Headline
Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.
Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM satu dekade terakhir, dunia kesehatan global diguncang oleh serangkaian wabah yang memiliki satu benang merah: semuanya bermula dari hewan. Fenomena ini dikenal sebagai Zoonosis. Mulai dari pandemi COVID-19 yang mengubah tatanan dunia, hingga kekhawatiran terbaru di tahun 2026 mengenai re-emergensi Virus Nipah di Asia Selatan, penyakit zoonosis kini menjadi ancaman keamanan kesehatan terbesar bagi umat manusia.
Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa sekitar 75% penyakit infeksi baru (emerging infectious diseases) pada manusia adalah zoonosis. Mengapa ini terjadi? Dan bagaimana kita membedakan karakteristik dua "raksasa" zoonosis saat ini: COVID-19 dan Virus Nipah?
Secara sederhana, zoonosis adalah penyakit infeksi yang ditularkan dari hewan vertebrata ke manusia. Penularan ini bisa disebabkan oleh virus, bakteri, parasit, atau jamur. Namun, dalam konteks pandemi modern, viruslah yang paling sering menjadi sorotan.
Proses perpindahan patogen ini disebut spillover. Biasanya, virus hidup damai di dalam tubuh inang alami (reservoir) seperti kelelawar tanpa menyebabkan sakit. Namun, ketika terjadi interaksi yang tidak wajar—akibat perusakan hutan, perdagangan satwa liar, atau perubahan iklim—virus tersebut mencari inang baru: manusia.
Meskipun sama-sama berasal dari hewan (diduga kuat dari kelelawar), COVID-19 dan Virus Nipah merepresentasikan dua spektrum ancaman yang berbeda di tahun 2026. Memahami perbedaan keduanya adalah kunci kesiapsiagaan kita.
COVID-19, yang disebabkan oleh SARS-CoV-2, adalah contoh zoonosis yang berevolusi menjadi sangat efisien dalam menular antarmanusia.
Berbeda dengan COVID-19, Virus Nipah (NiV) di tahun 2026 masih menjadi momok karena tingkat fatalitasnya, bukan kecepatan penularannya.
Berikut adalah perbandingan karakteristik kedua penyakit zoonosis ini berdasarkan data medis tahun 2026:
| Fitur Pembeda | COVID-19 (SARS-CoV-2) | Virus Nipah (NiV) |
|---|---|---|
| Sumber Hewan (Reservoir) | Kelelawar (via inang perantara) | Kelelawar Buah (Fruit Bats) & Babi |
| Organ Target Utama | Paru-paru & Saluran Pernapasan | Otak (Ensefalitis) & Pernapasan |
| Mode Transmisi Utama | Udara (Aerosol/Droplet) | Kontak Cairan Tubuh & Makanan (Nira/Buah) |
| Potensi Pandemi Global | Sangat Tinggi (Terbukti) | Sedang (Rawan Wabah Lokal) |
| Tingkat Kematian (CFR) | < 1% (Endemis 2026) | 40% - 75% |
Para ahli ekologi penyakit menyebutkan bahwa kita sedang berada di "Era Pandemi". Faktor pendorong utamanya adalah aktivitas manusia itu sendiri:
Menghadapi ancaman zoonosis di tahun 2026 tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan manusia (dokter dan rumah sakit). Diperlukan pendekatan One Health, yaitu kolaborasi terpadu antara:
Sebagai individu, kita dapat memutus rantai zoonosis dengan langkah sederhana namun krusial:
Zoonosis adalah pengingat keras bahwa kesehatan manusia sangat bergantung pada kesehatan hewan dan lingkungan. Dengan memahami karakteristik Virus Nipah dan belajar dari sejarah COVID-19, kita dapat membangun kewaspadaan yang rasional tanpa terjebak kepanikan.
(Cah/P-3)
Virus Nipah adalah virus zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia. Selain melalui kontak langsung dengan hewan, virus ini juga dapat menyebar melalui makanan yang terkontaminasi.
VIRUS Nipah kini semakin santer dibicarakan di masyarakat global, menyusul munculnya wabah di beberapa negara seperti India dan Banglades. Lalu bagaimana asal mula munculnya nama Nipah?
HINGGA Februari 2026, belum ada kasus positif infeksi virus Nipah di Indonesia.
Institut Nasional Kebersihan dan Epidemiologi (NIHE) Vietnam telah mengambil langkah proaktif untuk memperkuat strategi pencegahan dan pengendalian penyakit menjelang perayaan Imlek.
Keempat penyakit tersebut adalah Avian Influenza (flu burung), Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-CoV), Super Flu, dan infeksi virus Nipah.
Virus Nipah dapat ditularkan melalui hewan, salah satunya kelelawar, yang kerap mengonsumsi buah-buahan di alam terbuka.
Memahami perbedaan mendasar antara Super Flu, Influenza, dan Covid-19 bukan hanya soal ketenangan pikiran, tetapi juga tentang ketepatan penanganan medis untuk mencegah komplikasi serius.
GURU Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Dominicus Husada, menilai penularan virus Nipah tidak sebesar kasus covid-19 yang menjadi pandemi.
Ia menjelaskan, salah satu langkah pencegahan yang dilakukan adalah melakukan vaksinasi untuk kepada masyarakat.
Bencana banjir di Sumatra memicu kritik terhadap respons pemerintah. Sosok almarhum Achmad Yurianto kembali dikenang atas perannya sebagai juru bicara pemerintah saat pandemi Covid-19.
Termometer perlu disterilisasi untuk membunuh kuman dan bakteri jika digunakan pada banyak orang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved