Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
RENCANA pemerintah memberlakukan kegiatan pembelajaran daring seperti di masa pandemi covid-19 dipastikan batal. Kekhawatiran akan menimbulkan learning loss menyebabkan rencana awal memberlakukan kegiatan pembelajaran daring tidak jadi diberlakukan. Bahkan, meski ada usulan kegiatan pembelajaran dilakukan secara hybrid, yang mengombinasikan luring dan daring, ternyata dikhawatirkan dampaknya tetap berpotensi menurunkan kualitas pembelajaran yang dilaksanakan. Karena itulah, dipastikan ke depan kegiatan pembelajaran akan tetap dilakukan secara tatap muka (offline).
SEJUMLAH RISIKO
Belajar dari pengalaman, objektif harus diakui bahwa sekolah daring adalah proses pembelajaran yang menyebabkan lahir generasi covid-19. Mereka adalah anak muda dalam rentang usia yang masih sekolah dan kuliah, tetapi mengalami degradasi mutu pendidikan karena kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan secara daring.
Ketika masa pandemi covid-19, memang sekolah daring adalah solusi darurat yang terpaksa dipilih karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan dilaksanakan pembelajaran secara luring. Dari satu sisi, pembelajaran secara daring memang mampu mencegah risiko penularan covid-19, dan saat ini mungkin benar bahwa pembelajaran daring akan dapat menghemat konsumsi BBM di masyarakat. Akan tetapi, di sisi yang lain, kita tentu tidak dapat menutup mata dari risiko yang mungkin timbul ketika proses pembelajaran dilakukan di rumah masing-masing melalui Zoom atau kontak-kontak online.
Berbagai studi yang dilakukan Atsani (2020) dan Julaeha & Nurdeni (2024) yang mengidentifikasi dampak negatif pembelajaran daring, mulai dari penurunan kualitas belajar, kesenjangan akses internet, hingga masalah mental siswa, menunjukkan bahwa sekolah daring lebih banyak menimbulkan kerugian daripada manfaat. Pembelajaran tatap muka tidak dapat digantikan oleh layar digital. Secara lebih rinci, ada sejumlah risiko yang sangat mungkin harus kita tanggung jika pembelajaran dilakukan secara daring atau hybrid.
Pertama, risiko terjadinya penurunan kualitas atau mutu pembelajaran. Pemahaman materi yang diajarkan sering kali tidak tuntas karena tidak adanya pertemuan sosial antara guru dan murid. Tanpa interaksi langsung dengan guru, siswa umumnya kesulitan memahami konsep-konsep yang kompleks. Dengan belajar secara daring, beban belajar yang tinggi ternyata tidak sebanding dengan pemahaman yang didapat siswa.
Dengan belajar hanya via Zoom, maka tidak sekali-dua kali guru mengalami kesulitan untuk dapat melakukan pengawasan, dan siswa sering kali hanya hadir secara fisik tanpa benar-benar belajar. Siswa yang belajar di rumah melalui Zoom tidak bisa dikontrol konsentrasinya karena perhatian mereka acap kali terpecah dengan kondisi rumah yang tidak nyaman, ramai, dan sebagainya. Hal ini menyebabkan learning loss atau hilangnya kemampuan akademik, di mana banyak siswa, terutama di jenjang dasar, tertinggal jauh dalam kemampuan dasar seperti membaca dan berhitung.
Kedua, risiko makin memperparah kesenjangan antarkelas karena adanya kesenjangan digital antarsiswa. Selama ini sudah bukan rahasia lagi bahwa antara siswa satu dan siswa yang lain, mereka umumnya mengalami kesenjangan dalam menyerap dan mengikuti kegiatan pembelajaran daring karena perbedaan kepemilikan gadget.
Pembelajaran yang dilakukan secara daring selama masa pandemi covid-19 sering kali justru mengungkap persoalan ketimpangan sosial yang nyata di Indonesia. Di berbagai daerah, tidak semua siswa memiliki akses internet yang stabil atau perangkat digital yang memadai. Sementara beberapa anak mampu mengikuti kelas dengan lancar, banyak lainnya—terutama di daerah terpencil atau keluarga kurang mampu—terpaksa tertinggal karena tidak mampu berlangganan jaringan wifi yang layak.
Kesenjangan kelas dalam kegiatan pembelajaran daring justru menciptakan dan makin memperkuat ketidakadilan pendidikan yang sifatnya struktural. Kondisi di berbagai daerah menunjukkan kendala teknis dan biaya kuota internet yang ditanggung sendiri oleh orangtua menjadi beban tambahan tersendiri yang tidak ringan.
Jangan dibayangkan kekuatan ekonomi orangtua siswa sama, karena dalam kenyataan masyarakat sering kali terbelah dalam kelas-kelas sosial-ekonomi yang terpolarisasi, dan itu menyebabkan kemampuan mereka terlibat dalam pembelajaran daring menjadi tidak sama.
Ketiga, risiko pendidikan karakter menjadi terabaikan. Secara objektif harus diakui bahwa sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu secara akademik, tetapi juga merupakan habitat di mana para siswa bersosialisasi dan membentuk karakter sosialnya. Isolasi sosial yang dialami siswa ketika kegiatan pembelajaran daring diberlakukan bukan hanya menyebabkan pendidikan karakter terganggu, tetapi juga akan berisiko menyebabkan peningkatan gangguan kecemasan, risiko depresi, dan penurunan motivasi belajar. Anak-anak kehilangan kesempatan berinteraksi, bermain, dan membangun keterampilan sosial dengan teman sebayanya. Dampaknya ialah generasi yang lebih rentan terhadap stres dan kecanduan gadget.
Berbeda dengan pembelajaran luring, di mana guru dapat lebih interaktif mengajarkan soal disiplin, sopan santun, dan nilai-nilai sosial. Ketika siswa mengikuti sekolah daring amat mungkin akan membuat pendidikan karakter hampir mustahil dilakukan. Dalam pembelajaran daring, fokus siswa sering kali hanya pada pengerjaan tugas dari guru, bukan pada proses pembentukan karakter anak. Guru tidak sekali-dua kali kehilangan wibawa ketika hubungan mereka dengan siswa berjarak. Dalam relasi yang sifatnya daring, risiko siswa menjadi kurang hormat kepada guru-gurunya menjadi lebih terbuka.
Pengalaman telah banyak menunjukkan bahwa perilaku cyberbullying umumnya cenderung meningkat seiring dengan tingginya penggunaan gadget oleh anak-anak. Anak-anak juga berisiko terkontaminsi cyberporn
ketika mereka makin intens terlibat dalam penggunaan gadget. Alih-alih siswa berkonsentrasi belajar secara akademik, ketika pembelajaran daring diberlakukan, siswa kerapkali justru tergoda untuk mengakes informasi yang negatif, dan juga memanfaatkan gadget untuk melakukan perundungan pada teman-temannya.
Memindahkan proses pembelajaran dari kelas ke ruang digital, diakui atau tidak, bukanlah solusi jangka panjang yang efektif. Pengalaman selama masa pandemi covid-19 telah banyak memperlihatkan bahwa ketimpangan akses internet, perbedaan kualitas gawai, kemampuan pendampingan orangtua yang kurang, dan ketidakdisiplinan generasi Z dalam belajar, semua terakumulasi menyebabkan sekolah daring lebih banyak melahirkan pertanyaan daripada sebagai solusi.
Keputusan pemerintah membatalkan rencana sekolah daring untuk melindungi masa depan pendidikan dan kesehatan mental anak adalah hal yang sudah seharusnya dilakukan. Dalam mempertahankan kualitas pembelajaran yang kuat, yang dibutuhkan pada dasarnya ialah lingkungan belajar yang interaktif dan suportif. Sekolah daring, jika hal itu dilakukan, konsekuensinya bukan tidak mungkin kita akan kehilangan dan mengorbankan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.
Wakil Ketua Komisi X DPR, MY Esti Wijayanti, menolak keras wacana sekolah daring untuk penghematan BBM. Ingatkan dampak buruk 'learning loss' dan penurunan karakter siswa.
Lurah Jimbaran, I Wayan Kardiyasa mengatakan di wilayahnya ada tiga rumah warga yang masih tergenang air hujan selain juga halaman sekolah TK Kumara Sari.
PEMERINTAH Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, menerapkan kebijakan sekolah jarak jauh atau belajar online menyusul kondisi banjir yang masih melanda sebagian wilayah tersebut.
Dokter mengingatkan orang tua untuk melengkapi imunisasi anak minimal dua pekan sebelum mudik Lebaran.
Memahami perbedaan mendasar antara Super Flu, Influenza, dan Covid-19 bukan hanya soal ketenangan pikiran, tetapi juga tentang ketepatan penanganan medis untuk mencegah komplikasi serius.
GURU Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Dominicus Husada, menilai penularan virus Nipah tidak sebesar kasus covid-19 yang menjadi pandemi.
Secara sederhana, zoonosis adalah penyakit infeksi yang ditularkan dari hewan vertebrata ke manusia.
Ia menjelaskan, salah satu langkah pencegahan yang dilakukan adalah melakukan vaksinasi untuk kepada masyarakat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved