Headline

Membicarakan seputar Ramadan sampai dinamika geopolitik.

BRIN Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Ancaman Virus Nipah

Atalya Puspa    
06/3/2026 08:34
BRIN Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Ancaman Virus Nipah
Ilustrasi(Dok Freepik)

BADAN Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor guna meningkatkan kesiapsiagaan Indonesia menghadapi potensi ancaman virus Nipah. Upaya tersebut dibahas dalam forum strategis bertajuk Cross-sector Collaboration in Strengthening National Preparedness for Nipah Virus Prevention in Indonesia. 

Forum yang mempertemukan unsur pemerintah, peneliti, akademisi, organisasi internasional, dan berbagai pemangku kepentingan itu menyoroti pentingnya pendekatan terpadu dalam mencegah potensi kemunculan virus zoonotik dengan tingkat fatalitas tinggi tersebut.

Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Prof. NLP Indi Dharmayanti, menjelaskan virus Nipah memiliki tingkat fatalitas sekitar 40–70 persen pada berbagai wabah yang terjadi di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Virus ini diketahui memiliki reservoir alami pada kelelawar buah dari genus Pteropus yang juga tersebar di Indonesia.

“Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas yang perlu dikelola dengan pendekatan ilmiah dan kehati-hatian. Oleh karena itu, antisipasi virus Nipah tidak dapat dilakukan oleh satu sektor saja, melainkan memerlukan pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan,” ujar Indi dalam keterangan resmi, Kamis (5/3). 

Menurutnya, berbagai faktor seperti peningkatan mobilitas penduduk, arus perdagangan ternak, perubahan tata guna lahan, hingga urbanisasi dapat memperbesar peluang interaksi manusia dengan satwa liar. Kondisi tersebut berpotensi memicu penularan penyakit zoonosis dari hewan ke manusia.

Karena itu, BRIN menilai perlu adanya penguatan surveilans terpadu berbasis risiko, peningkatan kapasitas laboratorium rujukan, pengawasan lalu lintas hewan dan produk hewan, serta penerapan biosekuriti yang lebih ketat pada sektor peternakan.

Kepala Pusat Riset Veteriner BRIN Harimurti Nuradji menambahkan bahwa hingga kini Indonesia belum melaporkan kasus konfirmasi virus Nipah. Namun, dinamika interaksi manusia, hewan, dan lingkungan menuntut adanya langkah antisipatif yang lebih kuat.

“Melalui forum ini kami berharap dapat mengidentifikasi potensi risiko penularan virus Nipah di Indonesia, menilai kesiapan sistem surveilans dan respons lintas sektor, serta merumuskan rekomendasi strategis yang konkret dan aplikatif,” kata Harimurti.

Dalam sesi ilmiah, sejumlah narasumber dari dalam dan luar negeri memaparkan perkembangan terbaru terkait epidemiologi virus Nipah, penguatan surveilans, serta peningkatan kapasitas laboratorium. Andrew Breed dari Department of Agriculture, Fisheries and Forestry Australia membagikan pengalaman internasional dalam memperkuat sistem surveilans dan biosekuriti.

Sementara itu, Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan Sumarjaya memaparkan kesiapan sistem surveilans nasional serta penguatan karantina kesehatan sebagai bagian dari mitigasi risiko lintas wilayah.

Dari sisi riset veteriner, Indrawati Sendow menekankan pentingnya pemantauan reservoir satwa liar dan hewan domestik di wilayah berisiko tinggi sebagai bagian dari upaya deteksi dini. Adapun Arif Mulyono dari Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN menyoroti pentingnya komunikasi risiko dan edukasi publik untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat.

Selain itu, Sabar Pambudi dari Pusat Riset Vaksin dan Obat BRIN menjelaskan potensi pengembangan vaksin, terapi, dan obat sebagai strategi jangka panjang dalam menghadapi ancaman virus Nipah dan penyakit zoonosis lainnya.

Forum tersebut juga melibatkan Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Kementerian Pertanian, serta Kementerian Kesehatan sebagai pembahas. Diskusi menghasilkan berbagai masukan strategis untuk memperkuat koordinasi lintas sektor, berbagi data epidemiologi, serta menyusun langkah antisipatif yang aplikatif dan berkelanjutan.

Melalui kolaborasi lintas sektor tersebut, BRIN menegaskan peran penting riset veteriner dan kesehatan dalam mendukung kebijakan berbasis bukti serta memperkuat sistem perlindungan kesehatan nasional. Forum ini diharapkan menjadi landasan penguatan kesiapsiagaan Indonesia menghadapi ancaman virus Nipah dan penyakit zoonosis baru lainnya secara terintegrasi dan berkelanjutan. (E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya