Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Ramadan dan Ujian Kepekaan Kita

Ahmad Tholabi Kharlie Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
04/3/2026 05:15
Ramadan dan Ujian Kepekaan Kita
(Dok.UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

RAMADAN selalu datang dengan misi yang sama: jeda dari hiruk-pikuk kehidupan, kesempatan menata ulang batin, dan panggilan untuk memurnikan relasi manusia dengan Tuhan dan sesamanya. Namun, pengalaman sosial kita menunjukkan pertumbuhan kesalehan tidak selalu diikuti pertumbuhan kepekaan terhadap penderitaan yang berlangsung di sekitar kita.

Puasa membentuk pengalaman kesadaran yang khas. Tubuh merasakan batas, perhatian menjadi lebih peka, dan realitas kebutuhan manusia tampil lebih nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman lapar dalam puasa membuka perhatian pada kenyataan bahwa kelaparan merupakan bagian dari keseharian jutaan orang.

Pengalaman menahan diri menghadirkan disiplin terhadap dorongan konsumtif dan memperlihatkan bagaimana ego sosial beroperasi pada tingkat kolektif melalui sistem ekonomi, kebijakan publik, dan struktur sosial.

 

SPIRITUALITAS DAN KETIMPANGAN

Ramadan tahun ini berlangsung dalam dinamika sosial yang relatif familier bagi masyarakat Indonesia. Menjelang bulan puasa, pola konsumsi meningkat, harga sejumlah kebutuhan pangan cenderung menyesuaikan, dan pengeluaran rumah tangga bertambah karena kebutuhan musiman, mulai persiapan ibadah hingga tradisi sosial keluarga.

Bagi sebagian kelompok berpenghasilan tetap, perubahan itu dapat dikelola sebagai ritme tahunan. Namun, bagi pekerja dengan pendapatan tidak stabil, penyesuaian musiman tersebut sering kali menuntut pengaturan ulang prioritas pengeluaran sehari-hari.

Dalam situasi seperti itu, pengalaman Ramadan terbentuk melalui kesiapan spiritual sekaligus kemampuan ekonomi rumah tangga dalam menyesuaikan diri dengan siklus sosial tahunan.

Di ruang digital, solidaritas tampak melimpah dalam bentuk slogan, kampanye, dan ekspresi simbolis. Namun, di ruang nyata, tidak semua orang memiliki kemewahan untuk menyambut Ramadan dengan ketenangan yang sama. Ada yang menahan lapar sebagai ibadah, tetapi ada pula yang menahan lapar sebagai keterpaksaan struktural.

Di sinilah Ramadan menjadi cermin yang memperlihatkan kesalehan personal sekaligus kualitas keadilan sosial yang kita bangun bersama.

Dalam khazanah pemikiran Islam klasik, puasa tidak pernah dipahami semata sebagai praktik asketis individual. Imam al-Ghazali (w 1111 M) menegaskan lapar yang disengaja seharusnya menumbuhkan kesadaran terhadap lapar yang tak terhindarkan. Puasa ialah pendidikan empati sosial, dan empati, jika sungguh bekerja, selalu menuntut perubahan cara hidup bersama.

Pertanyaan mendasar yang kerap muncul ialah apakah pengalaman Ramadan benar-benar memperluas solidaritas sosial, atau hanya kian memperkuat ritualitas simbolis tanpa transformasi struktural?

Kerentanan sosial di Indonesia sejatinya bukan sekadar fenomena individual. Ia produk struktur. Pekerja harian tanpa jaminan, keluarga urban dengan daya tahan ekonomi tipis, masyarakat pesisir yang terdampak oleh perubahan iklim, serta kelompok marginal yang hidup dalam ketidakpastian kronis merupakan bagian arsitektur sosial kita.

Urbanisasi cepat menciptakan konsentrasi kerentanan baru. Ekonomi digital membuka peluang sekaligus memperlebar ketidakpastian kerja. Perubahan iklim menekan sistem pangan. Semuanya berkelindan.

Ekonom Amartya Sen (1999) menempatkan pembangunan sebagai proses perluasan kebebasan manusia untuk hidup bermartabat. Dalam kerangka itu, ketimpangan dipahami sebagai kondisi yang membatasi ruang hidup, pilihan, dan kemampuan manusia menjalani kehidupannya secara layak.

Ramadan, dalam kerangka itu, hadir sebagai momentum spiritual sekaligus proses pembentukan kesadaran sosial yang mengarahkan perhatian ke struktur yang melanggengkan kerentanan.

Dalam konteks global, persoalan itu terlihat semakin nyata. Krisis iklim, konflik geopolitik, dan disrupsi ekonomi dunia menunjukkan kerentanan sebagai bagian dari dinamika sistemik. Keterhubungan ekonomi meningkat dan perkembangan solidaritas moral berlangsung dalam dinamika yang berbeda.

Puasa sejatinya mengajarkan keterhubungan manusia. Namun, sistem global sering memperlihatkan keterputusan tanggung jawab. Karena itu, Ramadan menantang kita membaca realitas bukan hanya sebagai fakta ekonomi, melainkan juga sebagai persoalan moral dan peradaban.

 

TANGGUNG JAWAB SOSIAL

Ramadan hadir sebagai peristiwa keagamaan dengan konsekuensi sosial dalam pengelolaan kehidupan bersama. Stabilitas harga pangan, perlindungan pekerja informal, akses layanan kesehatan, dan distribusi bantuan sosial merupakan bagian dari tata kelola publik yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat. Seluruhnya menyangkut martabat manusia yang menjalani kehidupan spiritual dalam kondisi material yang tidak setara.

Dalam kerangka maqashid al-syari‘ah, tujuan hukum Islam ialah menjaga kehidupan, akal, harta, dan martabat manusia. Struktur sosial yang memungkinkan kemiskinan sistemis berarti gagal melindungi kehidupan. Ketimpangan ekstrem merusak martabat. Ketidakamanan ekonomi melemahkan kemampuan manusia menggunakan akal dan potensi secara optimal.

Dengan kata lain, ketidakadilan sosial mencerminkan persoalan ekonomi sekaligus persoalan etika kolektif dalam kehidupan bersama.

Memberikan bantuan sesaat ialah tindakan mulia. Namun, maqashid menuntut perlindungan struktural. Solidaritas tidak cukup bersifat karitatif. Ia harus dilembagakan dalam sistem distribusi, perlindungan sosial, dan tata kelola ekonomi yang berkeadilan.

Hans Jonas (1979) menyebutnya sebagai imperatif tanggung jawab, yakni kewajiban moral untuk memastikan tindakan sosial dan kebijakan publik menjaga keberlanjutan kehidupan manusia. Dalam perspektif itu, kebijakan publik dinilai melalui efisiensi teknokratis dan tanggung jawab etis terhadap kelompok rentan.

Fazlur Rahman (1982) menegaskan Islam bertujuan membentuk masyarakat bermoral, bukan sekadar individu saleh. Moralitas sosial itu teruji dalam cara negara mengelola kesejahteraan, dalam cara pasar membentuk distribusi peluang, dan dalam cara masyarakat merespons penderitaan.

Kenaikan harga pangan berdampak langsung pada penurunan kualitas hidup masyarakat. Ketidaktepatan sasaran perlindungan sosial berimplikasi pada tergerusnya martabat manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Ramadan mendidik kepekaan terhadap pengalaman konkret seperti itu. Ia mengajarkan setiap keputusan sosial memiliki konsekuensi moral.

Puasa menghadirkan proses pembelajaran kolektif yang menumbuhkan kepekaan sosial dalam kehidupan bersama. Kesalehan berkembang melalui praktik ibadah personal dan tecermin pada pembentukan struktur sosial yang adil.

Menyambut Ramadan berarti menyambut tanggung jawab untuk melihat lebih jernih, merasakan lebih dalam, dan bertindak lebih adil. Ia mengundang kita meninjau kembali prioritas, apakah sistem yang kita bangun telah memuliakan manusia, atau justru menormalisasi ketimpangan?

Dalam dunia yang bergerak cepat dan sering kehilangan kesabaran, puasa mengajarkan jeda. Dalam masyarakat yang mudah terbiasa dengan ketimpangan, puasa mengajarkan kepekaan. Dalam kehidupan publik yang kerap terjebak pada efisiensi teknis, puasa mengingatkan pentingnya makna moral.

Di tengah krisis global, perubahan sosial yang cepat, dan tekanan ekonomi berlapis, refleksi Ramadan hadir sebagai kebutuhan spiritual sekaligus kebutuhan peradaban.

Tampaknya itulah pesan terdalam puasa, bahwa kelaparan yang kita rasakan sejenak ialah panggilan untuk menghapus kelaparan yang dialami orang lain sepanjang waktu. Bahwa menahan diri ialah cara belajar memberikan ruang bagi sesama.

Bahwa spiritualitas sejati tidak menjauh dari dunia, tetapi memperhalus cara kita merawatnya.

Jika Ramadan hanya mengubah jadwal makan kita, ia belum sepenuhnya mengubah kesadaran kita. Namun, jika Ramadan membuat kita lebih peka terhadap penderitaan, lebih adil dalam kebijakan, dan lebih empatik dalam kehidupan sosial, ia benar-benar menjadi ibadah yang memuliakan manusia.

Di situlah makna terdalam menyambut Ramadan, yakni bulan suci sebagai jalan menuju terbentuknya masyarakat yang lebih manusiawi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya