Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Mengenal Penyakit Zoonosis: Pelajaran dari COVID-19 dan Ancaman Virus Nipah 2026

Cahya Mulyana
27/1/2026 17:39
Mengenal Penyakit Zoonosis: Pelajaran dari COVID-19 dan Ancaman Virus Nipah 2026
ilustrasi(MI)

DALAM satu dekade terakhir, dunia kesehatan global diguncang oleh serangkaian wabah yang memiliki satu benang merah: semuanya bermula dari hewan. Fenomena ini dikenal sebagai Zoonosis. Mulai dari pandemi COVID-19 yang mengubah tatanan dunia, hingga kekhawatiran terbaru di tahun 2026 mengenai re-emergensi Virus Nipah di Asia Selatan, penyakit zoonosis kini menjadi ancaman keamanan kesehatan terbesar bagi umat manusia.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa sekitar 75% penyakit infeksi baru (emerging infectious diseases) pada manusia adalah zoonosis. Mengapa ini terjadi? Dan bagaimana kita membedakan karakteristik dua "raksasa" zoonosis saat ini: COVID-19 dan Virus Nipah?

Apa Itu Penyakit Zoonosis?

Secara sederhana, zoonosis adalah penyakit infeksi yang ditularkan dari hewan vertebrata ke manusia. Penularan ini bisa disebabkan oleh virus, bakteri, parasit, atau jamur. Namun, dalam konteks pandemi modern, viruslah yang paling sering menjadi sorotan.

Proses perpindahan patogen ini disebut spillover. Biasanya, virus hidup damai di dalam tubuh inang alami (reservoir) seperti kelelawar tanpa menyebabkan sakit. Namun, ketika terjadi interaksi yang tidak wajar—akibat perusakan hutan, perdagangan satwa liar, atau perubahan iklim—virus tersebut mencari inang baru: manusia.

Dua Wajah Zoonosis: COVID-19 vs Virus Nipah

Meskipun sama-sama berasal dari hewan (diduga kuat dari kelelawar), COVID-19 dan Virus Nipah merepresentasikan dua spektrum ancaman yang berbeda di tahun 2026. Memahami perbedaan keduanya adalah kunci kesiapsiagaan kita.

1. COVID-19: Sang Penular Cepat

COVID-19, yang disebabkan oleh SARS-CoV-2, adalah contoh zoonosis yang berevolusi menjadi sangat efisien dalam menular antarmanusia.

  • Inang: Kelelawar (kemungkinan melalui inang perantara seperti trenggiling).
  • Karakteristik: Menyebar lewat udara (airborne/droplet). Sangat mudah menular, namun tingkat kematiannya (Case Fatality Rate) relatif rendah, terutama setelah era vaksinasi.
  • Pelajaran: Zoonosis tipe ini berbahaya karena kemampuannya melumpuhkan sistem kesehatan dan ekonomi lewat jumlah kasus yang masif dalam waktu singkat.

2. Virus Nipah: Sang Pembunuh Senyap

Berbeda dengan COVID-19, Virus Nipah (NiV) di tahun 2026 masih menjadi momok karena tingkat fatalitasnya, bukan kecepatan penularannya.

  • Inang: Kelelawar buah (Pteropus). Penularan bisa langsung lewat buah terkontaminasi air liur kelelawar, atau melalui babi.
  • Karakteristik: Penularan antarmanusia lebih sulit (butuh kontak erat cairan tubuh), namun tingkat kematiannya sangat tinggi (40-75%).
  • Pelajaran: Zoonosis tipe ini berbahaya bagi individu yang terinfeksi dan tenaga medis, membutuhkan penanganan isolasi level tinggi (BSL-4).

Tabel Komparasi Medis: Nipah vs COVID-19

Berikut adalah perbandingan karakteristik kedua penyakit zoonosis ini berdasarkan data medis tahun 2026:

Fitur Pembeda COVID-19 (SARS-CoV-2) Virus Nipah (NiV)
Sumber Hewan (Reservoir) Kelelawar (via inang perantara) Kelelawar Buah (Fruit Bats) & Babi
Organ Target Utama Paru-paru & Saluran Pernapasan Otak (Ensefalitis) & Pernapasan
Mode Transmisi Utama Udara (Aerosol/Droplet) Kontak Cairan Tubuh & Makanan (Nira/Buah)
Potensi Pandemi Global Sangat Tinggi (Terbukti) Sedang (Rawan Wabah Lokal)
Tingkat Kematian (CFR) < 1% (Endemis 2026) 40% - 75%

Mengapa Zoonosis Semakin Sering Terjadi?

Para ahli ekologi penyakit menyebutkan bahwa kita sedang berada di "Era Pandemi". Faktor pendorong utamanya adalah aktivitas manusia itu sendiri:

  1. Deforestasi: Membuka hutan memaksa hewan liar (seperti kelelawar) mendekat ke pemukiman manusia untuk mencari makan.
  2. Perdagangan Satwa Liar: Pasar basah yang mempertemukan berbagai spesies hewan liar dalam kondisi stres menciptakan "laboratorium alam" bagi virus untuk bermutasi dan melompat spesies.
  3. Perubahan Iklim: Pergeseran suhu bumi mengubah pola migrasi hewan pembawa penyakit.

Pendekatan One Health: Solusi Masa Depan

Menghadapi ancaman zoonosis di tahun 2026 tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan manusia (dokter dan rumah sakit). Diperlukan pendekatan One Health, yaitu kolaborasi terpadu antara:

  • Kesehatan Manusia: Surveilans penyakit dan pengembangan vaksin.
  • Kesehatan Hewan: Memantau kesehatan ternak dan satwa liar (dokter hewan).
  • Kesehatan Lingkungan: Menjaga kelestarian habitat hutan agar hewan liar tidak masuk ke ranah manusia.

Langkah Pencegahan untuk Masyarakat

Sebagai individu, kita dapat memutus rantai zoonosis dengan langkah sederhana namun krusial:

  • Hindari kontak langsung dengan satwa liar, terutama kelelawar dan monyet.
  • Jangan mengonsumsi daging hewan liar (bushmeat).
  • Cuci buah-buahan dengan bersih dan kupas kulitnya sebelum dimakan.
  • Pastikan produk hewani (daging, susu, nira) dimasak hingga matang sempurna.
  • Jaga kebersihan diri setelah berkunjung ke pasar hewan atau kebun binatang.

Zoonosis adalah pengingat keras bahwa kesehatan manusia sangat bergantung pada kesehatan hewan dan lingkungan. Dengan memahami karakteristik Virus Nipah dan belajar dari sejarah COVID-19, kita dapat membangun kewaspadaan yang rasional tanpa terjebak kepanikan.

(Cah/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya