkembangan suara anak. Salah satu tanda yang paling mudah dikenali adalah kemampuan mengoceh atau babbling.
"Biasanya pada anak-anak yang mengalami tuli atau gangguan telinga sejak lahir itu, perkembangan bicaranya terganggu juga. Misalkan pada usia 6-8 bulan itu dia belum bisa babbling atau ngoceh-ngoceh. Atau dia belum bisa berkata kata-kata yang mengulang seperti mama, papa," ujar Fikry dalam edukasi kesehatan melalui akun Instagram resmi RSCM Kencana.
Kaitan ini terjadi karena pendengaran merupakan indra utama yang mendukung kemampuan anak untuk menangkap informasi suara sebelum akhirnya mampu memproduksi bahasa lisan dalam tumbuh kembangnya.
Meski demikian, Fikry menegaskan bahwa tidak semua kasus gangguan bicara berarti anak mengalami gangguan pendengaran. Ada kondisi di mana anak memiliki pendengaran normal namun tetap mengalami hambatan bicara akibat faktor lingkungan.
Beberapa faktor pemicu tersebut antara lain:
Oleh karena itu, pemeriksaan menyeluruh oleh tenaga medis sangat diperlukan untuk menentukan apakah penyebabnya adalah masalah sensorik (pendengaran) atau masalah stimulasi lingkungan.
Jika diagnosis menunjukkan adanya gangguan pendengaran, salah satu metode rehabilitasi yang efektif adalah Auditory Verbal Therapy (AVT).
Terapi ini merupakan bentuk intervensi dini yang dirancang khusus untuk membantu anak-anak dengan gangguan pendengaran agar dapat mengembangkan kemampuan mendengar dan berkomunikasi menggunakan bahasa lisan.
Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tantangan penanganan gangguan pendengaran masih sangat besar:
Penanganan yang cepat dan ketersediaan peralatan serta obat-obatan yang didukung oleh tenaga kesehatan terlatih menjadi kunci utama dalam menekan angka gangguan pendengaran pada anak di masa depan. (Z-10)
Biasanya kalau di tempat ramai, dia (lansia) itu sudah merasa enggak bisa (mendengar). Itu disebut sebagai cocktail party deafness.
Jangan sepelekan gendang telinga berlubang! Dokter THT RSCM jelaskan risiko infeksi berulang terhadap gangguan pendengaran dan prosedur operasi Timpanoplasti untuk memperbaikinya.
Gangguan pendengaran konduktif bisa menyerang anak-anak hingga dewasa. Kenali penyebab seperti serumen & tuba eustachius serta cara penanganannya dari dokter THT.
Dokter THT RSUP Nasional Dr. Ciptomangunkusumo menjelaskan fungsi penting serumen (kotoran telinga) sebagai pelindung alami dari infeksi bakteri.
Dokter THT sarankan aturan 60-60 saat pakai headphone untuk cegah gangguan pendengaran permanen. Batasi volume 60% dan durasi 60 menit. Simak selengkapnya!
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved